Dirumahkan Saat Pandemi, Raodah Bangun Fifa Snack Hingga Tembus Toko Oleh-oleh
Muh Hasim Arfah May 23, 2026 02:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tumpukan camilan dalam kemasan berjejer rapi di rumah milik Sitti Raodah Nurjannah. 

Ibu rumah tangga tersebut memperlihatkan produknya saat penulis datang ke kediamannya, Jl Sungai Saddang III nomor 23, Maradekaya Selatan, Kecamatan Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). 

Kacang Langkoseng, pilus keju, dan keripik jintan dikemas dengan desain modern menggunakan standing pouch berwarna cerah yang dilengkapi label merek FIFA Snack.

Di ruang tamunya, Raodah menceritakan asal mulai FIFA Snack dirintis. 

Pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pandemi Covid-19 menjadi titik baliknya memulai usaha makanan ringan rumahan.

Usaha tersebut dirintis sejak 2020, setelah dirinya dirumahkan selama tiga bulan dari perusahaan komputer tempatnya bekerja. 

Baca juga: Usaha Roti Nur Fitriyani Tembus Program MBG, Produksi Naik Drastis setelah Dapat KUR BRI

Saat itu, situasi pandemi membuat banyak perusahaan melakukan pengurangan karyawan.

Raodah mengaku sudah memiliki firasat dirinya tidak akan lagi melanjutkan pekerjaan di perusahaan tersebut.

“Pas Covid itu saya sempat dirumahkan tiga bulan, lalu di PHK. Dari situ timbul ide saya bikin usaha ini karena saya sudah ada firasat kayaknya tidak lanjut kerja,” bebernya. 

Berbekal resep keluarga dan kegemarannya mengonsumsi camilan saat bersantai di rumah, ia mulai mencoba membuat produk kacang langkoseng.

Produk pertama yang dibuatnya belum langsung mendapat respons positif.

Ia beberapa kali mengganti bahan dan komposisi setelah meminta teman-temannya mencicipi hasil produksinya.

“Pertama dibilang enak tapi keras, saya ubah lagi bahannya. Kedua dibilang kurang manis, saya tambah gula. Sampai tiga kali begitu,” katanya.

Setelah beberapa kali percobaan, rasa produknya mulai stabil dan mendapat respon baik dari teman-temannya.

Dari situlah ia mulai terpikir mengembangkan usaha secara serius. 

Raodah kemudian mencari informasi mengenai legalitas usaha mikro, termasuk izin PIRT atau Pangan Industri Rumah Tangga.

Ia mendatangi puskesmas untuk menanyakan syarat membuka usaha makanan rumahan.

Dari sana, ia diarahkan melengkapi sejumlah dokumen hingga melakukan uji laboratorium produk sesuai saran Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM PTSP) Makassar. 

Hasil uji laboratorium yang dinyatakan baik membuatnya semakin percaya diri memasarkan produknya ke warung-warung kecil.

Awalnya, produknya hanya dikemas sederhana menggunakan plastik dan lilin perekat dengan harga Rp2 ribu per bungkus.

Saat itu, ia menitipkan produknya di sekitar 15 warung dan rumah makan.

Produknya ternyata cukup diminati masyarakat.

“Waktu 2021 sampai 2022 itu full warung. Banyak sekali yang ambil untuk jual lagi,” ujarnya.

Seiring berkembangnya usaha, Raodah aktif mengikuti berbagai pelatihan UMKM dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Dinas Pariwisata, hingga Dinas Perindustrian.

Melalui pelatihan tersebut, ia mulai memahami pentingnya kemasan dalam meningkatkan daya tarik produk.

Ia pun perlahan mengganti desain kemasan menjadi lebih modern agar bisa masuk ke toko oleh-oleh dan retail.

Kini produk FIFA Snack sudah dipasarkan di sejumlah toko oleh-oleh hingga pusat layanan perbankan.

Raodah mengatakan pengembangan usaha tidak hanya soal rasa, tetapi juga tampilan produk.

“Kalau orang mau jatuh cinta, biasanya pertama dilihat itu kemasannya dulu. Soal rasa nanti nomor dua,” katanya.

Selain kacang langkoseng, ia juga mulai membuat inovasi produk lain seperti pilus keju dan kerupuk jintan.

Ia mengaku banyak belajar secara otodidak melalui internet dan YouTube.

Namun, resep yang digunakannya tetap dimodifikasi sesuai racikan sendiri.

“Kalau saya orangnya berani mencoba. Saya tidak takut gagal. Karena kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya,” ujarnya.

Memasuki tahun keenam usaha berjalan, Raodah mulai berani mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk pengembangan usaha.

Ia mengaku sebelumnya selalu menolak tawaran kredit dari sejumlah bank karena takut tidak mampu membayar cicilan.

Namun, meningkatnya kebutuhan produksi serta rencana renovasi dapur membuatnya akhirnya memberanikan diri mengajukan pinjaman.

“Baru tahun ini saya berani ambil kredit karena saya mau kembangkan usaha lebih besar dan renovasi dapur supaya lebih luas,” katanya.

Menurutnya, momentum hari raya seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru selalu mendongkrak permintaan produknya. 

Banyak pelanggan memesan dalam jumlah kilogram untuk dijadikan suguhan tamu atau oleh-oleh.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperbesar kapasitas usaha.

Raodah mengaku proses pengajuan KUR BRI berlangsung cepat karena seluruh legalitas usahanya telah lengkap.

Ia hanya membawa dokumen usaha ke kantor BRI terdekat dan pengajuan langsung diproses pada hari yang sama.

“Kalau legalitas lengkap dan usaha memang sudah berjalan, cepat ji prosesnya. Saya bawa pagi, siang sudah masuk,” ujarnya.

Pihak bank juga disebut datang langsung meninjau lokasi usaha sebelum kredit disetujui.

Saat ini, produksi FIFA Snack masih melibatkan anggota keluarga, termasuk kedua anak dan ibunya.

Namun saat pesanan meningkat, ia juga memanggil tetangga untuk membantu proses produksi dan pengemasan.

Meski begitu, proses pengadonan tetap ia kerjakan sendiri demi menjaga cita rasa produknya tetap konsisten.

Raodah mengatakan pinjaman KUR menjadi motivasi tambahan untuk terus mengembangkan usahanya.

“Kalau ada kredit, kita jadi lebih semangat cari omzet. Harus berpikir bagaimana penghasilan lebih besar dari cicilan,” katanya.

Ia berharap usahanya bisa semakin berkembang dan menjangkau lebih banyak toko retail maupun pasar oleh-oleh di Sulawesi Selatan.

Nur Santi, salah satu konsumen FIFA Snack, mengaku rutin membeli produk camilan buatan Sitti Raodah Nurjannah karena rasanya cocok di lidah keluarganya.

Ia paling sering membeli kacang langkoseng dan pilus keju untuk camilan di rumah.

Menurutnya, rasa produk FIFA Snack berbeda dibanding camilan sejenis yang banyak dijual di pasaran. 

Selain gurih dan renyah, produk tersebut juga dinilai tidak terlalu berminyak sehingga nyaman dikonsumsi semua kalangan usia.

“Sekarang juga kemasannya sudah bagus dan modern, jadi cocok dijadikan oleh-oleh atau suguhan tamu kalau hari raya,” ujar Nur Santi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.