Kisah Petugas Damkartan Jambi Pertaruhkan Nyawa di Balik Pekatnya Asap Kebakaran Gudang BBM
Darwin Sijabat May 23, 2026 02:48 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Insiden kebakaran hebat yang melanda sebuah gudang bahan bakar minyak atau BBM di kawasan Pal 7, Kota Jambi, beberapa waktu lalu menyisakan cerita dramatis dari para garda terdepan. 

Di balik keberhasilan memadamkan amukan si jago merah, para petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kota Jambi harus bertaruh nyawa di tengah suhu ekstrem dan kepulan asap beracun.

Dalam peristiwa tersebut, dua orang petugas Damkartan terpaksa dilarikan ke mobil ambulans akibat mengalami dehidrasi akut dan sesak napas hebat. 

Salah satunya adalah Ishak E, seorang nozelman yang berada di titik paling krusial saat pemadaman berlangsung. 

Karena objek yang terbakar adalah minyak, air biasa tidak mampu meredam api, sehingga petugas harus bergerak cepat mendistribusikan liquid foam (busa cair) secara terus-menerus.

Adrenalin yang memuncak membuat rasa lelah tak terasa selama api berkobar. 

Namun, begitu api mulai jinak dan sisa suhu panas menyengat tubuh, barulah efek dehidrasi hebat menyerang. 

Bang Ishak, sapaan akrabnya, mengaku sempat mengalami pandangan berkunang-kunang dan sesak napas parah, merasakan oksigen seolah tersangkut di tenggorokan, sebelum akhirnya digotong oleh rekan-rekannya menuju ambulans PSC 119.

Baca juga: Saksi Kata: Saat Petugas Damkar Masuk Plafon Runtuh, Kebakaran 3 Ruko Depan Hotel Aston Jambi

Baca juga: Imbas Listrik Padam Serentak di Jambi: Jaringan Seluler dan WiFi Ikut Lumpuh

Meski sempat dihadapkan pada situasi kritis yang mengancam nyawa, dedikasi petugas pemadam kebakaran ini tidak surut sedikit pun. 

Baginya, risiko tersebut adalah bagian dari panggilan jiwa demi keselamatan masyarakat. 

Setelah mendapatkan penanganan medis darurat berupa pemberian oksigen, ia bahkan langsung kembali ke Markas Komando (Mako) untuk melanjutkan sisa dinasnya hingga keesokan pagi.

Wawancara Petugas Damkartan Kota Jambi

Bagaimana perjuangan lengkap dan situasi mencekam yang dihadapi petugas di lapangan malam itu? 

Simak wawancara eksklusif jurnalis Tribun Jambi, Muhammad Yon Rinaldi, bersama Bang Ishak dalam program Saksi Kata berikut ini:

Tribun: Beberapa waktu lalu telah terjadi kebakaran cukup besar di Pal 7. Nah, dalam peristiwa tersebut, ada dua petugas Damkartan harus mengalami sesak napas dan harus dilarikan ke tim medis yang standby di saat itu. Dan telah bersama saya Bang Ishak. Apa kabar Bang Is?

Bang Ishak: Baik Bang, alhamdulillah.

Tribun Jambi: Bang Ishak ini Tribunners salah satu dari dua orang—salah satu ya Bang ya—yang sempat mengalami sesak napas dalam proses pemadaman. Iya Bang ya? Bang, bisa diceritakan, Bang, kok kenapa Bang sampai bisa sesak napas dan dehidrasi, Bang?

Bang Ishak: Ya, untuk awal proses kebakaran itu emang apinya sangat besar ya. Jadi dalam situasi itu, pergerakan kami rotasinya sangat kencanglah ibaratnya kan. Jadi pergerakan terus enggak berhenti-berhenti. Jadi suhu api juga panas, jadi kami mengalami dehidrasi dalam kondisi itu. Ya pada saat kami melakukan pemadaman, saya mengoper liquid foam. Jadi pada saat mengoper liquid foam itu aman saja. Setelah api sudah padam, saya mau mengembalikan jerigen, terjadi dehidrasi dan sesak napas.

Tribun Jambi: Berarti posisinya karena kemarin itu kebakaran minyak ya Bang ya, full minyak, berarti tidak bisa dipadamkan dengan air?

Bang Ishak: Iya, benar.

Tribun Jambi: Maka menggunakan liquid foam, dan tugas Abang waktu itu sebagai pendistribusi liquid foam?

Bang Ishak: Iya, saya nozelman dan pendistribusi liquid foam juga. Jadi mengambil liquid foam dari mobil, bawa ke teman, lalu saya ibaratnya memasukkan pipa untuk menyedot liquid foam dari nozel foam tadi.

Tribun Jambi: Nah, itu diteruskan oleh teman-teman yang bertugas untuk di titik api itu ya Bang ya? Nozelman itu berarti waktu itu kondisi Abang terus berlari Bang ya, karena mengejar waktu?

Bang Ishak: Iya, rotasi, rotasi. Dan terakhir kondisi api sudah mulai agak padam, kami masuk ke dalam lokasi. Lokasinya masih panas, nah itu jadi dehidrasi tinggi.

Tribun Jambi: Oh tunggu, kira-kira Bang, berapa kali itu Bang, bolak-balik itu? Ada 10 kali lebih?

Bang Ishak: Kemungkinan ya lebih, lebih, lebih ya.

Tribun Jambi: Nah, berarti waktu Abang mengalami dehidrasi dan sesak napas itu justru dalam kondisi api sudah padam?

Baca juga: Saksi Kata: Ngadiono Nekat Pecahkan Kaca, Fakta di Balik Kecelakaan Bus ALS di Muratara

Baca juga: Polda Jambi Selidiki Tewasnya 3 Pekerja yang Diduga Keracunan dalam Palka Tongkang di Niaso

Bang Ishak: Sudah padam, benar, sudah padam.

Tribun Jambi: Mungkin waktu api masih berkobar itu enggak terasa kali?

Bang Ishak: Enggak, enggak terasa, enggak terasa, enggak terasa. Terus aja adrenalin terus naik, terus naik. Iya betul, terus beraktivitas pada saat proses pemadaman itu.

Tribun Jambi: Proses pemadaman itu... Nah, setelah api padam baru terasa?

Bang Ishak: Baru terasa dehidrasi dan enggak bisa narik napas kayak gitu, kayak tersangkut di leher itu napasnya.

Tribun Jambi: Waktu itu mata Abang kunang-kunang atau sempat terjatuh?

Bang Ishak: Iya, agak kunang-kunang, goyang, lalu langsung ditolong sama teman untuk menuju ke ambulans, langsung.

Tribun Jambi: Oh berarti sempat pas mau kunang-kunang mau jatuh, langsung digotong sama teman?

Bang Ishak: Iya, benar, langsung ke ambulans PSC 119.

Tribun Jambi: Jauh enggak Bang lokasi, lokasi dari mobil ke ambulans itu?

Bang Ishak: Sekitar 50 meter.

Tribun Jambi: 50 meter, lumayan juga ya Bang kalau digotong itu untuk beberapa menit tuh ya kan, Bang. Nah, waktu setelah Abang di itu tuh, tindakan apa yang Abang dapetin dari tim medis?

Bang Ishak: Eh untuk tindakan di tim medis, yang pertama dilakukan pemberian oksigen. Oke, heeh, lalu dicek saturasi, untuk tekanan darah juga. Tapi alhamdulillah setelah diberikan oksigen dan penanganan, alhamdulillah langsung membaik, langsung membaik.

Tribun Jambi: Wow, cepat juga Bang ya?

Bang Ishak: Iya, alhamdulillah.

Tribun Jambi: Setelah membaik itu, Abang kembali terjun ke lapangan enggak?

Bang Ishak: Langsung istirahat di mobil aja, oh memang tidak diizinkan ya karena berbahaya sekali ya, iya benar.

Tribun Jambi: Oh oke Bang. Ah kita kembali lagi Bang, Abang waktu itu kan kobaran api luar biasa Bang, iya betul. Kalau cerita Abang tadi, kayaknya Abang enggak ada takut-takutnya Bang ya?

Bang Ishak: Iya, karena itu ya udah tugas, tugas kita ya. Heeh, terus ya memang ibaratnya panggilan jiwa lah.

Tribun Jambi: Ada waktu sempat kunang-kunang mau jatuh digotong kawan itu, sempat ada kepikiran mau, ah mungkin di sini nih umur gitu kan?

Bang Ishak: Iya, ibaratnya kita kan kalau sudah kejadian itu ya emang sudah tahu risikonya kan Pak ya. Ibaratnya ya sudah siaplah kayak itu kan. Apa yang terjadi ya demi tugas ya, menolong masyarakat.

Tribun Jambi: Oke, setelah kecelakaan itu Abang kembali ke rumah atau berjaga lagi di pos?

Bang Ishak: Eh untuk pada saat di ambulans, dari ambulans langsung ke Mako (Markas Komando), iya istirahat, langsung standby lagi di bar, standby lagi. Baru lepas dinas besok paginya, iya lepas dinas besok pagi.

Tribun Jambi: Memang kebakaran kemarin besar sekali Bang daripada sebelum-sebelumnya Bang? Penanganan?

Bang Ishak: Wah, untuk kebakaran kemarin tuh ya sangat-sangat luar biasa karena ya minyak kan.

Tribun Jambi: Sebelum ini pernah enggak Abang mengalami hal yang sama? Hampir mungkin hampir-hampir sesak napas, pusing gitu?

Bang Ishak: Alhamdulillah kalau sebelum-sebelumnya pernah, cuman langsung ya teratasi aja kayak itu. Kita ya ibaratnya langsung ambil minum air langsung, setelah minum air setelah dehidrasi teratasi langsung kita beraktivitas lagi, kerja lagi.

Tribun Jambi: Oh, mungkin itu karena minyak itu ya Bang ya?

Bang Ishak: Mungkin betul, sangat-sangat panas kan di sana.

Baca juga: Ksatria Biru Damkartan Kota Jambi Raih Kepercayaan Publik Tertinggi

Baca juga: Tim SAR Lakukan Pencarian Remaja 15 Tahun Hanyut di Sungai Batang Merangin

Baca juga: Padamnya Listrik di Jambi, PLN UP3 Jambi Sebut Gangguan Transmisi Utama 275 KV

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.