Cerita Kriminal, tentang seorang pria yang terjebak cinta segitiga di antara dua saudari, Mei dan Juni. Bagaimana nasib ketiganya?
Tayang di rubrik Perkara Kriminal Majalah Intisari edisi Mei 1999 dengan judul "Lelaki di antara Mei dan Juni"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Orangtua mereka menamakan kedua anak gadis itu Mei dan Juni, sesuai dengan nama bulan kelahiran mereka. Meski usia dan jarak kelahirannya tidak terpaut jauh, kedua gadis ini memiliki sifat yang amat berbeda.
Barangkali itu pengaruh zodiak mereka yang berlainan meski ada sebagian yang masih bersinggungan. Yang jelas, perangai si sulung Mei begitu mudah berubah.
Terkadang hangat dan bersahabat, tapi bisa pula tiba-tiba merenggut, namun segera memperlihatkan rasa cinta. Semuanya begitu cepat berubah. Sebaliknya, sifat ini tidak dimiliki oleh sang adik, Juni.
Di tahun 1930, ketika Mei mencapai usia 20 tahun, Nyonya Thrace, ibunya, begitu mengkhawatirkan putri sulungnya dibandingkan sang adik. Selain penampilannya tidak terlalu menarik, sebagai wanita Mei memang kurang anggun, apalagi otaknya biasa-biasa saja.
Oleh karena penampilannya yang demikian itu, hampir tak ada seorang pria pun yang mau dekat dengannya.
Namun, kekhawatiran Nyonya Thrace seakan lenyap begitu putri sulungnya bertemu seorang pemuda bernama Walter Symonds. Pengacara tampan ini datang dari keluarga terpandang dan berpenghasilan cukup.
Mimpikah Mei mendapatkan Walter Symonds? Tidak. Hanya dalam beberapa kali pertemuan ternyata pemuda ini betul-betul menyatakan cinta pada Mei.
Bagai mendapatkan durian runtuh, tanpa pikir panjang Mei segera membalas cinta Walter dengan menggebu-gebu. Bahkan terasa amat berlebihan.
Mei seakan tak bisa menyembunyikan ekspresi cintanya setiap menanti kekasihnya datang. Dia juga tak menutup-nutupi gairahnya yang meletup-letup saat menyambutnya.
Nyonya Thrace merasa sikap Mei tak pantas diperlihatkan oleh anak gadis sebuah keluarga pegawai negeri. Tapi barangkali begitulah memang sifat putri sulungnya.
“Toh, saya akan menikah dengannya dan dia ingin aku cintai," begitulah dia selalu menjawab setiap kali diperingatkan oleh ibunya.
Sementara saat itu, sang adik, Juni yang cerdas dan rupawan sedang berada di kota lain menuntut ilmu sebagai seorang calon guru. Memang, keputusan keluarga Thrace cukup bijaksana untuk membiarkan Mei tetap tinggal di rumah.
Selain kurang pandai, dia pun bisa membantu sang ibu. Bahkan rupanya, dengan tinggal di rumah pun Mei cukup beruntung "menangkap" seorang calon suami yang tampan, kaya, dan sukses.
Dua bulan sebelum pernikahan Mei, sang adik pulang untuk liburan musim panas. Drama keluarga pun berawal dari sini.
Betapa tidak? Kepulangan Juni ternyata mendatangkan “musibah”, sebagaimana selalu dikatakan Nyonya Thrace.
Memang, ini bukan salah siapa-siapa. Kalau mau mencari kambing hitam, ya barangkali Dewi Amor yang punya ulah.
Begitu melihat Juni, rupanya Walter Symonds berubah pikiran. Kemolekan dan kecerdasan Juni segera saja merebut perhatiannya serta memadamkan api cintanya kepada Mei.
Kini setiap kali apel, yang dicari Walter bukan lagi si sulung, melainkan si bungsu. Tak terbayangkan betapa hancurnya hati si Mei menghadapi kenyataan ini. Sementara kedua orangtuanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Bersumpah tak akan menikah
Hari-hari berikutnya berlalu bagaikan sinetron dramatis. Malam-malam, Mei sering berteriak dan hampir menghujamkan pisau ke badan adiknya.
“Kami turut prihatin, Mei. Tapi apa yang bisa kita perbuat? Kau tentu tak mau menikah dengan pria yang tidak lagi mencintaimu?” demikian hibur Nyonya Thrace pada si sulung.
“Tidak! Walter mencintaiku! Ini pasti guna-guna Juni! Karena kecantikannya! Semoga Juni meninggal dan Walter kembali mencintaiku!” teriak Mei histeris.
“Aku akan mendapatkannya! Aku tidak akan menikah dengan siapa pun! Juni, kau menghancurkan hidupku!” begitulah Mei selalu meratapi nasibnya. Kedua orangtua gadis ini hanya termangu dalam kegalauan. Sekali lagi, Thrace dan istrinya tidak bisa berbuat banyak.
Dengan tetap menjaga perasaan Mei, beberapa bulan kemudian Juni dan Walter memutuskan untuk menikah. Sebagai hadiah perkawinan, ayah Walter membelikan mereka rumah di Surrey. Sedangkan Mei tetap di rumah bersama ibunya.
Dalam pada itu di Eropa meletus perang. Walter, masuk angkatan bersenjata dan berhasil menjadi kolonel. Sedangkan Mei masuk angkatan bersenjata di bagian penyediaan pangan selama lima tahun. Namun, setelah itu dia kembali ke rumah orangtuanya lagi.
Hari demi hari berlalu, demikian pula bulan demi bulan sudah lewat. Mei tetap tak bisa memaafkan adiknya.
“Dia mencuri suamiku!” sesal Mei pada sang ibu.
“Begini, Nak. Saat itu Walter kan belum menjadi suamimu! Selain itu, kita diajarkan untuk memaafkan orang yang berbuat jahat kepada kita seperti kita mengharapkan orang lain berlaku demikian juga terhadap kita,” sang ibu mengingatkan.
“Ibu! Saya bukan seorang yang religius! Saya gadis biasa yang masih punya perasaan!” sungut Mei kesal.
Tak pelak, akibat ulah Dewi Amor yang sembarangan memainkan panah cintanya, hubungan kakak beradik antara Mei dan Juni berantakan. Mereka tidak mau lagi bertegur sapa seperti dulu.
Apabila Walter dan Juni datang berkunjung ke rumah keluarga Thrace, Mei memilih keluar rumah. Dia tidak mau menemui mereka sama sekali. Namun, dengan indera keenamnya dia tampaknya mengetahui semua hal yang terjadi di rumah, kecuali satu hal.
Ayah dan ibunya amat berhati-hati jika berbicara tentang Juni di hadapan kakaknya. Di lain pihak, terdorong rasa penasaran Mei sering mencuri dengar segala cerita tentang Juni dari balik jendela rumah.
Biarpun secara diam-diam dia juga membaca surat dari Juni untuk ibunya. Jika nama Walter disebut di surat, tubuhnya serasa bergetar.
Mei tahu kalau Juni dan Walter pindah ke rumah yang lebih besar agar bisa menampung koleksi mebel dan lukisan. Dia juga tahu ke mana kedua pasangan itu pergi berlibur dan menjamu teman-temannya.
Namun, yang tidak dia ketahui adalah bagaimanakah perasaan Walter terhadap Juni. Benar-benar cintakah Walter pada adiknya? Apakah dia kecewa pada pilihannya?
Mei berharap, setelah lewat masa tergila-gila Walter pada Juni, dia akan kembali kepadanya. Namun, karena telah lama tak berjumpa dengan keduanya, dia ingin tahu perasaan Walter terhadap Juni.
Barangkali keingintahuannya itulah yang membuat Mei bertahan. Dia ingin membuktikan bahwa Walter menyesal atas pilihannya.
Apalagi sampai saat itu pun tak terdengar suara tangis bayi meramaikan kehidupan mereka, padahal usia Juni sudah hampir empat puluh tahun.
Semua yang dicintai meninggal
Mei yang tak punya keahlian lain akhirnya harus puas bekerja sebagai pengawas kantin di sebuah hostel wanita. Dia tetap tinggal bersama orangtuanya sampai keduanya meninggal dunia.
Kepergian orangtuanya hanya berselang enam bulan. Sang ibu meninggal di bulan Maret, sementara ayahnya meninggal bulan Agustus.
Pada saat kremasi ibunya, kebetulan Mei sakit, sehingga tak bisa hadir di tempat kremasi. Sekaligus dia beruntung, bisa menghindari perjumpaannya dengan sang adik dan mantan kekasihnya. Namun, saat pemakaman sang ayah, mau tak mau mereka harus ketemu.
Ketika melihat Walter masuk ke gereja, tubuh Mei bergetar. Dia berpegang erat-erat pada bangku tempatnya duduk.
Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangannya, seolah tengah khusuk berdoa. Waktu semua orang berlalu, Walter tahu-tahu telah duduk di sampingnya.
Tangan Mei diraihnya sambil memandang matanya. Ketika kedua pasang mata itu bertemu, Mei merasa pandangan itu masih sama seperti dulu meskipun status mereka sekarang berbeda.
Rasanya, Mei ingin mati saat memegang tangannya dan terus memandang wajah yang dulu amat dikenalnya. “Kau tidak mau berbicara dengan adikmu?” kata Walter dengan suara dalam, “Maukah kau melupakan masa lalu?”
Tubuh Mei terus bergetar. Dia pun menepis tangan Walter dan berlari ke belakang gereja. Dia menjauhkan diri, meskipun dari tempatnya dia tetap mengamati kedua orang itu.
Dari kejauhan Mei melihat, Juni-lah yang menggamit tangan kiri Walter dan bukan sebaliknya. Juni pula yang memandang wajah Walter dengan penuh cinta, sementara Walter tetap kaku dan dingin.
Jelas terlihat adiknya menggelayutkan tubuh ke Walter, sementara sang pria diam-diam saja menerima semua itu. "Walter pasti berperilaku begitu-bukan karena aku ada di sini! Tapi, ia pasti tidak suka pada. Juni!" jerit hati Mei menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu.
Setelah peristiwa di gereja itu berlalu, Mei dikejutkan oleh kabar tentang meninggalnya Walter. Dia membaca iklan duka cita di surat kabar.
Peristiwa meninggalnya Walter merupakan berita duka yang menderanya begitu dalam, melebihi saat ibunya memberitahu keputusan Walter hendak menikahi Juni dulu.
Di lain pihak, hikmah dan peristiwa ini adalah terjadinya rekonsiliasi antara dirinya dengan sang adik, Juni. Sebagai tanda ikut berbelasungkawa, Mei mengirimkan buket bunga mawar berwarna putih yang harganya menguras habis gajinya selama setengah minggu bekerja.
Dia pun memutuskan untuk menghadiri pemakamannya, tak peduli apakah Juni suka atau tidak.
Ternyata Juni sangat mengharapkan kedatangannya. Mungkin dia menyangka bunga mawar putih itu untuk dirinya, bukan untuk Walter.
Juni langsung menyongsong Mei begitu sang kakak datang. Dia memeluk dan menangis di bahunya. Untuk pertama kalinya, setelah sekian tahun, Mei mau berbicara dengan adiknya.
“Kini kau merasakan bagaimana nyerinya kehilangan dirinya,” kata Mei.
“Mei, Mei, jangan kejam padaku! Jangan musuhi aku lagi! Marilah kita bina kembali hubungan baik di antara kita. Aku sudah tak punya apa-apa! Aku juga tak lagi punya siapa-siapa!” kata Juni miris.
Mei duduk di samping adiknya saat pemakaman sang ipar. Setelah pemakaman usai, dia mengantar sang adik ke rumahnya. “Tak punya apa-apa” buat Juni pastilah bermakna emosional.
Karena tempat tinggalnya begitu megah. Mei tak pernah membayangkan dirinya berada di rumah seperti itu. Dia bahkan tengah mempersiapkan masa pensiunnya yang sebulan lagi di sebuah flat berkamar satu.
Dua hari setelah itu surat Juni datang.
“Mei sayang, jangan marah jika aku memanggilmu demikian. Karena kau tetaplah orang yang kusayangi meskipun aku bersalah menyakitimu dan kau pun membenciku. Aku tidak menyesal atas nasib yang telah terjadi karena aku bahagia. Namun aku turut sedih karena kau jadi menderita. Aku ingin memperbaiki kisah masa lalu kita. Seandainya kau tidak keberatan, sudilah kiranya kau tinggal bersamaku, berbagi kebahagiaan yang pernah hilang. Katakanlah ya sebagai ungkapan kau memaafkan aku. Adik yang selalu menyayangimu, Juni.”
Rasanya tawaran ini amat menarik. Cukup pantas bagi Mei menerima undangan ini sebagai imbalan atas "pencurian kekasih" yang telah dilakukan Juni.
Meskipun demikian Mei baru memberikan jawaban seminggu sesudahnya.
"Dear Juni, saranmu sungguh ide yang bagus. Aku telah memikirkannya dan menerima tawaranmu untuk tinggal bersama. Kebetulan barang-barang yang kumiliki tidak banyak, sehingga kepindahanku tidaklah terlalu merepotkan. Jika kau merasa siap, katakan saja waktunya. Yours, Mei."
Yang jelas, di surat balasan ini Mei sama sekali tidak menyinggung-nyinggung pemberian maaf atas kesalahan yang telah dilakukan Juni di masa lalu.
Toh, dengan tinggalnya Mei di rumah Juni setidaknya sudah menunjukkan upaya Mei untuk mencoba memaafkan adiknya. Padahal dalam hati yang paling dalam sebenarnya Mei masih penasaran, ingin tahu bagaimana kehidupan perkawinan saudaranya yang telah merebut kebahagiaannya.
“Kau boleh bercerita tentang Walter jika kau mau,” kata Mei pada malam pertama kedua bersaudara yang berseteru itu duduk bersama. “Jika itu meringankan bebanmu, aku tak keberatan mendengarkannya.”
“Apa yang bisa kuceritakan selain kami telah menikah selama 20 tahun dan kini dia telah meninggal?” kata Juni dengan sedih.
“Kau bisa memperlihatkan barang-barang yang dia hadiahkan misalnya,” kata Mei sambil memegang sebuah hiasan dan matanya memandang beberapa lukisan yang tergantung di dinding, “Apakah dia memberimu ini sebagai hadiah?”
“Oh, itu bukan hadiah! Aku atau dia yang membelinya sendiri-sendiri,” jawab Juni. Mei tampak semakin tertarik. “Pantas kau tak takut ada pencuri. Rumahmu seperti gua Aladin. Apakah kau menyimpan banyak perhiasan juga?”
“Tidak banyak,” jawab Juni mulai kurang senang dengan berbagai pertanyaan kakaknya yang bernada menyelidik.
Dengan ekor matanya Mei mencuri pandang ke jari manis Juni. Saat itu adiknya hanya mengenakan cincin pertunangan dari emas sembilan karat dengan hiasan berlian kecil-kecil.
Cincin itu jelas lebih murah dari cincin pertunangan yang lebih dulu diberikan Walter kepada Mei. Padahal, kalau mau, Walter pasti dapat membelikan cincin perkawinan yang lebih mahal. Tapi mengapa hal itu tidak dilakukannya?
“Seharusnya engkau memiliki cincin perkawinan yang abadi,” celetuk Mei.
“Tidak ada perkawinan yang abadi,” jawab luni. “Sudahlah, kita tak usah membicarakan semua ini.”
Mei tidak mengerti mengapa adiknya tak mau membicarakan Walter. Meski begitu, dia melihat perubahan air mukanya setiap nama Walter disebut.
Juni menyimpan foto-foto Walter yang ada di atas piano dan di dekat gantungan mantel. Mei jadi penasaran ingin tahu.
Pernahkah Walter mengirim surat romantis kepada istrinya? Mereka memang jarang berpisah, tapi sungguh tak masuk akal apabila Juni tak pernah memperoleh surat selama mendampinginya.
Terjerat khayalan manis
Saat pertama kali Mei ditinggal sendirian di rumah sang adik, dia mencoba menyelidiki apa saja yang tersimpan di rumah ini. Dia mulai dengan membuka laci meja tulis.
Tapi laci itu dikunci. Sementara laci di kamar pakaian Juni yang tak terkunci hanya ditemukan dua kartu ucapan selamat ulang tahun yang isinya "biasa" saja.
Sedangkan satu-satunya “surat” Walter untuk istrinya tertera di balik bon pembayaran yang terselip di antara buku masak. “Tukang roti tadi telepon. Aku telah memesan roti putih besar untuk hari Sabtu,” begitu bunyinya.
Pada malam harinya, Mei kembali membaca dua buah surat yang pernah dikirim Walter untuknya. Sudah berpuluh tahun surat itu terabaikan. Namun pada malam ini dia membacanya kembali dengan penuh kepuasan!
“Mei sayang, ini adalah surat cinta pertama yang aku tulis. Jika tak bagus, buang saja. Anggap saja sebagai latihan. Aku rindu sekali padamu dan berharap seandainya aku tidak berlibur bersama orang tuaku saat ini…” bunyi surat Walter yang pertama.
“Mei sayang, terima kasih untuk dua suratmu. Maaf aku lambat membalasmu, karena aku agak nervous jika isi surat tak berkenan di hatimu. Meskipun begitu aku merasa beruntung karena sebentar lagi kita tak akan berjauhan. Aku berharap kau kini berada di sisiku …” tulis surat kedua Walter.
Mei merasa bahagia. Ternyata Walter menulis surat cinta hanya kepadanya dan bukan surat pesanan roti seperti yang ditulisnya untuk Juni. Di dalam kamarnya Mei berkhayal lagi.
Dia memakai kembali cincin pertunangan dulu. Tentu saja di jari kelingking, karena jari manisnya sudah membesar.
Bagaimana kalau Juni melihatnya? “Ah, dia pasti, tak akan bertanya,” kata hati Mei.
Pada suatu siang, kedua kakak beradik ini terlibat pembicaraan serius.
“Apakah kau atau Walter yang tidak menginginkan anak?” tanya Mei penuh rasa ingin tahu.
“Kami memang tidak dikaruniai anak,” jawab yang ditanya.
“Walter pasti mendambakannya! Ketika kami masih bertunangan, Walter ingin mempunyai tiga orang anak,” kata Mei lagi.
Juni tampak sedih, tapi Mei seakan tak bisa berhenti bicara tentang Walter sepanjang hari.
“Walter baru berusia 35 tahun. Terlalu muda untuk meninggal. Kau tak pernah bercerita penyebab kematiannya, Juni!” tanya Mei lagi.
“Kanker,” terdengar jawaban bernada pahit. “Dokter telah mengoperasinya, tapi setelah itu dia tak pemah sadar lagi.”
“Persis seperti Mama,” gumam Mei. Lalu pikirannya melayang. Seandainya yang meninggal Juni, dia pasti akan kembali padaku.
Dia masih ingat pandangan Walter saat di pemakaman ayahnya. Dia pun memandang cincin pertunangan di jari kelingkingnya.
Sekarang ini Mei begitu bahagia. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 20 tahun dia merasa bahagia. Sementara itu, Juni justru sebaliknya. Dia lebih sering menangis dan merasa lemah.
“Kau amat kuat Mei. Ternyata aku tak bisa menanggung kepergiannya," kata Juni dengan derai air mata.
“Aku juga merasa kehilangan dia,” jawab Mei.
“Dia selalu mengagumimu, Mei. Dia turut prihatin saat melihatmu tak bahagia. Dia sering sekali membicarakan dirimu," kata Juni lagi. “Maukah engkau memaafkan aku, Mei?”
“Ya, aku telah memaafkanmu,” kata Mei. Apalah artinya perkawinan jika sang suami selalu menyebut-nyebut nama perempuan lain. “Kau pasti sudah cukup menderita juga Juni.”
Kini Mei merasa puas. Dia pun rajin membersihkan rumah, merapikan segala hiasan. Kadang kala dia membayangkan Walter duduk atau berdiri di dekat jendela.
Maaf, saya terlalu panik
Benar, akulah yang terkuat dan Juni si lemah. Kata-kata itu diingat Mei terus, terutama saat tengah malam dia terbangun.
Malam itu di rumah Juni, terjadi pencurian. Pada kira-kira pukul 22.00 terdengar suara langkah kaki berlarian dan suara pintu dibuka paksa.
Merasa bahwa ada tamu tak diundang, Mei cepat-cepat memakai jubah penutup baju tidurnya. Pelan-pelan dia menuju kamar Juni untuk membangunkannya.
Melihat tempat tidur Juni kosong, Mei lari ke jendela. Dengan bantuan cahaya bulan, dia dapat melihat sebuah mobil kuning terparkir di jalanan.
Cahaya kuning terlihat memancar keluar dari dalam ruang kerja di bawah. Rasa takut sempat menyergap batinnya, tetapi Mei berusaha menguatkan dirinya.
Belum lagi ia menuruni tangga, terdengar suara benturan benda keras menghantam dinding. Ada suara tangis dan langkah berlari seseorang. Mei sampai di bawah tangga tepat saat pintu masuk ditutup dengan suara berdebam keras. Suara mobil distarter terdengar.
Tetesan darah membimbing Mei menuju ruang kerja. Terlihat Juni berdiri di depan meja kerja.
Rupanya, si pencuri membuka laci meja dengan paksa. Isinya bertebaran. Juni tampak terhuyung-huyung, dengan air mata berderai dan teriakan histeris. Tangannya menunjuk ke botol-botol yang pecah di sekitarnya.
“Aku melempar botol-botol itu kepadanya, Mei. Aku berhasil melukainya!" kata Juni dengan napas terengah-engah.
“Kau baik-baik saja?" tanya Mei.
“Dia tidak menyentuhku! Dia mengarahkan senapan itu padaku ketika aku masuk ruangan ini. Aku tak peduli! Aku tak tahan melihat orang lain mengobrak-abrik barang-barang pribadiku! Dia tak membawa apa-apa kecuali beberapa hiasan perak! Aku berani kan, Mei?" cerita Juni masih dengan napas tersengal-sengal.
Tapi kata-kata Juni tak didengar sang kakak. Mata Mei justru tertarik pada sebuah surat yang terbuka di atas segala tumpukan kertas yang dikeluarkan sang pencuri.
Tampak di situ tulisan bulat-bulat, tulisan tangan Walter. Tentunya surat itu dibuat Walter saat-saat dia menderita sakit.
“Kekasihku, Juni. Surat ini kubuat begitu kau meninggalkan rumah sakit. Tapi aku harus menulisnya untukmu. Aku tak dapat menahan diri untuk tidak menulis surat dan menyatakan betapa bahagianya aku bersamamu selama ini. Seandainya terjadi sesuatu yang buruk setelah operasi, aku ingin kau tahu bahwa kaulah satu-satunya wanita yang aku cintai…”
“Mei, aku tak menyangka dia seberani ini. Senapan itu mungkin tak ada isinya. Pencuri itu masih remaja. Mei, tolong hubungi polisi.”
“Ya, Juni," kata Mei. Tak ada yang tahu, sadar atau tidak, Mei pun mengambil senapan.
Inilah yang terjadi. Lima belas menit kemudian polisi tiba. Mereka membawa seorang dokter, tapi Juni sudah keburu meninggal. Tertembak senapan tepat di jantungnya dalam jarak dekat.
"Kami berjanji akan menangkapnya, Nona Mei. Jangan khawatir," kata inspektur polisi. "Sayang Anda memegang senapan itu. Apakah Anda tidak menyadarinya?”
“Oh, saya begitu shock," kata Mei, "Belum pernah saya begitu terpukul seperti saat ini!”