Dulu Simbol Perlawanan Rakyat, Sate Kere Yu Tari Buktikan Kuliner Tradisional Bisa Naik Kelas
Karunia Rahma Dewi May 23, 2026 04:40 PM

TRIBUNBATAM.id - Kota Solo tak pernah kehabisan cerita tentang kuliner legendarisnya. Di antara deretan warung sate, ada satu nama yang kian bersinar yaitu Sate Kere Yu Tari. 

Dibalik aroma gurih bumbu kacangnya, terselip kisah perjuangan Hanafi (35), seorang mantan koki restoran yang memilih pulang ke akar tradisi demi menghidupkan warisan keluarga.

Setiap harinya, sebelum matahari benar-benar terbit, Hanafi sudah sibuk menyiapkan bahan baku. 

Sate Kere yang ia kelola bukan sekadar hidangan biasa, melainkan perpaduan jeroan sapi seperti babat, iso, kikil, usus, hingga tempe gembus yang dibakar sempurna.

“Kalau kulak di pasar sudah langganan, seperti jeroan ini sudah ada langganan tinggal chat nanti diantar ke rumah,” kata Hanafi, pada Sabtu (2/5/2025).

Kualitas rasa menjadi harga mati bagi Hanafi. Ia mengolah sendiri semuanya, mulai dari mengiris bahan hingga meracik bumbu rahasia menggunakan peralatan tradisional dan tungku untuk menjaga aroma otentik.

"Proses membuat sate kere itu panjang, tidak semua penjual bisa dan bertahan," ujar Hanafi. 

"Contohnya membuat sate sapi, kita tahu caranya agar bisa enak dan menghilangkan aroma prengus," jelasnya.

Kesegaran sajian juga menjadi kunci. Sate baru akan dibakar untuk kedua kalinya sesaat setelah pembeli memesan agar dihidangkan dalam keadaan hangat. 

Untuk satu porsi yang terdiri dari sembilan tusuk sate dan satu lontong, pembeli cukup merogoh kocek Rp 25 ribu.

Keputusan Hanafi terjun ke dunia sate kere bukanlah rencana awal. Sebelumnya, ia adalah seorang koki profesional. 

Namun, hantaman pandemi pada 2020 mengubah segalanya. Ia memutuskan resign dan melanjutkan usaha yang sudah dirintis keluarganya sejak tahun 1985.

“Sampai sekarang saya penerusnya jadi generasi kedua, ibu masih jualan tapi di car free day setiap Minggu saja,” ucap Hanafi. 

“Saya dulu kerja di restoran, pas pandemi Covid-19 saya resign, tepatnya 2021 saya membantu sate ini sampai sekarang,” tambahnya.

Hanafi dan adiknya sedang membakar Sate Kere makanan khas Solo.
Hanafi dan adiknya sedang membakar Sate Kere makanan khas Solo.

Jembatan Modal Menuju Ekspansi

Memulai bisnis mandiri tentu tidak mulus. Kendala utama yang dihadapi Hanafi saat itu adalah tingginya biaya sewa lapak di Kota Solo.

Di sinilah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi titik balik usahanya.

“Pertama kali KUR BRI itu pinjam Rp 25 juta tambahan modal, sempat ikut event biayanya tidak sedikit, tapi sekarang sudah lancar,” tutur Hanafi. 

Kedekatannya sebagai nasabah lama BRI memudahkannya dalam mengakses modal. 

“Sudah lama jadi nasabah BRI, banyak rekan-rekan di sana juga jadi lebih mudah,” tambahnya.

Tak hanya soal modal, Sate Kere Yu Tari kini resmi menjadi UMKM binaan BRI. Langkah strategis ini membuatnya sering terlibat dalam berbagai event kuliner besar. 

Dampaknya luar biasa, pendapatan Hanafi saat mengikuti pameran bisa melonjak hingga tiga kali lipat dari omzet harian yang biasanya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

“Di sini keuntungannya saya dapat pelanggan baru yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu rasa Sate Yu Tari, kadang minta nomor untuk dipesan,” ungkapnya senang.

“Pelanggan di tahun 2026 banyak dari luar kota, apalagi pas liburan sekolah, bisa jual 2000 tusuk,” tambahnya.

Kini, Sate Kere Yu Tari telah berkembang pesat dengan memiliki empat cabang di lokasi berbeda yaitu Car Free Day (CFD) Slamet Riyadi, Jalan Honggowongso, Jalan Prof. DR. Supomo, dan Pasar Gede (setiap Sabtu sore).

“Sekarang tambah lokasi lebih strategis dan ramai. Khusus Sabtu itu selalu habis karena pagi di Honggowongso dulu, lalu sorenya sampai malam di Pasar Gede.”

Meski sudah sukses, Hanafi tetap menaruh empati pada rekan sesama pedagang kecil. Ia berharap pengelola acara kuliner di Solo lebih ramah terhadap kantong UMKM.

“Buat pengusaha yang menggelar event-event kuliner, saya berharap harga sewanya terjangkau, kasihan kalau warung yang kecil-kecil disuruh bayar mahal,” tutupnya.

Sate Kere Yu Tari
Sate Kere Yu Tari yang ia kelola bukan sekadar hidangan biasa, melainkan perpaduan jeroan sapi seperti babat, iso, kikil, usus, hingga tempe gembus yang dibakar sempurna.

Sejarah Sate Kere

Secara etimologi, nama "Kere" memiliki makna yang mendalam. Hani Nurpratiwi, Dosen Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes), menjelaskan akar dari nama tersebut.

"Nama ‘kere’ dalam bahasa Jawa berarti miskin, sehingga sate kere dapat dimaknai sebagai sate dari golongan masyarakat bawah," jelas Hani pada Minggu (17/5/2026).

Munculnya sate kere bermula pada masa kolonial Belanda. Kala itu, sate daging adalah makanan mewah yang hanya bisa disantap oleh bangsawan dan kaum penjajah.

Masyarakat yang ekonominya terbatas tidak tinggal diam; mereka menciptakan alternatif sate menggunakan bahan yang lebih terjangkau, seperti tempe gembus atau jeroan sapi.

"Kondisi tersebut melahirkan sate kere sebagai bentuk kreativitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus cara dalam memanfaatkan bahan makanan yang ada," tambahnya.

Lebih dari sekadar pengganjal perut, sate ini merupakan bentuk "protes" halus terhadap ketimpangan sosial yang terjadi ratusan tahun lalu.

Masyarakat kecil ingin menunjukkan bahwa meski dengan bahan sederhana, mereka tetap bisa menikmati hidangan yang serupa dengan kaum elit, namun dengan identitas lokal yang kuat.

"Sate kere juga dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan simbolik masyarakat kecil terhadap ketimpangan sosial yang terjadi pada masa kolonial," tandasnya.

Sate kere telah bertransformasi dari "makanan rakyat jelata" menjadi salah satu ikon kuliner khas Solo yang diburu wisatawan.

(TribunBatam.id/Khistian Tauqid)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.