Sekolah Manfaatkan Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Bonding Orang Tua dan Siswa
rival al manaf May 23, 2026 05:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di era digital yang membuat tatap muka semakin minim, waktu bersama dengan orang terdekat menjadi krusial.

Bermain bersama, memnghabiskan waktu dengan kegiatan yang mampu meningkatkan bonding menjadi sesuatu yang perlu dilakukan.

Kegiatan seperti Family Day, sebagai ajang kebersamaan antara sekolah dengan orang tua dan siswa disebut bisa mempererat hubungan antar mereka di bidang pendidikan.

Baca juga: Tabrakan Keras Vario Vs Smash Tewaskan 1 Pengendara dan Lukai 2 Lainnya

Baca juga: Perkuat Literasi Keuangan sejak Dini, BI Tegal Luncurkan Buku Cerita Anak tentang Inflasi

Oleh karena itu, Sekolah Ciputra Kasih Semarang mengajak orangtua dan siswa untuk berkegiatan bersama pada Sabtu (23/5/2026).

"Dalam Family Day, sekolah mengangkat tema budaya Kota Semarang," kata Vincencia Harsanti,Kepala Sekolah Ciputra Kasih.

Acara diawali dengan iring iringan warak ngendog sebagai simbol budaya khas Semarang.

Selain itu, peserta juga diajak mengikuti tujuh pos permainan tradisional seperti bola bekel, dakon, dan engklek. 

Orangtua bersama siswa berbaur bersama dalam permainan tradisional.

Para orangtua bernostalgia, sedangkan bagi siswa ini bisa jadi hal baru.

Dimomen itulah kebersamaan antara siswa dan orangtua terjalin.

Sekolah juga menyediakan permainan berbasis smart board untuk mengenalkan lokasi bersejarah dan ikon Kota Semarang kepada siswa dan orang tua.

"Momen ini kami harapkan dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama orangtua siswa juga ditunjukkan gedung baru tahap kedua sebagai upaya memperluas kapasitas belajar, khususnya untuk jenjang SMA. 

Gedung baru tersebut memiliki 12 ruang kelas dengan kapasitas total mencapai 360 siswa.

School General Manager 2, Fenny Sukamto SPsi MM menyebutkan, pembangunan gedung baru dilakukan karena kapasitas ruang belajar di gedung lama sudah penuh seiring meningkatnya jumlah siswa dalam empat tahun terakhir sejak sekolah mulai beroperasi.

“Memasuki tahun kelima, kami membutuhkan gedung baru untuk perluasan,” imbuhnya

Gedung baru itu dipastikan mulai digunakan pada Juli mendatang bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru. 

Menurutnya, seluruh sarana dan prasarana di gedung baru telah disiapkan. 

Selain itu, proses perekrutan tenaga pengajar juga terus dilakukan dan telah mencapai lebih dari 50 persen.

“Kelas yang sekarang sudah penuh, jadi kami harus punya gedung kedua. Juli nanti gedung baru ini sudah pasti terpakai,” katanya.

Ia menilai pembangunan tahap kedua tersebut menjadi bagian dari pengembangan jangka panjang. 

Tidak menutup kemungkinan penambahan gedung kembali dilakukan dalam beberapa tahun ke depan karena lahan pengembangan masih tersedia.

Sementara itu, Board of Executive Director of Ciputra Education Foundation, Prof Denny Bernardus menambahkan, Sekolah Ciputra Kasih Semarang mencatat pertumbuhan jumlah siswa yang signifikan sejak mulai beroperasi. 

Dari jumlah siswa di bawah 50 orang pada 2022, kini sekolah tersebut telah memiliki 332 siswa.

Perkembangan jumlah siswa itu mendorong pembangunan gedung tahap dua yang menambah 12 ruang kelas baru beserta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.

Sekolah ini menjadi salah satu unit pendidikan dengan perkembangan tercepat di antara 12 sekolah yang berada dalam jaringan mereka.

Selain ruang kelas, gedung baru juga dilengkapi ruang audio visual, ruang OSIS, dan sejumlah fasilitas lain untuk mendukung pelayanan pendidikan.

Pengembangan fasilitas dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelayanan kepada siswa maupun orang tua di tengah persaingan sekolah swasta saat ini.

“Yang kami yakini itu kualitas pembelajaran dan servis pelayanan. Tidak hanya kepada siswa, tetapi juga orang tua,” katanya.

Sekolah juga mulai memperkuat layanan digital bagi orang tua murid. 

Melalui ponsel, orang tua dapat memantau nilai hingga absensi siswa tanpa harus datang langsung ke sekolah.

Pihaknya menilai penggunaan layanan berbasis digital penting karena sebagian besar orang tua siswa sudah terbiasa menggunakan perangkat gadget dalam aktivitas sehari-hari.

Setelah pembangunan tahap dua rampung, sekolah juga membuka peluang pengembangan tahap ketiga sesuai kebutuhan di masa mendatang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.