Tak Sekadar Event, Cahaya Manthovani Bawa Kreativitas Jadi Ruang Perubahan
Poetri Hanzani May 25, 2026 11:34 AM

Nakita.id -Perkembangan dunia kreatif saat ini terus bergerak dinamis seiring perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat. Kreativitas tidak lagi hanya dipandang sebagai bagian dari karya atau hiburan semata, tetapi juga menjadi kekuatan penting dalam membangun koneksi, menyampaikan pesan, hingga menciptakan dampak yang lebih luas di tengah publik.

Dari kondisi tersebut, lahir banyak sosok muda dengan ide segar dan cara pandang baru yang mampu membawa perubahan di berbagai bidang. Industri kreatif di Indonesia perlahan mengalami transformasi. Jika sebelumnya dunia ini identik dengan gaya formal dan korporatif, kini hadir generasi baru pemimpin muda yang membawa pendekatan lebih kolaboratif, humanis, sekaligus memiliki kepedulian sosial yang kuat.

Salah satu sosok yang mulai menarik perhatian adalah Cahaya Manthovani. Sebagai Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana, Cahaya berhasil memimpin berbagai event berskala nasional yang bukan hanya besar dari sisi pelaksanaan, tetapi juga memiliki narasi kuat dan memberi dampak positif bagi publik.

“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea, negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah langkah awal saya meniti karier,” ujar Cahaya Manthovani.

Ia menambahkan, “Sejak awal industri kreatif memang sudah ada dalam jiwa saya. Sementara dunia event hadir mengikuti perjalanan hidup. Dengan mengerjakan setiap pekerjaan penuh komitmen, Alhamdulillah banyak orang akhirnya percaya kepada saya.”

Sejumlah event besar berhasil ia pimpin, mulai dari Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 yang kembali mengangkat budaya tutur Nusantara, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap pembangunan desa, hingga Inklusiland 2025 yang membawa isu inklusivitas ke ruang publik melalui pendekatan kreatif.

Cahaya dinilai mampu menghadirkan formula baru dalam industri event dengan menggabungkan experience, storytelling, dan social impact dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pendekatan tersebut membuat berbagai event garapan Navaswara terasa semakin dekat dengan audiens muda dan lebih mudah membangun engagement publik.

“Kalau ingin membuat sebuah event, kita harus benar-benar paham tujuan utamanya apa. Dampaknya seperti apa? Apakah hanya bermanfaat untuk diri sendiri atau bisa menginspirasi banyak orang?,” papar Cahaya yang juga pernah menjabat sebagai CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai.

Ia melanjutkan, “Contohnya Suara Nusantara. Saya menginisiasi acara ini karena melihat banyak orang dari berbagai usia lebih sibuk dengan gadget masing-masing. Ketika diminta presentasi atau bersosialisasi, banyak yang memilih mundur atau merasa gugup.”

“Lalu bagaimana meningkatkan awareness dengan cara yang menyenangkan? Salah satunya melalui Suara Nusantara. Peserta diwajibkan membaca dan memahami cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia. Dampaknya bukan hanya melestarikan cerita rakyat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri serta menambah pengalaman peserta,” sambungnya.

Tak hanya aktif di industri kreatif, kiprah Cahaya Manthovani juga meluas ke bidang sosial. Melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menjalankan berbagai program sosial bagi anak-anak disabilitas dan komunitas inklusi. Salah satu program yang mendapat perhatian luas adalah Program Makanan Bergizi Gratis-Swasta di Provinsi Banten. Program ini melibatkan 12 UMKM lokal dan telah menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat dari sekolah-sekolah khusus atau disabilitas.

Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan tersebut juga pernah dipercaya menjadi CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Dalam ajang olahraga multi-event itu, kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 59 medali, terdiri dari 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.

Bagi Cahaya, pemberdayaan sosial harus dibangun lewat kolaborasi. “Untuk hal ini saya juga masih belajar, tetapi saya menyadari satu hal: kita hidup berdampingan dengan banyak individu lain. Peradaban tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” katanya.

Ia menambahkan, “Setiap event yang saya buat tidak cukup hanya dipromosikan lewat media sosial. Harus ada kolaborasi dengan berbagai sektor agar bisa menjangkau audiens baru.”

“Saya selalu membuka diri untuk belajar lewat kolaborasi. Namun tentu saya juga sangat selektif memilih orang yang bisa diajak bekerja sama, karena proses kurasi itu penting. Untuk ke depannya, strategi utama saya adalah mengandalkan word of mouth,” tambahnya.

Di balik keberhasilannya memimpin berbagai event nasional, Cahaya mengaku ada tantangan besar yang sering dihadapi, terutama terkait pandangan orang terhadap usianya yang dinilai terlalu muda.

“Tantangan terbesar saya adalah first impression dari orang-orang. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya, banyak yang mengira saya masih anak SMP, SMA, atau mahasiswa. Hampir tidak ada yang menyangka saya sudah berusia 26 tahun,” jelasnya.

“Seiring berjalannya waktu, biasanya mereka akan memperlihatkan niat yang sebenarnya, apakah jujur atau tidak, serius atau tidak, ingin mendukung atau justru menghalangi. Di situ saya mulai menunjukkan ketegasan, ketelitian, komitmen, dan fokus penuh terhadap tujuan pekerjaan saya demi mencapai kesuksesan,” lanjutnya.

Berkat kepemimpinan dan konsistensinya, Cahaya menerima sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kompas TV serta The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.

Di tengah munculnya banyak figur muda di industri kreatif, Cahaya Manthovani hadir bukan hanya sebagai pemimpin perusahaan, tetapi juga sebagai simbol generasi baru yang percaya bahwa kreativitas harus berjalan beriringan dengan empati dan dampak sosial.

“Harus sering belajar, rajin melatih skill apa pun yang diminati, banyak membaca buku maupun berita, lalu benar-benar memahaminya,” katanya lagi.

Ia menutup, “Menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Semua butuh waktu dan ketekunan. Kuncinya adalah percaya diri dan konsisten terhadap perkembangan diri.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.