PROHABA.CO, BANDA ACEH - Pasokan listrik di Provinsi Aceh akhirnya kembali normal sepenuhnya setelah sempat mengalami pemadaman massal akibat lumpuhnya sistem interkoneksi regional Sumatera.
Proses pemulihan yang berlangsung lebih dari 24 jam akhirnya berhasil dituntaskan oleh tim teknis PT PLN (Persero) bersama seluruh unit operasional di wilayah Sumatera.
Berdasarkan informasi terbaru dari PLN UID Aceh hingga Minggu (24/5/2026) pukul 05.07 WIB, seluruh jaringan transmisi dan distribusi yang sebelumnya mengalami gangguan telah berhasil dinormalkan kembali.
Kondisi ini menandai berakhirnya blackout besar yang sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat di berbagai daerah di Aceh.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, menyampaikan bahwa sistem kelistrikan di seluruh wilayah Aceh kini telah pulih total pascagangguan besar pada jaringan interkoneksi Sumatera.
“Sistem kelistrikan di wilayah Provinsi Aceh saat ini telah berhasil dipulihkan seluruhnya pascagangguan,” ujar Lukman Hakim dalam keterangannya pada Minggu pagi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung proses percepatan pemulihan kelistrikan selama masa gangguan berlangsung.
“PLN UID Aceh menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh stakeholder serta kesabaran masyarakat selama proses pemulihan berlangsung,” lanjutnya.
Baca juga: Listrik Padam Total di Sumatra, Aceh, Medan, hingga Riau Terdampak, PLN Selidiki Penyebabnya
Sebelumnya, pemadaman listrik berskala besar melanda Pulau Sumatera sejak Jumat (22/5/2026) malam sekitar pukul 18.44 WIB.
Gangguan tersebut berdampak luas terhadap sistem kelistrikan di sejumlah provinsi mulai dari Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh yang mengalami padam total.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, dalam konferensi pers resmi pada Sabtu (23/5/2026), menjelaskan bahwa gangguan bermula dari kerusakan pada jalur transmisi tegangan tinggi 275 kV di wilayah Jambi.
Jalur transmisi yang menghubungkan Muara Bungo dan Sungai Rumbai dilaporkan mengalami gangguan akibat cuaca ekstrem.
“Ada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca, sehingga terjadi gangguan pada sistem transmisi tersebut dan keluar dari sistem kelistrikan Sumatera,” ungkap Darmawan.
Lepasnya jalur transmisi Muara Bungo – Sungai Rumbai tersebut langsung memicu ketidakseimbangan beban ekstrem pada sistem kelistrikan di area sekitarnya.
Fenomena ini kemudian menciptakan efek domino bagi pembangkit-pembangkit lain di Sumatera.
Kondisi ini menyebabkan sebagian wilayah mengalami kelebihan pasokan daya atau oversupply, sementara wilayah lainnya mengalami kekurangan tegangan secara drastis.
Akibat ketidakseimbangan tersebut, sistem proteksi otomatis pada sejumlah pembangkit listrik bekerja untuk mencegah kerusakan mesin.
Baca juga: Forum Lalu Lintas Aceh Gelar Operasi Gabungan, Puluhan Angkutan Ilegal Ditertibkan di Leupung
Sejumlah unit pembangkit akhirnya mengalami trip atau mati otomatis secara berantai, sehingga memicu efek domino blackout di berbagai daerah yakni menyelimuti wilayah Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga berujung pada padam totalnya wilayah Provinsi Aceh.
Meskipun sistem transmisi utama dan belasan Gardu Induk (GI) di Aceh sudah berhasil dialiri tegangan secara bertahap sejak Sabtu (23/5/2026) pagi, aliran listrik ke rumah pelanggan tidak bisa langsung normal seketika.
PLN menjelaskan bahwa proses pemulihan sistem kelistrikan tidak dapat dilakukan secara instan karena setiap jenis pembangkit memiliki tahapan restart yang berbeda-beda.
Darmawan Prasodjo memaparkan bahwa waktu penormalan sangat bergantung pada jenis energi pembangkit itu sendiri.
Untuk pembangkit hidro dan gas seperti PLTA dan PLTG, proses sinkronisasi ke jaringan dapat dilakukan lebih cepat dengan estimasi waktu sekitar 5 hingga 15 jam.
Sementara itu, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara membutuhkan waktu pemulihan lebih lama, yakni sekitar 15 hingga 20 jam.
Hal ini karena operator harus memanaskan air menjadi uap secara bertahap dan menyalakan unit penyokong (auxiliary) satu per satu dengan presisi tinggi sebelum bisa disinkronkan kembali ke jaringan interkoneksi.
Meski demikian, PLN memastikan seluruh tahapan teknis, sinkronisasi pembangkit, hingga manajemen beban di wilayah perkotaan maupun pedalaman Aceh kini telah selesai dilakukan.
Dengan selesainya proses tersebut, pasokan listrik ke rumah pelanggan dipastikan kembali stabil dan andal.
(Serambinews.com/Yeni Hardika)
Baca juga: Ancaman Listrik Padam Bayangi Sumatra karena Stok Batubara Menipis, PLN Minta Atensi Gubernur
Baca juga: Inara Rusli Jenguk anak Virgoun dan Lindi, Hubungan Keduanya Kini Lebih Adem
Baca juga: Pemadaman Listrik Terjadi di Seluruh Sumatera, Bukan Hanya di Aceh