BANGKAPOS.COM -- Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menjadi sorotan setelah terjadi lampu mati massal (blackout) di sejumlah daerah di Pulau Sumatra.
Peristiwa tersebut membuat Darmawan Prasodjo menyampaikan permintaan maaf.
Menurut Darmawan, pihaknya terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian ESDM, dengan pemerintah daerah, dengan aparat terkait, dan seluruh stakeholder.
"Mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi di masyarakat. Karena sistem kelistrikan terutama di Sumatera bagian selatan, tengah, dan utara mengalami gangguan," ucapnya saat konferensi pers resmi di Jakarta pada Sabtu (23/5/2026) pagi.
"Kami berkolaborasi, kami bersama-sama memastikan agar proses recovery ini berjalan dengan cepat, dengan aman, dengan presisi, dan juga transparan," jelasnya.
Setelah peristiwa tersebut, sosok Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, langsung menjadi pusat perhatian publik. Bahkan harta kekayaan yang dimilikinya kini turut diulik.
Baca juga: Sosok Briptu Alim Dituntut Pacar Rp400 Juta usai Batal Nikah dan Didesak Pecat, Anggota Densus 88 AT
Darmawan Prasodjo di Magelang, Jawa Tengah, pada 19 Oktober 1970. Tahun ini, ia akan memasuki usia 56 tahun.
Darmawan Prasodjo pernah menempuh studi di Amerika Serikat selama 17 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air pada 2012 dan memulai karier di beberapa perusahaan.
Saat ini, Darmawan menjabat sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero) sejak Desember 2021 sampai sekarang.
Ia juga pernah mengisi sejumlah jabatan di perusahaan pelat merah BUMN, yakni PLN.
Pada 2019, Darmawan menjadi Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) berdasarkan keputusan Menteri BUMN selaku Rapat Umum Pemegang Saham Nomor SK-325/MBU/12/2019 tanggal 23 Desember 2019.
Setahun sebelumnya, ia menjadi Komisaris PLN pada Agustus 2018 - Desember 2019.
Selain di PLN, Darmawan pernah menjadi Presiden Komisaris Ametis Energi Nusantara 2013-2014. Kemudian, Deputi I Bidang Pengendalian, Pembangunan, Monitoring dan Evaluasi Program Prioritas Kantor Staf Presiden 2015-2019,
Berdasarkan data di laman resmi PLN, Darmawan juga pernah menjabat sebagai Co-chair Post 2015 Millenium Development Goals tahun 2013-2014, Kepala Jurusan di Prodi Green Economy di Surya University tahun 2012-2013, dan Direktur di Indonesia Center for Green Economy.
Riwayat Pendidikan
Mengenai pendidikannya, Darmawan Prasodjo menamatkan jenjang pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah di Magelang, Jawa Tengah.
Ia sekolah di SD Bersubsidi IV, Magelang. Lulus SD, melanjutkan pendidikan di SMP 2 Magelang dan SMA 1 Magelang.
Darmawan juga lulusan Computer Science dari Texas A&M University pada 1994.
Pada tahun 2000, ia melanjutkan studinya di bidang dan kampus yang sama pada 2000.
Setahun kemudian, Darmawan berhasil menyandang gelar doktor ekonomi terapan, ekonomi sumber daya alam di Texas A&M University kolaborasi pada 2011. Lantas, melanjutkan post doctoral di Duke University.
Harta Kekayaan
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diunggah di situs e-lkhpn, tercatat Darmawan Prasodjo memiliki harta mencapai Rp 110 miliar.
Baca juga: Kronologi Firdaus Jemaah Haji Indonesia Ditemukan Meninggal Dunia di Mekkah, Hilang sejak 15 Mei
Ia memiliki tanah bangunan, laat transportasi dan mesin, serta kas dan harta lainnya.
Adapun harta yang paling banyak berupa tanah dan bangunan yan gberada di Kota Tangerang, Bantun, Tangerang Selatan.
Sementara itu, ia memiliki hutang sebanyak Rp 625.567.445
Selengkapnya, data harta kekayaan Darmawan Prasodjo yang disampaikan 3 Februari 2026/Periodik - 2025:
Rincian Harta
A. TANAH DAN BANGUNAN Rp. 45.706.500.000
Tanah dan Bangunan Seluas 570 m2/1.300 m2 di KAB / KOTA KOTA TANGERANG SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 12.000.000.000
Tanah dan Bangunan Seluas 600 m2/72 m2 di KAB / KOTA BANTUL, Rp. 1.200.000.000
Tanah dan Bangunan Seluas 1.120 m2/500 m2 di KAB / KOTA BANTUL, Rp. 2.800.000.000
Tanah Seluas 2.060 m2 di KAB / KOTA KOTA TANGERANG SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 2.000.000.000
Tanah dan Bangunan Seluas 1.308 m2/1.594 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN , HASIL SENDIRI Rp. 22.900.000.000
Tanah dan Bangunan Seluas 555 m2/400 m2 di KAB / KOTA KLATEN, Rp 832.500.000
Tanah Seluas 1.310 m2 di KAB / KOTA KLATEN, Rp 250.000.000
Tanah Seluas 1.110 m2 di KAB / KOTA KLATEN, Rp 150.000.000
Tanah dan Bangunan Seluas 2.047 m2/500 m2 di KAB / KOTA BANTUL, HASIL SENDIRI Rp 2.400.000.000
Tanah Seluas 74 m2 di KAB / KOTA BANTUL, HASIL SENDIRI Rp 74.000.000
Tanah dan Bangunan Seluas 575 m2/372 m2 di KAB / KOTA KOTA DEPOK , HASIL SENDIRI Rp. 1.100.000.000
B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp. 1.262.000.000
1. MOBIL, HYUNDAI IONIC Tahun 2021, HASIL SENDIRI Rp 350000.000
2. MOTOR, E-MOTOR UNITED T1800 Tahun 2021, HASIL SENDIRI Rp 7.000.000
3. MOTOR, SMOOT TEMPUR Tahun 2023, HADIAH Rp 5.000.000
4. MOBIL, DENZA D9 Tahun 2025, HASIL SENDIRI Rp 900.000.000
C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp. 130.000.000
D. SURAT BERHARGA Rp. 20.588.000.000
E. KAS DAN SETARA KAS Rp. 42.976.764.551
F. HARTA LAINNYA Rp. 35.000.000
Sub Total Rp. 110.698.264.551
HUTANG Rp. 625.567.445
TOTAL HARTA KEKAYAAN (II-III) Rp. 110.072.697.10
PT PLN (Persero) mengungkap penyebab pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera pada Jumat (22/5/2026) malam.
Gangguan cuaca diduga menjadi pemicu awal yang kemudian menimbulkan efek berantai hingga mengganggu sistem kelistrikan di berbagai daerah.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan, indikasi awal menunjukkan gangguan terjadi pada ruas transmisi 275 kilovolt (kV) antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai, Jambi.
“Ini sebagai indikasi awal, ada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca,” ujar Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Gangguan pada jalur transmisi tersebut membuat sistem keluar dari jaringan kelistrikan Sumatera. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan pasokan dan beban listrik di sejumlah wilayah.
PLN menjelaskan, sebagian pembangkit mengalami kelebihan pasokan listrik (oversupply) karena aliran daya terputus.
Kondisi tersebut memicu kenaikan frekuensi dan tegangan sehingga sistem proteksi bekerja otomatis.
“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau dalam istilah publik pembangkitnya otomatis padam,” kata Darmawan.
Di sisi lain, wilayah yang kehilangan suplai pembangkit justru menghadapi kekurangan pasokan listrik.
Frekuensi dan voltase turun hingga akhirnya pembangkit lain ikut keluar dari sistem. PLN menyebut kondisi itu memicu efek domino yang meluas ke berbagai daerah.
“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” ujar Darmawan.
Gangguan tersebut berdampak pada sistem ketenagalistrikan dari Jambi, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh. Sejumlah wilayah lain seperti Sumatera Selatan juga terdampak.
PLN menegaskan pemadaman kali ini berbeda dengan gangguan listrik yang sebelumnya pernah terjadi akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.
Menurut Darmawan, pada peristiwa sebelumnya kerusakan dipicu putusnya transmisi dan robohnya menara listrik akibat bencana. Namun, gangguan kali ini tidak disebabkan kerusakan fisik infrastruktur.
“Ini kondisi yang sangat berbeda dalam bencana Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh pada waktu itu,” kata Darmawan. PLN menyebut gardu induk dan sistem transmisi telah berhasil dipulihkan.
“Hari ini kami menyampaikan bahwa gardu induk dan sistem transmisi kami sudah pulih,” ujar dia.
WIB PLN menyatakan langsung melakukan pemeriksaan dan pemulihan sistem sejak gangguan mulai terjadi pada Jumat (22/5/2026) pukul 18.44 WIB.
Ratusan personel diterjunkan dan bekerja selama 24 jam di berbagai wilayah terdampak, mulai dari Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh.
Darmawan mengatakan, proses pemulihan jaringan transmisi berhasil dilakukan dalam waktu sekitar dua jam.
“Alhamdulillah dalam waktu sekitar 2 jam, seluruh sistem gardu induk dan transmisi kami bisa kami pulihkan,” ujar dia.
Setelah jaringan transmisi kembali normal, PLN memprioritaskan penyalaan kembali pembangkit-pembangkit yang sebelumnya terdampak gangguan.
Proses tersebut dilakukan secara bertahap dan sistematis dengan tetap menjaga keamanan sistem kelistrikan.
PLN menjelaskan pembangkit berbasis hidro dan gas dapat lebih cepat kembali menyuplai listrik untuk mendukung pemulihan awal.
Sementara itu, pembangkit berbasis thermal seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) membutuhkan waktu lebih panjang.
Menurut Darmawan, proses menghidupkan kembali PLTU memerlukan tahapan pemanasan, sinkronisasi, hingga operasi penuh.
“Harus dinyalakan satu per satu, kemudian harus kami sambungkan dan kami sinkronkan, dan ini membutuhkan waktu,” kata dia.
PLN memperkirakan proses penyalaan PLTU membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 jam sejak start-up hingga kembali beroperasi penuh.
Adapun pemulihan sistem dilakukan secara simultan, mencakup transmisi, gardu induk, hingga pembangkit di sistem kelistrikan Sumatera.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)