TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Promosinya klub sepak bola asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni PSS Sleman ke Liga 1, menyusul saudara tuanya PSIM Yogyakarta yang lebih dulu berlaga di kasta tertinggi sepak bola nasional membawa angin segar sekaligus tantangan kultural.
Momentum ini dinilai harus menjadi tonggak pergeseran budaya suporter, dari narasi perseteruan menuju semangat persatuan melalui penguatan gagasan "Mataram is Love".
Keberhasilan dua klub kebanggaan masyarakat DIY ini menuntut kedewasaan seluruh elemen, mulai dari pengelola klub, pendukung, hingga pemangku kebijakan.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari DIY, Ahmad Syauqi Soeratno, menegaskan bahwa rivalitas di atas lapangan hijau tidak boleh lagi merembes menjadi konflik sosial di masyarakat.
Syauqi menyoroti bahwa kompetisi sepak bola harus dikembalikan pada muruahnya sebagai ruang perjumpaan yang sehat, bukan arena permusuhan.
"Sekarang ini kan sudah bukan masanya lagi menghidupkan pertandingan melalui narasi yang membawa ke wilayah konflik," kata Syauqi.
Dalam kacamata sosiokultural, sepak bola di Indonesia, yang dipelopori oleh berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), pada awalnya digagas sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa.
Mantan General Manager PSIM Yogyakarta ini memandang bahwa semangat dasar tersebut harus direvitalisasi, menjadikan DIY sebagai episentrum percontohan bagi kedamaian sepak bola nasional.
Mensyukuri keberhasilan klub-klub lokal adalah langkah awal untuk merajut rekonsiliasi budaya antarsuporter akar rumput.
"Jadi intinya kita syukuri PSS Sleman bisa ke Liga 1 bersama dengan PSIM Yogyakarta yang sudah promosi sebelumnya," ujar Syauqi.
"Kita gali lagi, mungkin berangkat dari DIY dan Jawa Tengah ini kita tunjukkan bahwa kompetisi itu maknanya adalah bersaing dalam kebaikan," tambahnya menegaskan pentingnya pemaknaan ulang terhadap kompetisi.
Tantangan terbesar dari bersatunya dua tim DIY di kasta yang sama adalah mitigasi gesekan di luar lapangan. Menghadapi hal ini, aparat keamanan dan pemerintah daerah dituntut untuk tidak sekadar melakukan pengamanan fisik yang reaktif, melainkan pendekatan preventif yang menyentuh akar sosial budaya masyarakat.
Syauqi mendorong Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk turun langsung menyentuh ruang sosiokultural warganya, mengedukasi arti sejati dari sebuah sportivitas agar perseteruan dapat diputus.
"Kapolres sudah saya sampaikan, nanti jelang pertandingan saya minta untuk duduk bersama merumuskan pola pengamanannya, pola utamanya di pencegahannya," ungkap Syauqi.
Ia juga mengingatkan landasan dari sebuah kompetisi yang sehat: "Ingat jiwa sportivitas itu berangkat dari bagaimana kita memastikan punya prestasi terbaik dalam kondisi yang objektif."
Perkembangan pesat kultur sepak bola di DIY tidak hanya berhenti pada PSS dan PSIM.
Mantan Ketua Umum Asprov PSSI DIY periode 2019–2023 itu melihat bahwa DIY memiliki ekosistem yang mapan untuk menjadi barometer sepak bola Indonesia.
Dukungan lintas daerah dianggap krusial untuk membangun iklim olahraga regional yang kuat.
"Kita sama-sama dorong juga Persiba Bantul supaya bisa naik, bahkan daerah sekitar seperti klub sepak bola Magelang juga," tuturnya.
Keberhasilan menumbuhkan budaya "Mataram is Love" dan nihilnya konflik pada akhirnya akan membawa dampak yang jauh lebih besar bagi DIY, termasuk kelayakan daerah ini di level nasional.
Dengan modal sosial yang kondusif serta infrastruktur yang mumpuni, DIY dinilai sangat siap untuk menyelenggarakan perhelatan olahraga berskala masif, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).
"Bisa saja gitu, fasilitas kita ada semua, MICE juga ada semua, bibit talenta juga luar biasa," tutup Syauqi.