TRIBUNJATENG.COM - Sehari setelah menembak Dedi Krisitian Agung (40), FJP (21) memilih untuk menyerahkan diri kepada polisi.
Dedi Krisitian Agung (40) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Lampung Tengah.
Sehari-hari ia juga nyambi berjualan ayam geprek.
Saat ditembak pun Dedi tengah berjualan. Saat itu, kedua anaknya yang masih kecil dan istrinya juga ada di lokasi, menyaksikan ayahnya betsimbah darah terkena tembakan.
Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Senin 25 Mei 2026, Naik Rp 500
FJP menembak Dedi di Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro pada Sabtu (24/5/2026) sekira pukul 19.50 WIB.
Dedi tewas akibat dua peluru yang bersarang di kepalanya, sementara FJP langsung melarikan diri.
Sehari setelah kabur, FJP akhirnya menyerahkan diri.
Kapolres Lampung Utara, AKBP Deddy Kurniawan juga membenarkan pelaku penembakan tersebut mendatangi Mapolres Lampung Utara untuk menyerahkan diri pada Minggu (24/5/2026).
Pelaku datang didampingi keluarganya dan Wakil Bupati Lampung Utara, Romli.
"Betul pelaku ini datang ke kantor kami dengan didampingi keluarga, informasi lanjutan ke Kasat Reskrim Polres Lampung Utara," kata AKBP Deddy Kurniawan saat dikonfirmasi via WhatsApp.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan mendalami motif asli di balik penembakan sadis ini, FJP kini sudah digelandang dan diserahkan ke Polda Lampung untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
Ditambahkan Kasatreskrim Polres Lampung Utara, AKP Ivan Roland Cristofel, pelaku juga membawa senpi yang digunakan untuk menembak Dedi.
"Tadi dalam proses penyerahan pelaku berikut senpi yang digunakan untuk menembak korban dihadirkan," kata AKP Ivan Roland Cristofel.
JFP diketahui tinggal Desa Sukadana Ilir, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara.
JFP mengaku menyerahkan diri karena dihantui perasaan takut dan yakin tidak akan bisa lolos dari kejaran petugas.
"Nama saya FJP, pelaku penembakan (Dedi) yang meninggal dunia di Metro. Saya menyerahkan diri dengan kesadaran kepada Resmob Polda Lampung karena takut ditembak di tempat," tuturnya dengan wajah pasrah, dalam video yang diterima Tribunlampung.co.id, Minggu malam.
Wakil Bupati Lampung Utara Romli meminta maaf kepada seluruh masyarakat pasca insiden penembakan yang menewaskan Dedi.
"Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Lampung Utara menyampaikan permohonan maaf karena warga kami membuat gaduh. Tentunya atas pelaku warga kami, saya mewakili warga Lampung Utara ingin minta maaf," kata Romli.
Romli mengaku akan menghormati proses hukum yang dijalankan pihak berwajib.
"Kami percaya dengan institusi Polri dalam penegakan hukum. Kami serahkan sepenuhnya. Mohon kiranya dapat dibimbing dan diluruskan apa yang menjadi harapan kita semua," tuturnya.
Dirreskrimum Polda Lampung Kombes Indra Hermawan ikut menyaksikan penyerahan pelaku.
Vita Lestari, istri dari Dedi Kristian Agung menceritakan peristiwa itu terjadi di Jalan Khairbras Jembatan Hitam, Kelurahan Ganjar Asri, Kota Metro, Lampung.
Peristiwa itu juga disaksikan langsung oleh dirinya dan kedua anak mereka yang masih kecil.
Saat itu suaminya Dedi menyambi berjualan ayam geprek.
Vita menceritakan, suaminya ditembak tepat di hadapannya serta dua anak mereka yang masih berusia 7 tahun dan 3 tahun.
Detik-detik suasana di tempat jualan mendadak berubah mencekam setelah terdengar letusan senjata api.
Anak korban bahkan sempat histeris melihat sang ayah terkapar bersimbah darah di depan mata mereka sendiri.
"Anak saya terus terang langsung teriak, Ayah kenapa, Bu? Ayah kenapa?" ungkap Vita, Minggu (24/5/2026).
Saat peristiwa itu terjadi, Vita mengaku kondisinya benar-benar syok dan tidak bisa berbuat banyak.
Warga di sekitar lokasi kejadian sempat tidak berani mendekat untuk menolong karena pelaku terus menodongkan senjata apinya dengan beringas.
Korban baru bisa dievakuasi ke rumah sakit sekitar 15 menit kemudian oleh petugas Babinsa dan warga setelah pelaku melarikan diri.
Sayang, nyawa Dedi tidak tertolong akibat luka tembak yang sangat fatal.
Menurut Vita, pemicu suaminya ditembak hingga roboh bersimbah darah itu diduga karena persoalan utang piutang.
Sebelum penembakan terjadi, Dedi sempat terlibat cekcok mulut hingga perkelahian fisik dengan pelaku di tengah jalan.
Vita sendiri menduga aksi penembakan ini sudah direncanakan matang oleh pelaku.
Sebab menurutnya pelaku kerap melontarkan ancaman setiap kali bertemu dengan suaminya.
Vita hanya bisa berharap keadilan yang seadil-adilnya ditegakkan.
"Enak dia mati tidak ada tanggungan, sedangkan suami saya mati meninggalkan dua anak yang masih kecil," pungkas Vita.
(TribunLampung.co.id)