Pemda SBT Rampungkan Saluran Air 180 Meter untuk Atasi Banjir di Desa Effa
Ode Alfin Risanto May 25, 2026 02:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mulai menangani persoalan banjir di Desa Effa, Kecamatan Wakate, melalui pembangunan saluran air di kawasan rawan banjir.

Pekerjaan tersebut kini telah rampung dikerjakan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) milik Pemerintah Kabupaten SBT.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Seram Bagian Timur, Rudi Wajo, mengatakan saluran air yang dibangun memiliki panjang 180 meter, lebar enam meter, dan kedalaman mencapai dua meter.

“Sekarang ini sudah selesai dengan panjang 180 meter, lebar enam meter dan kedalaman dua meter,” ujar Rudi saat diwawancarai melalui sambungan WhatsApp, Senin (25/5/2026).

Baca juga: 902 PPPK Paruh Waktu di Disdikbud Maluku Tengah Segera Digaji dari Dana BOS

Baca juga: DPRD Jamin Dalam Waktu Dekat Upah PPPK Paruh Waktu di Malteng Dibayarkan

Ia menjelaskan, pembangunan dilakukan di bagian belakang permukiman warga Desa Effa yang selama ini menjadi titik rawan luapan air ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Menurutnya, proyek itu merupakan langkah awal pemerintah daerah dalam merespons keluhan masyarakat terkait banjir yang hampir setiap tahun terjadi saat musim hujan.

“Dengan adanya pekerjaan ini masyarakat menyampaikan terima kasih karena ada antisipasi dari pemerintah daerah,” katanya.

Meski begitu, Rudi mengakui masyarakat sempat menunggu cukup lama sebelum proyek penanganan banjir mulai dikerjakan. Namun warga disebut memahami kondisi daerah yang tengah menghadapi efisiensi anggaran.

“Walaupun masyarakat menunggu agak lama, tapi masyarakat juga memahami kondisi efisiensi,” ujarnya.

Rudi menilai pembangunan saluran air saja belum cukup untuk mengatasi persoalan banjir secara menyeluruh di Desa Effa. Pemerintah daerah, kata dia, masih perlu melanjutkan penanganan dengan pemasangan bronjong atau penahan tanah di sekitar aliran air.

Ia khawatir tanpa penguatan tebing, air tetap berpotensi meluap dan membawa lumpur serta material tanah ke permukiman warga saat hujan deras terjadi.

“Kalau hanya membuat saluran air saja, nanti dampaknya air tetap meluap. Lumpur dan tanah juga ikut terbawa saat banjir,” tandasnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat kembali mengalokasikan anggaran lanjutan apabila kondisi keuangan daerah memungkinkan dan mendapat persetujuan bupati.

Rudi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten SBT dan DPRD yang telah mengawal penanganan banjir hingga pembangunan saluran air tersebut selesai dikerjakan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.