Kutukan Nomor 9 Chelsea: Mampukah Liam Delap Menghindari Nasib Seperti Alvaro Morata, Fernando Torres, dan Lainnya di Stamford Bridge?
Agus Firmansyah May 25, 2026 03:18 PM

Pemain anyar Chelsea yang didatangkan dari Ipswich Town, Liam Delap, akan mengenakan jersey nomor 9 yang terkenal penuh kutukan pada musim debutnya di Stamford Bridge setelah merampungkan transfer senilai £30 juta.

Banyak penyerang hebat dunia yang telah mengenakan nomor 9 untuk klub maupun negaranya – mulai dari Alan Shearer, Ronaldo, Gabriel Batistuta hingga Robert Lewandowski.

Namun, di Chelsea, nomor 9 tampaknya membawa beban yang lebih berat dibanding di tempat lain. Dalam era Premier League, banyak pemain di Stamford Bridge yang kesulitan tampil maksimal dengan nomor ikonik tersebut, bahkan mantan pelatih Thomas Tuchel sempat menyetujui anggapan bahwa "nomor itu terkutuk".

Liam Delap, dengan keberaniannya, memilih mengenakan nomor 9 untuk musim perdananya di London barat setelah bergabung dari Ipswich Town. Ia menjadi pemain pertama sejak musim 2022-23 yang memakai nomor tersebut. Kini pertanyaannya, mampukah penyerang muda timnas Inggris U-21 ini mematahkan kutukan yang menimpa para pendahulunya?

Lalu, siapa saja yang pernah memakai nomor tersebut dan seberapa buruk nasib mereka? Berikut ulasan para pemakai jersey nomor 9 Chelsea dalam beberapa tahun terakhir.

Awal Era Premier League (1992-2000)

Pemain pertama yang mengenakan nomor 9 di era Premier League untuk Chelsea adalah Tony Cascarino, antara 1992-1994. Sayangnya, pemain asal Irlandia ini hanya mencetak enam gol liga dalam dua musim, memulai tren buruk bagi pemakai nomor tersebut.

Dua pemain berikutnya tampil lebih baik. Mark Stein (1994-1996) mencetak 25 gol dalam 63 pertandingan, sebuah pencapaian yang cukup baik untuk era sebelum Roman Abramovich. Setelahnya, Gianluca Vialli (1996-1999) menjadi legenda klub dengan memenangkan Piala FA, Piala Liga, Piala Super UEFA, dan Piala Winners UEFA, sebelum akhirnya menjadi pelatih pada 1998.

Namun, kutukan nomor 9 kembali terasa di musim 1999-2000 ketika Chris Sutton hanya mampu mencetak satu gol liga setelah didatangkan dengan harga £10 juta dari Blackburn Rovers.

Jimmy Floyd Hasselbaink (2000-04)

Sebelum deretan kegagalan berikutnya, Chelsea sempat memiliki nomor 9 yang melegenda. Jimmy Floyd Hasselbaink, yang dibeli dari Atletico Madrid dengan rekor klub sebesar £15 juta, langsung mencetak gol di laga debutnya dan mengakhiri musim dengan 26 gol, lalu 29 gol pada musim 2001-02. Meski performanya menurun di dua musim terakhirnya, Hasselbaink tetap menjadi ikon era pra-Abramovich sebelum hengkang ke Middlesbrough pada 2004.

Mateja Kezman (2004-05)

Musim 2004-05 menjadi bersejarah bagi Chelsea di bawah asuhan Jose Mourinho yang membawa tim menjuarai Premier League. Namun, tidak semua rekrutan sukses. Mateja Kezman, yang datang dengan reputasi besar dari PSV Eindhoven, hanya mencetak empat gol dalam 25 pertandingan sebelum dijual ke Atletico Madrid di akhir musim.

Hernan Crespo (2005-06)

Setelah Kezman pergi, Hernan Crespo mengambil alih nomor 9. Meski kerap dianggap gagal, sebenarnya Crespo berperan penting dalam keberhasilan Chelsea mempertahankan gelar liga. Ia mencetak 13 gol di semua kompetisi, tetapi karena keluarganya tak betah di Inggris, Crespo dipinjamkan ke Inter Milan dan kemudian menghabiskan sisa kontraknya di Italia.

Khalid Boulahrouz (2006-2007)

Salah satu pemegang nomor 9 paling aneh di sejarah Chelsea adalah Khalid Boulahrouz, bek tengah asal Belanda. Setelah Crespo pergi, ia memilih nomor yang tersisa di skuad utama. Sayangnya, cedera dan performa buruk membuatnya jarang bermain dan akhirnya dijual setelah satu musim.

Steve Sidwell (2007-08)

Pada titik ini, kutukan nomor 9 sudah benar-benar melekat. Steve Sidwell, gelandang tengah yang tampil mengesankan di Reading, didatangkan secara gratis, tetapi gagal bersinar di Chelsea. Ia hanya bertahan satu musim dengan 25 penampilan sebelum dijual, melanjutkan pola pemain nomor 9 yang hanya bertahan satu musim.

Franco Di Santo (2008-09)

Setidaknya nomor 9 kembali ke tangan seorang penyerang. Namun, Franco Di Santo, striker muda asal Argentina, gagal mencetak satu pun gol dalam delapan laga Premier League sebelum dipinjamkan ke Blackburn Rovers dan kemudian dijual ke Wigan Athletic.

Fernando Torres (2011-14)

Setelah beberapa musim tanpa nomor 9, Fernando Torres datang dari Liverpool dengan biaya rekor Inggris sebesar £50 juta pada Januari 2011. Banyak yang berharap ia akan mematahkan kutukan itu, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Meski ada momen ikonik seperti gol ke gawang Barcelona di semifinal Liga Champions 2012, Torres juga terkenal karena gagal mencetak gol dalam 903 menit pertama dan peluang terbuka yang terbuang saat melawan Manchester United pada 2011.

Radamel Falcao (2015-16)

Setelah kembali absen dari nomor 9 pada musim 2014-15, Chelsea mendatangkan Radamel Falcao yang sebelumnya gagal di Manchester United. Di Stamford Bridge, nasibnya tak berubah: hanya satu gol dalam 10 laga sebelum kembali ke AS Monaco pada 2016.

Alvaro Morata (2017-18)

Musim 2016-17 tanpa nomor 9 diakhiri dengan kedatangan Alvaro Morata dari Real Madrid dengan biaya £70 juta. Namun, striker asal Spanyol ini gagal memenuhi ekspektasi dan dipinjamkan setelah 18 bulan. Sekembalinya, ia memilih nomor 29 untuk menghindari kutukan.

Gonzalo Higuain (2019)

Didatangkan dengan status pinjaman dari Juventus pada Januari 2019, Gonzalo Higuain hanya mencetak lima gol dalam 18 pertandingan. Ia tampak tidak cocok dengan ritme Premier League dan kembali ke Italia setelah musim berakhir.

Tammy Abraham (2019-21)

Tammy Abraham menjadi harapan baru di bawah asuhan Frank Lampard ketika klub terkena larangan transfer. Produk akademi Chelsea ini tampil impresif dengan 18 gol dalam 47 laga musim 2019-20, membantu tim lolos ke Liga Champions. Namun, musim berikutnya performanya menurun dan ia akhirnya dijual ke AS Roma pada 2021. Meski begitu, Abraham dianggap sebagai salah satu pemakai nomor 9 terbaik Chelsea dalam beberapa tahun terakhir.

Romelu Lukaku (2021-22)

Romelu Lukaku kembali ke Chelsea dengan status rekor klub senilai £97,5 juta setelah sukses di Inter Milan. Namun, ia hanya mencetak delapan gol dalam 26 laga Premier League. Cedera, performa menurun, dan wawancara kontroversial membuatnya gagal memenuhi ekspektasi. Setelahnya, ia dipinjamkan ke Inter dan AS Roma sebelum akhirnya bergabung ke Napoli secara permanen pada 2024.

Pierre-Emerick Aubameyang (2022-23)

Didatangkan dari Barcelona atas rekomendasi Thomas Tuchel, Pierre-Emerick Aubameyang hanya sempat tampil sebentar di bawah arahan mantan pelatihnya sebelum Tuchel dipecat. Striker asal Gabon ini mencetak satu gol dalam 15 laga Premier League, bahkan tidak masuk skuad Liga Champions untuk babak gugur. Setelah satu musim, ia dilepas dan bergabung dengan Marseille.

Kini, Liam Delap akan mencoba menjadi pemain yang mampu menghapus kutukan panjang nomor 9 Chelsea. Apakah ia akan berhasil mematahkan tradisi buruk tersebut, atau justru menambah daftar panjang kegagalan di Stamford Bridge?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.