SURYA.CO.ID SURABAYA - Pemkot Surabaya memperkuat armada pemadam kebakaran dengan kendaraan roda dua untuk menembus gang sempit demi mempercepat response time 6,5 menit, seiring rencana pengadaan 2026 dan peningkatan kesiapsiagaan di permukiman padat di Surabaya.
Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat layanan pemadam kebakaran dengan menyiapkan kendaraan roda dua yang dirancang khusus untuk menjangkau kawasan padat dan gang sempit yang sulit dilalui mobil damkar berukuran besar.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi percepatan penanganan kebakaran agar api dapat segera dikendalikan sejak awal kejadian.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya, Laksita Rini, menjelaskan bahwa pengadaan armada baru akan dilakukan pada 2026 untuk memperkuat respons di wilayah perkotaan yang semakin padat.
“Untuk mendukung response time 6,5 menit itu, ke depan untuk jalan-jalan kecil di Kota Surabaya pada 2026 nanti ada pengadaan kendaraan seperti Walang Kadung dan Walang Kekek,” kata Rini.
Saat ini, DPKP Surabaya telah mengoperasikan 12 unit kendaraan roda dua pemadam kebakaran yang terdiri dari “Walang Kekek” dan “Walang Kadung”. Keberadaan armada tersebut akan terus diperluas agar setiap pos dan rayon memiliki dukungan kendaraan yang memadai.
“Minimal per pos dan rayon harus ada satu,” katanya.
Selain penguatan armada, DPKP Surabaya juga melakukan evaluasi menyeluruh setiap terjadi insiden kebakaran, mulai dari kesiapan personel hingga kondisi peralatan.
“Begitu ada kejadian langsung kita evaluasi semuanya, baik SDM maupun peralatannya. Jadi langsung kita monitor dan kita perbaiki,” ucapnya.
Upaya Pemkot Surabaya dalam mempercepat penanganan kebakaran mendapat apresiasi dari Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, yang menilai inovasi kendaraan roda dua sebagai langkah tepat untuk menjangkau wilayah padat penduduk.
“Masih ditambah lagi tim Walang Kadung sama Walang Kekek yang demikian hebat untuk masuk ke gang-gang dan sebagainya,” katanya.
Ia juga menilai capaian response time Surabaya sudah mendekati standar internasional yang idealnya tidak lebih dari enam menit.
“Internasional itu response time tidak boleh lebih dari 6 menit. Dan Surabaya juga bisa 6 menit. Ini yang terus terang saya apresiasi,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kepadatan penduduk dan nilai aset masyarakat menuntut respons cepat tanpa keterlambatan.
“Penduduk semakin padat, barang masyarakat semakin berharga, nyawa publik jauh lebih berharga lagi. Tidak bisa kita terlambat satu menit pun,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya dukungan penuh terhadap petugas pemadam kebakaran sebagai garda terdepan penyelamat nyawa warga.
“Penyelamat nyawa publik itu harus dipenuhi kebutuhannya. Ini yang paling penting,” tuturnya.