Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi-hepatologi FK UI, RSCM, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, mewanti-wanti keluhan pencernaan yang bisa berujung komplikasi serius. Salah satunya datang dari inflammatory bowel disease (IBD). Kondisi ini kerap tidak disadari lantaran gejalanya samar dengan masalah pencernaan lain.
Padahal, kasus IBD terus meningkat, utamanya di kelompok usia produktif mulai dari 15 hingga 30 tahun. Mengacu riset Asia-Pacific Crohn's and Colitis Epidemiologic Study, insiden kasus di Indonesia tercatat sebanyak 0,77 per 100 ribu penduduk.
Angkanya bisa relatif lebih tinggi dari yang dilaporkan lantaran kasus IBD kerap tak terdeteksi sampai sudah di fase lanjut.
"Kasusnya semakin tinggi di masyarakat, kemudian dampaknya juga mengganggu kualitas hidup, kenapa? Karena pasien-pasien ini akan bermasalah, diare berulang, buang air besar berdarah, berat badan turun, dan kalau ini tidak ditangani dengan baik, berisiko tinggi termasuk ke kanker usus besar," beber Prof Ari kepada detikcom Sabtu (23/5/2026).
"Kita tahu bahwa kanker usus besar sekarang meningkat di tengah masyarakat, salah satunya karena perjalanan dari IBD," tandasnya.
Mengutip literatur klinis gastroenterologi yang juga disusun Prof Dr dr Marcellus Simadibrata, Sp.PD-KGEH dan tim perhimpunan ahli pencernaan, Prof Ari menekankan ada sekitar 10 persen pasien diare non infeksi disebabkan IBD.
"Memang angkanya masih sekitar 10 persen, tetapi yang ini harus dilihat kalau tidak diobati dengan baik, dia juga menjadi pasien peradangan maka potensi untuk menjadi cancer menjadi lebih cepat," wanti-wanti Prof Ari.
Prof Ari mengingatkan pasien perlu waspada saat mengalami diare berulang lebih dari dua pekan berturut-turut, disertai berat badan menurun, hingga buang air besar berdarah.
Beberapa makanan yang bisa memicu kekambuhan IBD diimbau untuk dihindari, termasuk gudeg, rendang, hingga sate. "Makanan berlemak, keju, coklat, makanan ultra processed food juga bisa memicu," pungkas Prof Ari.





