TRIBUNJATIM.COM – Nama Hajime Moriyasu kembali menjadi sorotan jelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Pelatih Timnas Jepang itu dinilai berhasil membawa Samurai Biru berkembang menjadi salah satu kekuatan paling disegani di Asia.
Ketika banyak pelatih tampil emosional di pinggir lapangan, Moriyasu justru dikenal dengan pembawaannya yang tenang dan penuh perhitungan.
Sikap itulah yang perlahan membentuk karakter Timnas Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Moriyasu bukan sosok yang meraih kesuksesan secara instan. Ia memulai semuanya dari bawah sebagai pemain yang nyaris tak diperhitungkan.
Kini, setelah sukses membawa Jepang tampil kompetitif di Piala Dunia 2022 dan menjadi salah satu tim Asia paling konsisten, Moriyasu mulai berani memasang target besar untuk Piala Dunia 2026.
Bahkan, pelatih kelahiran Kakegawa tersebut secara terbuka menyatakan ambisinya membawa Jepang menjadi juara dunia, sesuatu yang belum pernah dicapai negara Asia mana pun dalam sejarah sepak bola.
Perjalanan dari Pemain Tak Dikenal
Kisah Hajime Moriyasu dimulai pada 1987 ketika ia bergabung dengan Matsuda Football Club, klub yang kemudian berkembang menjadi Sanfrecce Hiroshima. Saat itu, Moriyasu hanyalah pemain muda yang belum dikenal publik.
Dikutip dari Tribunnews, Moriyasu bahkan sempat dibuang ke tim satelit Matsuda SC Eastern demi mendapatkan menit bermain. Tidak banyak yang memprediksi dirinya akan menjadi sosok penting dalam sepak bola Jepang.
Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil pada 1991 ketika ia mendapatkan kontrak profesional pertamanya.
Setelah J-League resmi dimulai pada 1993, Moriyasu perlahan menjelma menjadi gelandang bertahan andalan Sanfrecce Hiroshima.
Loyalitas Moriyasu kepada Hiroshima sempat diuji ketika klub mengalami krisis finansial pada 1997.
Suporter sampai melakukan aksi tanda tangan massal untuk menolak penjualan Moriyasu sebelum akhirnya ia dipinjamkan ke Kyoto Purple Sanga.
Baca juga: Luka Modric Masih Jadi Andalan Timnas Kroasia di Piala Dunia 2026, Ini Profil dan Karir Sang Maestro
Tak Menyerah Meski Cedera
Perjalanan Moriyasu sebagai pemain tidak selalu berjalan mulus. Cedera mulai mengganggu performanya memasuki awal tahun 2000-an hingga posisinya perlahan mulai tergeser.
Manajemen Sanfrecce Hiroshima bahkan sempat menyarankan Moriyasu untuk pensiun pada 2002. Namun, ia menolak menyerah dan memilih pindah ke Vegalta Sendai demi membuktikan dirinya masih mampu bersaing.
Keputusan tersebut menjadi bukti karakter Moriyasu yang tidak mudah menyerah dalam situasi sulit. Ia baru benar-benar gantung sepatu pada awal 2004.
Mentalitas pekerja keras itu kemudian menjadi fondasi utama dalam karier kepelatihannya. Moriyasu dikenal sebagai sosok yang tenang, rendah hati, namun memiliki disiplin tinggi dalam membangun tim.
Baca juga: Sosok Vinicius Junior, Andalan Baru Brasil di Piala Dunia 2026 Penerus Jogo Bonito
Kesuksesan Besar sebagai Pelatih
Karier kepelatihan Moriyasu dimulai sebagai asisten pelatih Sanfrecce Hiroshima pada 2004. Dilansir dari BolaSport.com, ia menghabiskan sekitar enam tahun sebagai asisten sebelum sempat pindah ke Albirex Niigata.
Kemampuannya berkembang pesat hingga akhirnya kembali direkrut Sanfrecce Hiroshima sebagai pelatih kepala pada 2012. Di sinilah nama Moriyasu mulai dikenal luas di Jepang.
Moriyasu sukses membawa Sanfrecce Hiroshima menjuarai J1 League dua musim beruntun pada 2012 dan 2013, lalu menambah satu gelar lagi pada 2015.
Selama lima tahun melatih Hiroshima, Moriyasu memimpin 265 pertandingan dengan rata-rata 1,66 poin per laga. Kesuksesan itu menjadi jalan pembuka menuju kursi pelatih Timnas Jepang.
Baca juga: Sosok Tony Popovic, Pelatih yang Bikin Timnas Australia Bangkit di Piala Dunia 2026
Tangan Dingin di Piala Dunia
Nama Hajime Moriyasu semakin mendunia setelah keberhasilan Jepang menumbangkan Jerman di Piala Dunia 2022.
Kemenangan 2-1 atas raksasa Eropa tersebut menjadi salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola Jepang.
Moriyasu menjadi sosok penting di balik comeback Jepang atas Jerman. Setelah tertinggal lebih dulu, ia melakukan perubahan taktik dari formasi 4-2-3-1 menjadi 3-4-3 pada babak kedua.
Keputusan itu terbukti jitu. Dua pemain pengganti, Ritsu Doan dan Takuma Asano, berhasil mencetak gol kemenangan untuk Samurai Biru.
Setelah sukses membawa Jepang tampil impresif di Piala Dunia 2022, Moriyasu kini memasang target lebih tinggi untuk edisi 2026. Ia tidak lagi hanya berbicara soal lolos fase grup atau mencapai 16 besar.
Ia percaya Jepang kini memiliki kualitas untuk bersaing dengan negara-negara elite dunia. Bahkan, ia mulai berani membicarakan peluang menjadi juara dunia.
Baginya, tugas seorang pelatih bukan sekadar memenangkan pertandingan, tetapi juga mengangkat level sepak bola Jepang agar sejajar dengan kekuatan besar dunia.