Thom Haye Balas Fabio Lefundes soal Borneo FC Gagal Juara karena Aturan H2H: Melindungi Juara
Lailatun Niqmah May 25, 2026 08:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Pemain Persib Bandung, Thom Haye memberikan tanggapan terkait ucapan pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes yang viral.

Borneo FC gagal juara Super League 2025-2026, karena kalah head to head (H2H) dari Persib Bandung.

Secara head to head, Borneo FC belum pernah menang lawan Persib Bandung musim ini (1 kali kalah, 1 kali imbang).

Hal itu membuat mereka gagal juara, meski poin sama.

Setelah gagal juara, Fabio Lefundes mengatakan Borneo FC unggul dari siapa pun dari segi performa, namun karena aturan H2H jadi kalah.

Baca juga: Setelah Juara, Ini Daftar Pemain Persib Bandung yang Habis Kontrak, Kans Diperpanjang, dan Dilepas

"Sayang sekali, gelar juara hilang hanya karena aturan head-to-head. Padahal, jika kita bicara data statistik, performa kami di atas kertas jauh mengungguli siapapun," ujar Fabio Lefundes, dikutip dari TribunKaltim, Sabtu (23/5/2026).

"Kami adalah tim dengan kemenangan terbanyak dan paling produktif dengan 74 gol."

"Kami memecahkan rekor 11 kemenangan beruntun dan menjadi tim paling kokoh di kandang dengan 15 kemenangan di Segiri."

"Kami memiliki kiper terbaik dan tiga pemain di Best XI. Musim ini kami gagal juara, tapi kami sudah menciptakan sejarah besar bagi klub ini," sambungnya.

Ucapan Fabio Lefundes ini kemudian viral, satu di antaranya diposting akun Instagram @laode_football, Minggu (24/5/2026).

Di kolom komentar, Thom Haye memberikan tanggapan.

Menurut Thom Haye, aturan head to head dibuat agar tak ada kecurangan seperti penganturan skor.

"Mungkin aturan itu ada untuk melindungi juara sejati dari hasil seperti pertandingan terakhir," kata Thom Haye.

 

 

Mengapa Aturan H2H Dipakai?

Aturan head to head merupakan aturan yang digunakan untuk menentukan juara, apabila poin yang dimilik 2 atau lebih klub sama.

Aturan ini dipakai di sejumlah liga, seperti Liga Italia, Liga Spanyol, Liga Arab Saudi, hingga Liga Jerman.

Sementara di Indonesia, aturan head to head ini digunakan sejak 2017 lalu.

Baca juga: Setelah Persib Juara, Cek Daftar Pemain yang Dirumorkan Gabung Maung Musim Depan, Mewah & Gacor

Mengapa Bukan Selisih Gol?

  • Lebih adil: Menilai siapa yang unggul ketika bertemu langsung, bukan sekadar produktivitas gol melawan tim lemah.
  • Mengurangi manipulasi skor: Klub tidak bisa sekadar "membantai" tim kecil atau tim lain untuk memperbaiki selisih gol.

Sebagai contoh, apabila diberlakukan selisih gol, klub yang butuh juara atau bertahan, bisa 'membeli gol' sehingga hasil laga terlihat sangat tidak wajar, seperti 7-1, 9-0, 10-2, dan lainnya, yang kemudian disebut sepak bola gajah.

  • Sejalan dengan aturan AFC: Kompetisi resmi di bawah naungan AFC di Asia memang mengutamakan H2H sebagai penentu utama.

Pada kompetisi Super League 2025-2026, aturan head to head jelas sudah disampaikan di awal, bahkan sebelum liga dimulai.

Aturan ini pun telah disetujui oleh klub-klub yang berpartisipasi.

Sebelum kasus Borneo FC dan Persib Bandung yang poinnya sama di perebutan juara, sudah pernah terjadi hal serupa pada 2017.

Kala itu, Bhayangkara FC dan Bali United sama-sama mengemas 68 poin.

Jika berdasarkan selisih gol total, Bali United sebenarnya jauh lebih unggul (+38 gol) dibandingkan Bhayangkara FC (+21 gol). 

Namun, karena Liga 1 menggunakan regulasi H2H sebagai pemutus pertama, Bhayangkara FC yang berhak mengangkat trofi juara.

Apakah Pernah Coba Format Lain?

Jawabannya ya, contoh terbarunya adalah format musim 2023-2024.

Saat itu, Liga 1 menggunakan sistem reguler (34 pekan), empat tim teratas klasemen tidak langsung ditentukan juara.

Keempat klub itu kemudian masuk Championship Series (semifinal dan final) untuk memperebutkan gelar.

Sistem ini mirip playoff, sehingga juara ditentukan bukan hanya dari konsistensi sepanjang musim, tapi juga performa di fase gugur.

Kala itu, empat tim yang lolos Championship Series adalah Borneo FC, Persib Bandung, Bali United, dan Madura United.

Semifinal dimainkan dengan format home & away.

Final digelar dua leg, dan akhirnya Persib Bandung keluar sebagai juara Liga 1 2023/24 setelah mengalahkan Borneo FC.

Format itu juga telah disetujui oleh klub-klub peserta kompetisi, namun di akhir menuai kontroversi.

Sebagian menganggap klub yang menempati klasemen puncak, bisa gagal juara.

Format ini kemudian di ubah pada musim berikutnya, dikembalikan ke reguler, pemuncak klasemen yang juara.

Jauh sebelum itu, Liga di Indonesia juga pernah menggunakan format pembagian grup (barat dan timur), seperti saat ISL 2014.

Format ini lantas diganti, PSSI dan operator liga mengembalikan kompetisi ke standar internasional (sistem satu wilayah penuh / double round-robin). 

Beberapa alasannya, menjaga kualitas kompetisi & aspek kompetitif, standar FIFA, pengurangan jumlah peserta agar tidak membengkak, hingga penyesuaian dengan agenda internasional.

(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.