TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI -- Rabu (20/5/2026) pagi, di tepi Sungai Batanghari di Desa Niaso, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, tiga pekerja masuk ke palka kapal tongkang.
Zulkarnain (42), Popo (32), dan Rudiansyah (41); ketiganya ditugaskan untuk memperbaiki sesuatu pada kapal yang bersandar itu.
Menurut keterangan sakti mereka masuk ke ruang palka itu sekitar pukul 08.55 WIB.
Ketiga pekerja yang meninggal itu merupakan warga Pontianak, Kalimantan Barat.
Mereka dilaporkan meninggal dunia setelah tidak memberikan respons saat melakukan pekerjaan perbaikan di dalam palka Tongkang KM TS Daya Niaso.
Setelah ketiga korban turun ke dalam palka tongkang untuk melakukan perbaikan, mereka dikabarkan lemas.
Namun tak lama kemudian, awak kapal di atas sempat memanggil namun, ketiganya tidak merespons saat dipanggil.
Pemilik tongkang bernama Sani kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Kantor SAR Jambi sekitar pukul 09.15 WIB.
Menerima laporan itu, Kantor SAR Jambi langsung mengerahkan 14 personel tim rescue menuju lokasi menggunakan jalur darat dan air.
Evakuasi di Ruang Pengap
Proses evakuasi berlangsung cukup dramatis karena korban berada di ruang terbatas atau confined space.
Ruang palka itu minim oksigen dan, berdasarkan keterangan yang diperoleh tim SAR, diduga mengandung gas beracun.
Dalam proses evakuasi, Tim SAR Gabungan menggunakan peralatan khusus Confined Space Rescue (CSR).
Zulkarnain adalah korban pertama yang berhasil dievakuasi pada pukul 10.58 WIB.
Namun, ia keluar dari lambung kapal itu dalam kondisi meninggal dunia.
Lima menit kemudian, korban kedua atas nama Popo berhasil diangkat.
Terakhir, Rudiansyah diangkat pada pukul 11.08 WIB.
Dua terakhir yang dievakuasi, juga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Visum dan Dipulangkan
Seluruh jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses visum dan penanganan lebih lanjut.
Setelahnya, ketiga korban dipulangkan ke rumah duka di Pontianak.
Operasi SAR melibatkan Kantor SAR Jambi, Polairud Polda Jambi, kru Rigid Buoyancy Boat (RBB), serta masyarakat setempat.
Operasi pencarian dan evakuasi dinyatakan selesai setelah seluruh korban berhasil dievakuasi.
Penyebab Kematian Masih Misteri
Penyebab meninggalnya tiga pekerja kapal di palka tongkang KM TS Daya Niaso di aliran Sungai Batanghari, hingga kini masih misteri.
Polisi masih melakukan penyelidikan. Polisi masih mendalami dugaan para korban tewas akibat menghirup gas beracun dalam insiden yang terjadi pada Rabu (20/5/2026) lalu.
Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Jambi, AKBP Febri Andy, mengatakan pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa sejumlah saksi terkait kejadian tersebut.
"Hingga saat ini masih lidik, kita sudah melakukan olah TKP.
"Para korban sudah dievakuasi dan dipulangkan ke rumah duka di Pontianak," ujar Febri Andy pada Senin (25/5/2026).
Menurut Febri, beberapa saksi yang telah dimintai keterangan antara lain nakhoda kapal dan anak buah kapal (ABK) yang berada di lokasi saat peristiwa terjadi.
"Sudah ada beberapa saksi yang diperiksa, termasuk nakhoda kapal dan ABK kapal," katanya.
Selain memeriksa saksi, penyidik juga akan meminta klarifikasi dari pihak perusahaan guna mendalami penyebab insiden maut tersebut dan melengkapi proses penyelidikan.
Febri menambahkan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil visum terhadap ketiga korban.
"Setelah mereka dievakuasi langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara dan divisum. Dan sekarang kita juga tunggu hasil visum keluar," jelasnya.
Baca juga: Polisi Pastikan Blackout di Jambi-Sumatra bukan Sabotase sebab Putusnya Kabel tidak Rapi
Baca juga: Eks Kadisdik dan 2 Tersangka Rasuah Alat Praktik Masih Mendekam di Rutan Polda Jambi
Baca juga: Peluru Memecah Air saat Terduga Bandar Narkoba di Bungo Seberangi Sungai Batang Tebo