TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Di sudut Desa Sepang, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, suara mesin molen bercampur tawa warga terdengar sejak pagi.
Tangan-tangan penuh semen dan lumpur itu bekerja tanpa lelah, menyatu bersama prajurit TNI yang datang bukan untuk berperang, melainkan membawa harapan.
Di desa yang sebelumnya akrab dengan jalan berlumpur, keterbatasan air bersih, hingga rumah-rumah yang mulai rapuh dimakan usia, Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-128 Tahun 2026 hadir menjadi cahaya perubahan.
Program yang resmi dibuka pada 22 April 2026 dan berakhir pada 21 Mei 2026 itu bukan sekadar pembangunan fisik.
Lebih dari itu, TMMD menjadi simbol kebersamaan antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih layak bagi warga desa.
Dengan mengusung tema "TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri", Desa Sepang perlahan berubah.
Jalan yang dulu hanya berupa tanah licin kini mulai terbentang rabat beton sepanjang 1.000 meter.
Jalan itu bukan hanya menghubungkan satu dusun ke dusun lain, tetapi juga menghubungkan harapan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Bagi warga, perubahan itu terasa nyata.
Herkulanus (51), warga Desa Sepang, masih mengingat bagaimana sulitnya melintasi jalan tersebut saat hujan turun.
Lumpur tebal membuat kendaraan sulit masuk, bahkan anak-anak kerap berjalan kaki dengan pakaian penuh tanah ketika pergi sekolah.
"Kalau dulu hujan turun jalannya susah dilewati karena becek. Sekarang kendaraan sudah mudah masuk dan kami juga lebih nyaman beraktivitas," ujarnya.
Di balik pembangunan jalan itu, terlihat pemandangan yang menghangatkan hati.
Baca juga: 10 Tahun Berturut-turut Raih WTP, Bupati Erlina: Komitmen Pemkab Mempawah Kelola Keuangan Transparan
Prajurit TNI dan warga bekerja bersama tanpa sekat. Mereka mengangkat batu, menyusun material, hingga meratakan semen dengan penuh semangat gotong royong.
Bagi Dandim 1201/Mempawah Letkol Czi Ali Isnaini, TMMD bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi membangun kebersamaan.
"TMMD ini adalah bentuk kebersamaan kita semua, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, seluruh program TMMD dirancang bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat desa yang membutuhkan perhatian lebih.
"Yang merencanakan ini adalah kita semua. Ada dukungan dana dari pemerintah daerah, personel dari TNI, Polri, serta partisipasi aktif masyarakat. Kita benar-benar bersatu untuk membangun desa," katanya.
Tak hanya jalan, TMMD juga menyentuh sisi paling mendasar kehidupan masyarakat, yakni kebutuhan air bersih dan sanitasi.
Di SMP Negeri 2 Toho, para siswa kini tak lagi kesulitan mendapatkan air bersih.
Sumur bor dan fasilitas MCK yang dibangun Satgas TMMD menjadi jawaban atas persoalan yang selama ini mereka hadapi.
Sebelumnya, sekolah tersebut harus bertahan dengan fasilitas air yang sangat terbatas.
Kondisi itu membuat lingkungan sekolah kurang nyaman dan menyulitkan aktivitas belajar mengajar.
Kini keadaan berubah.
Air bersih mulai mengalir di lingkungan sekolah.
Siswa dapat mencuci tangan dengan layak, sementara fasilitas sanitasi yang lebih baik mulai menghadirkan suasana belajar yang sehat.
Kepala SMP Negeri 2 Toho, Fajriah, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Satgas TMMD Kodim 1201/Mempawah. Bantuan ini benar-benar membantu kami, terutama dalam menyediakan air bersih dan fasilitas MCK yang layak," ungkapnya.
Baginya, bantuan tersebut bukan hanya bangunan fisik, tetapi bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan anak-anak desa.
"Dengan adanya fasilitas ini, kami berharap siswa bisa lebih disiplin dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah," tambahnya.
Kepedulian TMMD juga menyentuh rumah-rumah warga.
Sebanyak enam unit rumah tidak layak huni direhabilitasi agar masyarakat dapat tinggal dengan lebih aman dan nyaman.
Di sisi lain, lima unit sumur bor dibangun untuk membantu kebutuhan air bersih warga.
Sebanyak 1.000 pohon juga ditanam sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan desa.
Namun TMMD tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.
Di sela pengerjaan proyek, personel TNI juga hadir memberikan penyuluhan kesehatan, pencegahan stunting, wawasan kebangsaan, bahaya narkoba dan judi online, hingga pelayanan pengobatan gratis.
Anak-anak, ibu rumah tangga, hingga para petani berkumpul mengikuti berbagai kegiatan nonfisik tersebut.
Suasana hangat terasa ketika prajurit TNI duduk bersama warga, mendengarkan keluh kesah mereka, sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat.
Wakil Bupati Mempawah, Juli Suryadi Burdadi, menilai TMMD menjadi bukti nyata bahwa pembangunan desa dapat berjalan lebih cepat ketika seluruh elemen bersatu.
"Alhamdulillah TMMD Reguler ke-128 ini dapat kita laksanakan dengan baik. Kami berharap seluruh program yang telah direncanakan bersama dapat tercapai sesuai target dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Mempawah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan TMMD karena dinilai efektif mempercepat pembangunan di pedesaan.
"Kita sangat mendukung kegiatan TMMD ini. Kolaborasi dan sinergi yang telah terjalin diharapkan terus berlanjut, sehingga upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan dan fasilitasi kepada masyarakat dapat terwujud lebih cepat," katanya.
Selama satu bulan pelaksanaan, hampir 200 orang terlibat dalam gotong royong besar itu.
Mereka datang dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
Di Desa Sepang, TMMD bukan hanya meninggalkan jalan beton, sumur bor, atau rumah yang diperbaiki.
Program itu meninggalkan jejak kebersamaan dan harapan baru bagi masyarakat desa.
Di tengah keterbatasan, TMMD membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota besar.
Kadang, perubahan besar justru lahir dari desa kecil, ketika tangan-tangan yang berbeda memilih bekerja bersama demi masa depan yang lebih baik. (*)