Tak Ada Uang Tunai Tak Masalah, Berbelanja Riang di Pasar Sentral Malino Bisa Lewat QRIS BRI
Alfian May 26, 2026 02:22 AM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Masih pagi-pagi buta, kabut tebal menyelimuti tapi pedagang dan juga wisatawan sudah hilir mudik di Pasar Sentral Malino, Kabupaten Gowa, Minggu (24/5/2026).

Ulfa Utami (34) wisatawan asal Makassar yang juga Ibu Rumah Tangga (IRT) tak ingin melewatkan kesempatan berkunjung ke pasar yang terletak di Jl Karaeng Pado, Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa itu.

Pasar Sentral Malino jadi pusat berbelanja bagi masyarakat setempat dan tentunya para wisatawan.

Pasalnya, letak Pasar Sentral Malino mudah dijangkau lantaran berada di pinggir jalan poros Gowa-Sinjai.

Di pasar ini, mudah ditemui jajanan atau cemilan khas Malino mulai dari Tenteng yang terbuat dari kacang tanah dan gula merah, hingga bolu susu.

Selain itu Pasar Sentral Malino juga dikenal sebagai 'surga' sayur-sayuran dan buah-buahan segar.

Kawasan Malino memang tak hanya dikenal dengan obyek wisata alamnya tapi juga sebagai salah satu wilayah penghasil sayuran dan buah-buahan terbesar di Sulawesi Selatan.

Sayur-sayuran dan buah yang diperjualbelikan di Makassar, ibukota Sulawesi Selatan, umumnya berasal dari Malino.

Harga komoditas ini di Pasar Malino jauh lebih murah tentunya.

Sebagai ibu rumah tangga, Ulfa yang sedang liburan di Malino sudah sedari awal sudah meniatkan diri berburu sayur-sayuran dan buah segar di Pasar Sentral Malino.

"Ibu berapa jeruknya ini? kalau alpukatnya," tanya Ulfa kepada pedagang.

Kala itu Ulfa sedang bertanya-tanya harga buah di kios 'Melinda Malino' yang terletak di bagian depan pasar dekat dengan parkiran kendaraan.

Baca juga: Hindari Jebakan Pinjol Ilegal, BRI Hadir Edukasi Petani Jagung Takalar Manfaatkan Bantuan KUR

Sesuai namanya, kios 'Melinda Malino' ownernya Melinda, ibu berusia 45 tahun.

"Sini ki' bu, 30 ribu alpukatnya bu satu kilo. Alpukat baru ini," kata Melinda sembari tersenyum tipis.

Setelah melihat-lihat dan memilah-milah, Ulfa memutuskan membeli alpukat sebanyak 3 kg.

"Jadi berapa semua ini bu," tanya Ulfa.

"80 ribu mi saja bu, saya kasi diskon," jawab Melinda.

Senang mendapat potongan harga, Ulfa lalu buru-buru ingin membayar.

Awalnya, ia merogoh kantong celana dan diambillah uang kertas dengan total Rp60 ribu.

Merasa uangnya tak cukup, Ulfa mencari tambahan uang dalam tas kecil yang tergantung di bahunya.

Rupanya, Ulfa lupa menarik uang tunai.

"60 ribu ji' uang ku bu. 2 kg saja," katanya dengan nada sedikit kecewa.

Tapi sebelum membayar, ibu satu anak ini bertanya lagi "Atau adakah QRIS ta' atau rekening BRI ta' saya transfer?."

"Ada bu, ada QRIS di sini QRIS BRI juga," jawab Melinda sambil mengangkat barqode Qris miliknya yang terpajang di bagian depan jualannya tapi sempat tertutup dagangan.

Transaksi jual-beli pun selesai, Ulfa memutuskan tetap membeli 3 kg alpukat seharga Rp80 ribu sesuai dengan permintaan awalnya.

Melinda mengaku sudah tiga tahun terakhir menggunakan QRIS BRI sebagai alat transaksi selain uang tunai.

"Dulu itu waktu belum pakai ini (QRIS BRI), biasa pembeli sudah mau beli tapi ternyata tidak bawa uang tunai. Apalagi banyak datang dari Makassar to' yang rata-rata memang pakai Qris mi'," ungkapnya.

Sejak menggunakan bentuk transaksi digital itu, dagangan Melinda mengalami peningkatan omzet.

"Terus terang saja ada kenaikan, semakin gampang orang to' belanja. Tidak butuhmi uang tunai kalau memang tidak bawa tinggal pakai QRIS," tuturnya.

Dukungan BRI untuk Transaksi Digital

Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus berupaya mendukung transaksi digital dalam jasa perdagangan demi mencapai tujuan geraka Cashless.

Upaya itu terlihat dari dorongan BRI sendiri dalam memudahkan para pelaku usaha dalam pemasangan atau penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Hal itu disampaikan D Argo Prabowo selaku Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar melalui keterangan tertulisnya.

Argo mengatakan para marketing BRI dituntut terus mendata nasabah khususnya pelaku usaha yang memiliki transaksi harian atau mingguan kemudian segera dipasangkan QRIS.

Menurutnya digitalisasi pembayaran melalui QRIS tentu mempermudah proses transaksi.

Ini juga bagian dari edukasi kepada masyarakat sekaligus upaya mengurangi potensi penyalahgunaan uang tunai 'palsu' dalam bertransaksi di masyarakat.

“Salah satu tugas kita di inklusi itu bagaimana menekan meminimalisir penggunaan uang tunai atau cashless, salah satunya dengan QRIS, BRImo dan cara-cara lain yang ada kita siapkan,” ujarnya.

lihat foto
Infografis tata cara pengajuan QRIS.

BRI sendiri secara internal sejak dulu sudah mendorong pembayaran non-tunai di masyarakat.

Ini tercermin lewat berbagai program dan aplikasi seperti alat akseptasi, mesin edc, qris, apilakasi BRImo dan juga Qlola.

Lebih lanjut, Argo menyebut proses digitalisasi transaksi pembayaran sudah dirasakan manfaatnya oleh para nasabah.

“Kalau kita melihat trennya, peningkatannya itu luar biasa, tahun ke tahun luar biasa dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam,” tutupnya.

Pada kesempatan yang lain, Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, juga menanggapi persoalan biaya tambahan untuk transaksi QRIS.

Rizki menyebut, setiap transaksi menggunakan QRIS tidak diperbolehkan biaya tambahan.

“Itu tidak benar (tidak boleh). Mungkin pedagang beralasan karena mereka investasi alat dan membebankannya ke konsumen, tapi sebenarnya itu tidak dibolehkan,” katanya.

BI Sulsel pun mengimbau agar konsumen melaporkan ke BI jika ditemukan merchant yang membebankan biaya tambahan dalam pembayaran QRIS.

Pembayaran Non-Tunai Tumbuh Pesat di Sulsel

Di tengah pesatnya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran digital, warga Sulawesi Selatan (Sulsel) masih aktif menggunakan berbagai instrumen pembayaran lainnya. 

Data terbaru Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan transaksi melalui BI-Fast, kartu kredit, hingga kartu ATM/debit tetap tumbuh dan diminati sepanjang 2025.

BI-Fast misalnya, sepanjang 2025, layanan transfer dana cepat ini telah digunakan sebanyak 109 juta kali dengan nominal transaksi mencapai Rp264,3 triliun. 

Pada Triwulan IV 2025, nominal transaksi BI-Fast di Sulsel tercatat sebesar Rp73,1 triliun atau tumbuh 11,40 persen secara tahunan.

Dari sisi volume, transaksi mencapai 28,96 juta kali atau meningkat 7,14 persen secara yoy.

“BI-Fast telah menjadi pilihan masyarakat dan digunakan secara masif di Sulawesi Selatan,” kata Plt Kepala Divisi Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Intern (SPPURMI) Bank Indonesia (BI) Sulsel, Tri Adi Riyanto kepada Tribun-Timur.com.

Sementara itu, penggunaan kartu ATM/debit dan kartu kredit juga menunjukkan tren positif. 

Kepemilikan kartu terus meningkat setiap tahun, meskipun jumlah mesin ATM cenderung menurun seiring meningkatnya akseptasi QRIS dan kanal pembayaran digital lainnya.

Pada Triwulan IV 2025, volume transaksi ATM/debit tercatat 49,44 juta transaksi, tumbuh 6,57 persen yoy.

Dari sisi nominal, transaksi ATM/debit mencapai Rp72,74 triliun atau meningkat 30,86 persen yoy.

Adapun transaksi kartu kredit juga mengalami peningkatan signifikan. 

Nominal transaksi kartu kredit pada Triwulan IV 2025 mencapai Rp1,27 triliun, tumbuh 14,96 persen yoy.

Dari sisi volume, transaksi kartu kredit mencapai 1,29 juta transaksi atau naik 17,73 persen yoy.(*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.