Iran Sebut Kesepakatan dengan AS masih Jauh dari Kata Selesai
Bobby Wiratama May 26, 2026 03:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Iran memberikan peringatan pada Senin (25/5/2026) bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel masih jauh dari kata selesai.

Pernyataan ini muncul sebagai respons setelah Presiden Donald Trump sempat menaikkan ekspektasi publik terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Meski demikian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tetap bersikap hati-hati.

Mengutip laporan dari NBC, Baghaei mengakui adanya kemajuan dalam proses negosiasi, namun ia menepis anggapan bahwa pengumuman resmi akan segera dilakukan.

"Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada banyak masalah yang sedang dibahas, tetapi tidak ada yang bisa mengklaim bahwa ini berarti kesepakatan yang akan segera ditandatangani sudah dekat," ungkap Baghaei di hadapan awak media.

Dalam keterangannya, Baghaei menekankan bahwa fokus utama negosiasi saat ini adalah penghentian perang secara menyeluruh.

Ia menegaskan bahwa pihaknya belum masuk ke pembahasan mengenai isu yang lebih sensitif.

"Pada tahap ini kami tidak membahas perincian masalah nuklir," tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti bahwa draf kesepakatan yang ada hingga kini belum merinci mekanisme pengelolaan Selat Hormuz.

Baghaei menegaskan bahwa masalah tersebut seharusnya menjadi urusan dan tanggung jawab bersama bagi negara-negara yang berada di pesisir Selat Hormuz.

Baca juga: Iran Pasang Syarat Baru: Minta Dana Rp 196 Triliun Dicairkan Sebelum Lanjut Damai dengan AS

AS Optimis Deal segera Tercapai

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai dalam waktu dekat.

"Sebuah kesepakatan bisa diselesaikan 'hari ini' (Senin)," ujar Rubio saat melakukan kunjungan ke India.

Meski optimistis, ia memberi catatan bahwa jika pembicaraan gagal, Washington akan mencari "cara lain" untuk menyelesaikan situasi tersebut.

Di tengah rangkaian diplomasi yang intens mulai dari Timur Tengah hingga China, para negosiator utama Iran kini berada di Qatar.

PERANG LANJUTAN - Tangkap layar bendera Iran-Amerika-Israel. Gencatan senjata dua minggu dalam perang Iran melawan AS-Israel berada di ambang keruntuhan di mana kedua kubu belum mencapai kata sepakat soal tuntutan masing-masing.
PERANG LANJUTAN - Tangkap layar bendera Iran-Amerika-Israel. Gencatan senjata dua minggu dalam perang Iran melawan AS-Israel berada di ambang keruntuhan di mana kedua kubu belum mencapai kata sepakat soal tuntutan masing-masing. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Doha memang menjadi pemain kunci dalam upaya mempercepat kesepakatan guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan serta memulihkan lalu lintas pelayaran di jalur perdagangan vital Selat Hormuz.

Presiden Trump pada Senin pagi waktu setempat juga telah memberi peringatan keras kepada Iran bila negosiasi tersebut tak berjalan dengan baik, 

Trump mengancam bahwa pertempuran dengan Iran akan kembali terjadi dalam skala lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya  jika pembicaraan tersebut gagal.

Sebelumnya, pada Minggu, Trump menyatakan tidak akan terburu-buru dalam membuat kesepakatan.

Pernyataan ini merupakan langkah mundur dari narasi sebelumnya yang dilontarkan oleh pihak AS maupun Iran yang sempat mengindikasikan bahwa pengumuman kesepakatan sudah dekat.

Trump juga secara eksplisit mengaitkan kesepakatan Iran dengan Abraham Accords.

Baca juga: Iran Klaim Tarif Navigasi demi Keamanan, Selat Hormuz Kini Jadi Titik Panas Dunia

Abraham Accords atau Perjanjian Abraham adalah serangkaian kesepakatan diplomatik yang dimediasi oleh Amerika Serikat untuk menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab.

Ia menyerukan kepada sejumlah negara di kawasan tersebut, termasuk Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Jordania, untuk bergabung dalam perjanjian tersebut.

Trump Terus Dapat Tekanan Dalam Negeri

Tak hanya menuai kecaman dari luar negeri terkait negosiasi yang berlarut-larut, isi kesepakatan perjanjian yang diajukan Trump kepada Iran pun juga menuai kritik keras dari AS sendiri.

Rincian mengenai nota kesepahaman (MoU) terkait potensi kesepakatan Iran yang mulai muncul ke publik pun telah menuai penolakan dari sejumlah kalangan tokoh di AS.

Sejumlah anggota parlemen senior dari Partai Republik memperingatkan bahwa isi kesepakatan tersebut bisa menjadi kesalahan yang membawa bencana.

Menanggapi kritik tersebut, Trump membalas dengan menyerang pihak-pihak tersebut sebagai orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang potensi kesepakatan dengan Iran.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.