TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah Arif (bukan nama asli), satu di antaranya banyaknya pemuda di Indonesia yang kecanduan bermain judi online atau judol.
Arif sudah bermain judol selama hampir delapan tahun terakhir.
Arif masih berusia 25 tahun.
Selama bermain judol, ia sering ditegur oleh orangtuanya.
"Ya susah berhentinya (meski sering kalah daripada menang)," ujarnya singkat, Sabtu (23/5/2026).
Arif masih mengingat jelas bagaimana rasa penasaran itu pertama kali muncul.
Sekitar delapan tahun lalu, saat duduk di semester dua kelas 3 SMA, ia kerap melihat teman-teman dan kakak kelasnya berkumpul sambil memainkan judi online di layar ponsel.
Awalnya, Arif hanya memperhatikan dari kejauhan. Sesekali ia ikut melihat permainan yang sedang dimainkan teman-temannya.
Namun, yang membuatnya tertarik bukan semata permainannya, melainkan cerita bahwa seseorang bisa memperoleh uang dengan cepat hanya dari sekali bermain.
Pemandangan serupa tak hanya ia temui di sekolah. Di lingkungan rumah, ia juga melihat orang-orang yang lebih tua memainkan permainan yang sama.
Dari situlah rasa penasaran yang awalnya hanya sebatas melihat, perlahan berubah menjadi keinginan untuk mencoba.
"Tahu gamenya dari kakak kelas, teman, sekampung, main bareng. Ada beberapa orang, karena mungkin saya orangnya penasaran aja gitu jadi nyoba-nyoba, akhirnya malah kebablasan," katanya sambil menatap kosong ke arah layar, melansir dari Kompas.com.
"Mulai coba-coba tuh kelas 3 SMA semester 2. Baru masuk semester 2. Karena sudah ada KTP jadi bisa bikin akun di salah satu dompet digital," lanjutnya.
Arif mengaku sudah membantu orangtuanya bekerja di bengkel keluarga sejak SMA.
Dari pekerjaan sepulang sekolah itu, ia mendapat uang saku tambahan yang kemudian justru dijadikan modal awalnya bermain judi online.
"Kalau untuk uangnya sih saya kan pas kelas 2 SMA udah bantu-bantu orangtua. Orangtua ada usaha bengkel di kampung. Kadang kalau habis pulang sekolah gitu bantuin terus dikasih uang," ujar Arif.
Kini, di usia 25 tahun, Arif bekerja di perusahaan bidang produksi, pengelasan, dan perakitan di Bekasi.
Penghasilannya yang kini lebih stabil ternyata tidak membuatnya lepas dari judi online. Sebagian gaji yang diperoleh dari bekerja masih kerap habis untuk bermain.
Selama kurang lebih 8 tahun bermain judi online, Arif mengaku pernah pernah mendapat keuntungan hingga Rp 3 juta dalam sehari.
Namun, sambil tersenyum kecut, Arif mengaku lebih sering kalah.
Ia bahkan pernah menghabiskan gajinya dari bekerja selama sepekan, yakni sebanyak Rp 1.200.000, hanya untuk top up game tersebut.
"Kerugian paling besar pernah sekalinya dulu pas udah lulus sekolah, kan saya kerja, jadi gaji seminggu habis buat top up doang. Rp 1.200.000. Tapi nggak langsung di-top up in semua, bertahap Rp 200.000 dan kemudian Rp 200.000 lagi," kata Arif.
Baca juga: Warga Syok Ruko yang Dikira Kosong Jadi Markas Judol Internasional, Selama ini Kerja di Sampingnya
Permainan judol sendiri memiliki nominal minimum top up sebelum dapat dimainkan. Jumlahnya berbeda-beda tergantung situs.
"Kalau top up biasanya minimal paling kecil Rp 20.000. Tergantung situs. Ada yang paling kecil Rp 10.000, ada yang paling kecil Rp 25.000. Kalau misal kita main top up Rp 50.000, main terus kalah, ya udah nggak dapat apa-apa," lanjutnya.
Saat ini Arif masih tinggal bersama orangtuanya di Bekasi, meski lebih sering menginap di asrama tempatnya bekerja.
Ia biasanya bermain judi online sepulang kerja, sekitar pukul 00.30 hingga dini hari.
"Main kalau udah pulang kerja biasanya jam setengah 1 malam," ujarnya.
Kebiasaan itu sebenarnya sudah lama diketahui keluarganya.
Arif mengaku orangtuanya beberapa kali menegur dan memintanya berhenti bermain judi online.
"Jelas diomelin (saat tahu)," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Baca juga: Satpam Curiga Pegawai Ngantor Pakai Celana Pendek, Ternyata Gedung Jadi Markas Sindikat Judol
Menurut Arif, keluarganya mengetahui kebiasaan tersebut dari saudara dekat yang lebih dulu memergokinya bermain.
Namun, meski sudah berulang kali dinasihati, ia mengaku masih kesulitan berhenti.
Arif mengaku sempat mencoba berhenti bermain judi online. Namun upaya itu hanya bertahan sekitar dua bulan sebelum akhirnya kembali bermain.
"Paling kasbon. Ya yang jelas pada protes main judol kaya gini, terutama orangtua, cuman kan susah berhentinya. Saya dulu pernah coba berhenti cuma dapat 2 bulan, itu main lagi. Sampai sekarang," kata Arif.
Menurut dia, rasa penasaran untuk menang dan mendapatkan uang instan menjadi alasan utama yang membuatnya terus kembali bermain, meski sudah berkali-kali kalah.
"Karena ya penasaran. Penasaran terus juga kan kesal juga jadi coba-coba terus siapa tau menang siapa tau menang. Eh malah kalah-kalah juga. Intinya penasaran," ujarnya.
"Jadi walaupun kalah, kita masih tetep pengen main. Masih tetep pengen uji keberuntungan," lanjut Arif.
Psikolog dari ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menjelaskan bahwa kecanduan judi online bukan sekadar persoalan kemauan atau kebiasaan, melainkan termasuk adiksi perilaku (behavioral addiction).
Dalam dunia psikologi klinis, kondisi tersebut telah dikategorikan sebagai Gambling Disorder dalam DSM-5, dengan mekanisme otak yang disebut mirip dengan kecanduan narkoba dan alkohol.
"Kecanduan judi online berakar pada bagaimana otak memproses kesenangan dan antisipasi," kata Danti kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).
Menurut dia, saat seseorang bertaruh, otak melepaskan dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Menariknya, dorongan dopamin itu justru lebih kuat muncul pada fase menunggu hasil dibanding saat benar-benar menang.
Danti menjelaskan, banyak permainan judi online menggunakan pola variable ratio schedule, yakni kemenangan diberikan secara acak dan tidak bisa diprediksi.
Secara psikologis, pola imbalan yang tidak pasti itu justru lebih mudah memicu kecanduan karena membuat otak terus berada dalam kondisi penasaran dan siaga.
"Algoritma judi online juga sering kali dirancang untuk memunculkan kondisi hampir menang," ujar Danti.
Menurut dia, otak kerap keliru memaknai kondisi "hampir menang" bukan sebagai kekalahan, melainkan sinyal bahwa kemenangan tinggal sedikit lagi. Kondisi itulah yang mendorong seseorang terus mencoba.
Selain itu, banyak pemain terjebak pada keyakinan bahwa mereka bisa mengembalikan kerugian apabila terus bermain.
"Ini adalah siklus paling merusak. Ketika mengalami kekalahan besar, alih-alih berhenti, ego pelaku mendorong mereka untuk terus bermain dengan keyakinan, 'Saya harus menang sekali lagi untuk mengembalikan modal yang hilang'," kata Danti.
Padahal, menurut dia, setiap putaran dalam judi online bersifat acak dan tidak saling berkaitan.
Baca juga: Host Live Digaji Rp 25 Juta dari Kerja di Apartemen, Ternyata Kedok Bisnis Judol Beromzet Rp 5 M
Danti menilai judi online memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding judi konvensional karena aksesnya sangat mudah dan bisa dilakukan secara tersembunyi melalui ponsel.
"Judi kini berada di genggaman tangan melalui ponsel pintar. Tidak ada hambatan fisik, tidak perlu keluar rumah, dan bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Privasi penuh ini membuat perilaku adiktif sulit dideteksi oleh keluarga hingga kondisinya sudah parah," jelasnya.
Ia juga menyoroti tampilan visual permainan judi online yang dibuat menyerupai game mobile biasa, lengkap dengan efek suara dan animasi menarik, sehingga menurunkan kewaspadaan pengguna.
Selain itu, transaksi melalui dompet digital, transfer bank, maupun fitur paylater dinilai membuat pengguna semakin tidak sensitif terhadap kehilangan uang.
"Mengeluarkan uang digital terasa kurang menyakitkan secara emosional dibandingkan harus menyerahkan lembaran uang tunai secara fisik," kata Danti.
Menurut dia, kondisi ekonomi, tekanan hidup, rasa kesepian, hingga paparan gaya hidup mewah di media sosial juga sering membuat judi online dianggap sebagai jalan pintas untuk memperoleh uang secara cepat.
Karena itu, Danti menegaskan penanganan kecanduan judol perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari terapi psikologis hingga dukungan lingkungan terdekat.
"Mulai dari terapi kognitif perilaku (CBT) untuk memutus distorsi pikiran, regulasi emosi, hingga restrukturisasi finansial dengan dukungan penuh dari sistem sosial terdekat," pungkasnya.