TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Belakangan ini banyak kasus kekerasan yang melibatkan pelajar di DIY.
Setelah pada pertengahan April 2026 seorang pelajar di Bantul meninggal dunia setelah dikeroyok, peristiwa nahas yang merengut nyawa kembali menimpa pelajar di Kota Yogyakarta pada Minggu (17/5) kemarin.
Kedua kekerasan ini terjadi akibat perselisihan antargeng.
Menurut Peneliti Social Research Center (SOREC) Universitas Gadjah Mada (UGM), AB. Widyanta, anak-anak saat ini tumbuh di dalam struktur kekerasan di banyak dimensi, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
Dari dimensi keluarga, kekerasan bisa dirasakan anak bukan hanya dari bentakan, tetapi bisa dari sikap abai orangtua yang sibuk berkarir. Dampaknya, anak kehilangan atensi dan afeksi.
Kekerasan juga terjadi di sekolah, sebab institusi sekolah di Indonesia cenderung punitif. Artinya sekolah cenderung menghukum jika siswa melakukan kesalahan.
Di lingkungan masyarakat pun tak jauh berbeda. Masyarakat cenderung menstigma, yang artinya sama-sama punitif dengan model yang berbeda.
“Kekerasan tidak selalu bentakan, kekerasan dalam pengertian membiarkan anak ketika bapak ibunya karir, lalu rumah tangga terabaikan. Atensi dan afeksi dari anak remaja kita kehilangan itu. Ada dimensi kesendirian di situ. Nah begitu juga sekolah, sekolah kita itu kan punitif, selalu saja menghukum. Lalu masyarakat sendiri juga stigmatik, sama-sama punitif dengan model yang berbeda,” katanya, Selasa (19/5/2026).
Ia menyebut anak-anak saat ini tidak mendapatkan pelajaran soal olah rasa untuk mengelola emosi. Padahal mengelola emosi juga penting bagi anak, khususnya remaja.
Selain tidak mendapatkan pelajaran olah rasa baik di keluarga maupun sekolah, anak-anak tidak memiliki ruang untuk mengasah rasa. Menurutnya, ruang-ruang publik untuk menyalurkan emosi tidak bisa diakses secara cuma-cuma.
“Artinya ini ada spiral kekerasan yang terjadi untuk anak-anak generasi ini. Anak-anak ini tumbuh di dalam struktur kekerasan di banyak dimensi. Maka satu-satunya tempat untuk menyalurkan kemarahan, persoalan-persoalan, perasaan macam-macam yang selama ini tidak direpresi, yang memperhatikan adalah peer group yang itu adalah geng,” terangnya.
“Jadi ini (fenomena kekerasan pelajar) bertumpuk-tumpuknya tanggungan psikologis anak yang itu konstruksi sosial, akhirnya menampilkan model heroisme, kegagahan yang ditampilkan dengan menimbulkan kerugian bagi orang lain. Nah kompleksitas ini, kita tidak bisa menyalahkan si pelaku maupun korban. Pelaku ini juga korban juga,” sambungnya.
Ia melanjutkan komunitas yang memiliki ideologi kekerasan akan selalu mereproduksi kekerasan itu. Geng yang menjadi bagian dari komunitas yang mengambil ideologi kekerasan, merupakan peer group yang menstimulasi dengan hal-hal adiktif.
“Yang itu juga ditautkan dengan rokognisi identitas tertentu, dan itu yang membuat anak-anak itu merasa eksis, merasa ada, merasa dia dihargai, merasa disegani. Ini kan bentuk dari si anak tidak diisi oleh ideologi yang lain kecuali kekerasan,” lanjutnya.
Di dalam sebuah geng pasti selalu ada pemimpinnya, dan kekerasan yang menjadi ideologi geng tersebut akan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya.
Pengajar pada Departemen Sosiologi UGM tersebut menyebut peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini menjadi refleksi bagi semua pihak, baik itu keluarga, sekolah, maupun pemerintah.
Pembelajaran untuk olah rasa menjadi bagian penting agar ditanamkan di semua dimensi. Praktik-praktik punitif mestinya mulai dihilangkan.
“Karena kalau tidak mengenali berbagai simptom-simptom emosional kayak begini, yang terjadi kalap lalu mengamuk. Aapalgi kalau sudah disusup zat adiktif yang itu bawah sadar yang bekerja. Yang terjadi adalah nafsu-nafsu untuk balas dendam, melampiaskan kemarahan,” terangnya.
Di sisi lain, geng yang saat ini ada mestinya dikenali oleh sekolah, masyarakat, dan aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum mestinya tidak hanya berperan sebagai pengaman saja saat terjadi terjadi darurat. Namun juga melakukan preventif dan pendidikan yang manusiawi, sesuai kebutuhan anak.
“Soal olah rasa itu bagaimana sih? Bukan soal anak dihajar atau dijejali dengan khotbah. Kalau dengan khotbah bisa lebih parah lagi. Anak itu butuh didengarkan, mereka itu sudah pusing dengan dirinya karena pikiran dan perasaan tidak didengar,” ujarnya.
“Sudah waktunya orangtua, guru, pemerintah, masyarakat itu mendengar masalah-masalah mereka, kompleksitas mereka. Kita jadi orangtua yang gagal untuk mendengarkan generasi yang tengah menjadi jati diri ini,” pungkasnya. (MAW)