WARTAKOTALIVECOM, Jakarta -- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di tengah upaya mempertahankan gencatan senjata yang rapuh.
Militer Amerika Serikat mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di wilayah selatan Iran pada Senin (25/5) waktu setempat, termasuk lokasi peluncur rudal serta kapal milik Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC yang diduga hendak menebar ranjau laut di kawasan strategis Teluk.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai langkah “pertahanan diri” guna mencegah ancaman terhadap jalur pelayaran dan kepentingan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut sasaran operasi meliputi kapal-kapal yang dicurigai tengah melakukan persiapan penebaran ranjau laut serta fasilitas peluncuran rudal di Iran selatan.
Meski demikian, pihak militer AS tidak mengungkap lokasi rinci serangan maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat operasi tersebut.
Washington juga belum memberikan informasi mengenai kemungkinan korban jiwa dari pihak Iran.
Laporan Reuters menyebutkan serangan itu menjadi perkembangan terbaru dalam eskalasi konflik antara Washington dan Teheran yang terus berlanjut sejak pecahnya ketegangan bersenjata pada Februari lalu.
Padahal, kedua negara sebelumnya dikabarkan telah menyepakati gencatan senjata sementara untuk menekan meluasnya konflik di kawasan.
Namun hingga kini belum ada kepastian apakah suara ledakan tersebut berkaitan langsung dengan operasi militer yang diklaim AS.
Bandar Abbas selama ini dikenal sebagai salah satu titik strategis militer Iran karena menjadi pusat aktivitas angkatan laut serta jalur penting perdagangan energi di Selat Hormuz.
Kawasan itu juga kerap menjadi pusat perhatian internasional karena posisinya yang vital terhadap distribusi minyak dunia.
Pemerintah Iran sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan terbaru dari militer Amerika Serikat.
Sikap diam Teheran memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan respons lanjutan, terlebih IRGC selama ini menjadi elemen utama pertahanan Iran dalam menghadapi tekanan militer Barat.
Situasi ini menambah kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi pecahnya kembali konflik terbuka di Timur Tengah.
Sejumlah analis menilai serangan di tengah gencatan senjata berisiko memicu balasan militer yang dapat memperburuk stabilitas kawasan, terutama di jalur strategis Teluk Persia dan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa kedua pihak akan kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.
Namun tekanan diplomatik dari negara-negara sekutu dan organisasi internasional diperkirakan akan meningkat untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.