TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Menjelang arus mudik Lebaran Iduladha 1447 Hijriah, para pengendara di Kabupaten Mamuju Tengah dikejutkan dengan kenaikan harga oli mesin.
Jika sebelumnya harga ganti oli berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp55 ribu per botol, kini melonjak menjadi Rp61 ribu hingga Rp65 ribu.
"Naik sekitar Rp10 ribu lebih," ujar Kendi, seorang pengendara yang ditemui di bengkel Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: 12 Ekor Sapi Kurban Bakal Disembelih di Dayanginna Mamuju, 5 Individu, 7 Hasil Patungan
Baca juga: Bupati Mamuju Tengah Kurban Sapi 300 Kg, Akan Disembelih di Masjid Al-Arsal
Kendi mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga ganti oli tersebut.
Ia hanya merasakan dampaknya langsung saat hendak mengganti oli kendaraannya untuk persiapan perjalanan mudik.
"Biasanya beli Rp45 ribu sampai Rp50 ribu, sekarang sudah Rp61 ribu. Lumayan memberatkan, apalagi buat yang mau perjalanan jauh," keluhnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kenaikan harga oli mesin tidak hanya terjadi di Mamuju Tengah, melainkan juga secara nasional.
Harga pelumas kendaraan saat ini mengalami lonjakan signifikan antara 10 persen hingga 30 persen.
Beberapa faktor menjadi pemicu utama kenaikan ini.
Pertama, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi harga komoditas impor.
Kedua, lonjakan harga minyak dunia yang menjadi bahan baku utama pelumas.
Ketiga, tingginya biaya distribusi bahan baku pelumas impor hingga ke daerah-daerah.
Tingginya harga oli mesin dinilai kurang ideal karena bertepatan dengan momen mudik Lebaran Iduladha.
Sebagian besar pengendara biasanya melakukan perawatan kendaraan secara menyeluruh, termasuk mengganti oli, untuk memastikan kendaraan dalam kondisi prima saat menempuh perjalanan jauh.
Para pengendara berharap pemerintah dapat memantau stabilitas harga bahan pokok dan kebutuhan kendaraan bermotor menjelang hari raya, sehingga masyarakat tetap bisa menjalankan tradisi mudik tanpa terbebani lonjakan harga yang tidak wajar.
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah