TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Media sosial belakangan ini dihebohkan oleh video viral yang menunjukkan penampakan sirip hiu di kawasan perairan The Nusa Dua, ITDC, Badung.
Menanggapi fenomena tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali meminta masyarakat dan wisatawan untuk tidak panik.
Kemunculan hiu justru menjadi sinyal positif bagi ekosistem laut di wilayah tersebut. Kepala Bidang Kelautan DKP Provinsi Bali, I Nengah Bagus Sugiarta, menjelaskan bahwa dalam ilmu dasar perikanan, hiu memegang peran penting sebagai top predator (predator puncak).
Baca juga: Petugas Temukan Sisa Makanan hingga Beberapa Plastik Kecil dalam Lambung Hiu Paus
Kehadirannya menunjukkan bahwa rantai makanan di bawahnya berjalan dengan seimbang.
"Kalau kami ada dari ilmu dasar perikanan, hiu adalah top predator. Kalau di darat kan macan ya. Itu sebenarnya, indikator kita ada hiu itu bukan jelek. Kalau ada top predator berarti piramida makanannya kan ada makanan," kata Sugiarta pada, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menambahkan, kemunculan satwa ini juga menandakan bahwa kondisi terumbu karang di sekitar perairan tersebut masih terjaga dengan baik.
"Dari segi gambaran umum dulu ya, jangan dikarenakan hiu kita terus panik, gitu. Satu, berarti terumbu karangnya bagus. Terumbu karang bagus, ikan-ikan kecil yang makan karang bagus, yang ikan lebih besar yang makan daging bagus, predator yang lebih besar lagi ada, hiu ini ada," jelasnya.
Baca juga: Hiu Paus Terdampar Sepanjang 7,5 M di Pantai Pekutatan, Diduga Mati di Tengah Laut lalu Terdampar
Mengenai alasan mengapa hiu tersebut bisa terlihat sangat dekat dengan kawasan wisata pesisir pantai, Sugiarta menyebutkan ada beberapa kemungkinan.
Salah satunya adalah faktor berburu mangsa atau satwa tersebut memang sedang melintas di jalur migrasinya.
"Yang kedua, bisa jadi mereka dalam upaya berburu, dia sampai nyasar. Ada kemungkinan begitu. Cuman bukan berarti perairan kita jelek, enggak. Itu ada berarti ikan mangsanya dia yang sekitar sana. Atau memang nyasar. Ada kemungkinan dia lagi ngejar itu," ungkapnya.
Lebih lanjut, Sugiarta memaparkan bahwa perairan Bali bagian selatan memang merupakan jalur perlintasan satwa-satwa laut berukuran besar, termasuk paus dan hiu.
"Jangankan hiu, paus aja sering terdampar kan karena memang itu, kita di Selatan Bali adalah tempat migrasinya paus. Hiu juga migrasi jalurnya di situ," tambahnya, seraya mengenang pengalamannya saat bertugas di UPT Kawasan Konservasi yang kerap menangani paus terdampar di berbagai pantai di Bali.
Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai keselamatan wisatawan di pesisir pantai, DKP Bali menegaskan bahwa fenomena ini perlu diteliti lebih dalam oleh para ahli untuk memastikan apakah kawasan tersebut memang merupakan habitat asli hiu atau murni fenomena sesaat.
"Kembali lagi, kita enggak bisa di laut, apalagi ya. Di laut ya. Cuman kalau di laut, memang kita memastikan dari apa ya, ada enggak habitat hiu di situ dulu? Kalau memang dari dulunya enggak ada terus tiba-tiba, nah itu menjadi bahan penelitian. Misalkan dari Udayana atau dari BRIN dari mana yang meneliti," papar Sugiarta.
Ia juga mengimbau agar publik tidak terlanjur memberikan stigma menyeramkan terhadap kemunculan hiu tersebut. Apalagi, tidak semua jenis hiu bersifat agresif atau ganas kepada manusia.
"Ketika hiu jangan seolah-olah ini sesuatu yang seram. Kalau memang dari dulu ada, kan enggak mungkin ada objek wisata berdampingan dengan hiu misalnya, misalnya ada orang sampai digigit, bla bla bla. Cuman kalau fenomena ini harus diteliti dulu," tuturnya.
Di akhir wawancara, Sugiarta mengingatkan bahwa populasi hiu, seperti jenis hiu martil, saat ini justru terus menurun akibat maraknya perburuan liar demi diambil siripnya.
Oleh karena itu, keberadaan mereka di alam liar saat ini dilindungi oleh undang-undang demi menjaga keberlangsungan ekosistem laut. (*)