Jelang Idul Adha, Produksi Arang di Ponpes Al Islam Purwakarta Melonjak Puluhan Ton
Seli Andina Miranti May 26, 2026 08:43 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Di sela aroma kayu terbakar dan kepulan asap yang membumbung dari tungku-tungku pembakaran, aktivitas di Pondok Pesantren Al Islam Darul Iman, Desa Salaawi, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, tampak lebih sibuk dari biasanya. 

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H, para santri hilir mudik mengangkut karung-karung arang yang baru selesai diproduksi. 

Tumpukan kayu batang jambu dan rambutan memenuhi sudut area, sementara suara dentingan sekop dan bara yang menyala menjadi irama keseharian di pesantren tersebut.

Baca juga: Potret Gedung DPRD Kabupaten Cirebon yang Dibakar Massa, Puing Demokrasi yang Tinggal Arang

Di tempat inilah, lonjakan kebutuhan arang untuk membakar sate saat Idul Adha membawa berkah tersendiri. 

Produksi arang di pondok pesantren itu meningkat berkali-kali lipat dibanding hari biasa. Jika biasanya produksi hanya di bawah 10 ton per bulan, kini menjelang Idul Adha jumlahnya melonjak hingga puluhan ton.

Pesanan datang silih berganti, bukan hanya dari wilayah Kabupaten Purwakarta, namun mayoritas berasal dari Bandung. 

Arang dijual dengan harga mulai Rp15 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya. 

Kayu jambu dan rambutan dipilih karena dinilai menghasilkan bara yang kuat dan tahan lama, sehingga cocok digunakan untuk kebutuhan membakar sate.

Di area pembakaran, bara merah tampak menyala dari dalam tungku tanah yang ditutup rapat dengan batu bata dan menyisakan sedikit ruang di bawahnya. Sesekali pekerja membuka bagian tungku untuk memastikan kayu terbakar sempurna sebelum berubah menjadi arang berkualitas. 

Debu hitam menempel di tangan dan pakaian para pekerja, namun aktivitas terus berjalan tanpa henti demi memenuhi permintaan pasar yang meningkat tajam.

Namun yang membuat tempat ini berbeda bukan hanya produksi arangnya.

Baca juga: SPKLU PLN Bandung siap dukung libur Idul Adha, hadirkan fasilitas nyaman bagi pengguna EV

Di balik kesibukan produksi, pesantren ini juga menjadi ruang pembinaan bagi para santri berkebutuhan khusus. Sebagian besar merupakan remaja yang pernah mengalami depresi, kecanduan narkoba, kecanduan game online, hingga terlibat pergaulan geng motor. Bahkan ada pula santri dengan gangguan kejiwaan atau ODGJ yang dibina di tempat tersebut.

Setelah menjalani proses pemulihan, mereka diajak terlibat langsung dalam usaha produksi arang. Mulai dari menyusun kayu, proses pembakaran, hingga pengemasan dilakukan bersama sebagai bagian dari pembelajaran hidup dan bekal kemandirian.

Pimpinan Ponpes Al Islam Darul Iman, Muhammad Abdul Haris Ridwanullah, mengatakan peningkatan permintaan arang sudah terasa sejak sebulan terakhir menjelang Idul Adha.

"Alhamdulillah menjelang Idul Adha usaha arang ini naik pesat. Dari awalnya hanya beberapa ton, sekarang sudah puluhan ton. Peminat terbesar justru dari wilayah Bandung," ujar Haris saat ditemui Tribunjabar.id, Selasa (26/5/2026) siang.

Ia menjelaskan usaha produksi arang di pesantren tersebut sudah berjalan sejak tahun 2014.

Selain menjadi sumber pemasukan pondok, ia mengatakan, usaha itu juga dijadikan sarana terapi dan pembelajaran keterampilan bagi para santri binaan.

"Anak-anak yang tadinya depresi mental, candu narkoba, game online, atau geng motor, kita arahkan ikut usaha arang. Dari situ mereka belajar bekerja dan mendapatkan hasil," katanya.

Baca juga: Cuaca dan Momen Idul Adha Picu Kenaikan Harga Beras, Telur dan Bumbu Dapur di Kota Bandung

Tak hanya memproduksi arang kayu, pesantren tersebut juga membuat arang batok kelapa. Hasil penjualannya digunakan untuk membantu biaya operasional pondok pesantren yang telah berdiri sejak era 1980-an itu.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.