TRIBUNJOGJA.COM - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) melalui Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) kembali menyelenggarakan Program Jogja Istimewa Tahun Ajaran 2025/2026 Gelombang IV di Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Sabtu (23/05/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa semester dua Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE).
Lebih dari sekadar program orientasi budaya, Jogja Istimewa merupakan bagian dari upaya UAJY untuk membangun pengalaman belajar yang kontekstual dengan lingkungan tempat mahasiswa bertumbuh. Melalui program ini, mahasiswa diajak memahami nilai-nilai budaya, etika sosial, serta filosofi kehidupan masyarakat Yogyakarta yang menjadi bagian penting dari identitas kota pelajar tersebut.
Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh dan berkembang di Yogyakarta, UAJY memandang pemahaman terhadap budaya lokal sebagai bekal penting bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan kampus sekaligus berinteraksi dengan masyarakat secara lebih bijaksana dan inklusif.
Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti berbagai sesi pengenalan budaya Yogyakarta, mulai dari tata busana adat, Lebdaswara, tari klasik Yogyakarta, hingga olahraga tradisional plintheng dan jemparingan.
Pada sesi tata busana, mahasiswa belajar mengenakan pakaian adat Jawa khas Yogyakarta dengan mempraktikkan pembuatan wiru, yakni lipatan kecil pada bagian depan jarik. Sementara itu, pada sesi Lebdaswara, mahasiswa diperkenalkan pada peran penembang pria dalam seni karawitan Jawa.
Kegiatan lainnya berlangsung di kawasan Sasana Hinggil Dwi Abad, tempat mahasiswa berlatih tari klasik Yogyakarta seperti Beksan Wanara dan Nawung Sekar. Selain itu, di kawasan Kamandhungan Kidul, mahasiswa juga diajak mengenal olahraga tradisional Jawa melalui kegiatan plintheng dan jemparingan.
Heirine Marthania Krisna, salah satu mahasiswa FISIP UAJY, mengaku antusias mengikuti kegiatan Jogja Istimewa. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru untuk belajar budaya dan tata krama Yogyakarta secara langsung.
“Acaranya seru. Jadi bisa belajar banyak soal budaya dan tata krama di Yogyakarta. Kami juga mendapat kesempatan belajar dan praktik langsung tentang tata cara berbusana yang benar, serta bisa bertemu teman-teman baru,” ungkap Heirine.
Penutupan rangkaian Jogja Istimewa 2025/2026 di Keraton Yogyakarta menjadi simbol keberhasilan UAJY dalam menghadirkan ruang belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan budaya, sekaligus memperkuat relasi antara dunia pendidikan tinggi dan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Dengan memahami akar budaya tempat mereka belajar dan bertumbuh, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi profesional yang unggul, tetapi juga pribadi yang mampu menghargai nilai, tradisi, dan identitas bangsa.