TRIBUNKALTARA.COM - Intip 4 penyebab AC Milan gagal lolos ke Liga Champions, Rossoneri terlalu naif targetkan Scudetto.
Nasib apes menimpa AC Milan di musim 2025/2026. Sempat menjadi penantang di jalur Scudetto, klub berjulukan Rossoneri tersebut justru berakhir menyedihkan terlempar dari 4 besar klasemen.
Alih-alih meraih Scudetto, tim besutan Massimiliano Allegri ini justru gagal ke Liga Champions.
AC Milan finis peringkat 5 dengan 70 poin dengan rincian 20 menang, 10 seri, dan 8 kalah, Selasa (26/5/2026).
Kekalahan dari Cagliari kemarin mengubur mimpi AC Milan untuk tampil di Liga Champions musim depan, setelah berada di belakang AS Roma dan Como.
Sejak awal musim, AC Milan dijagokan untuk meraih gelar juara Liga Italia karena menghabiskan lebih dari 150 juta euro di bursa transfer.
Selain itu, Rossoneri juga diuntungkan dengan jadwal pertandingan yang ringan karena tak berlaga di kompetisi Eropa lainnya.
Tetapi, penampilan Rafael Leao dkk sendiri yang jauh di bawah ekspektasi.
Baca juga: 4 Momen Pesta Scudetto Inter Milan yang Bikin AC Milan Dongkol, Thuram Paling Curi Perhatian
Terlepas dari persoalan taktik racikan Massimiliano Allegri, setidaknya ada 4 penyebab AC Milan tak dapat memenuhi target mereka.
Milan dianggap terlalu percaya diri untuk memaksakan bersaing di jalur Scudetto sejak awal musim.
Memang statistik di pekan-pekan awal sempat memunculkan harapan dengan permainan solid dan hanya menderita sekali kekalahan hingga giornata 25.
Tak terkalahkan dalam 24 pertandingan beruntun di Serie A, membuat AC Milan jemawa untuk menggilas rival-rivalnya.
Kemenangan melawan Inter Milan, Napoli, AS Roma, dan Lazio di paruh pertama, langsung mengangkat kepercayaan diri para pemain AC Milan.
Namun tanpa disadari, Luka Modric dkk lengah menghadapi tim medioker.
AC Milan kemudian tak terduga kalah melawan tim sekelas Parma, Udinese, dan Sassuolo.
Sejak saat itu, AC Milan selalu gugup meladeni tim papan tengah, yang berujung kehilangan poin penuh.
Baca juga: Skenario Inter Milan Amankan Scudetto Akhir Pekan Ini, Napoli dan AC Milan Rawan Tergelincir
Dari sisi ruang ganti, Massimiliano Allegri diketahui kehilangan ide dan inovasinya dalam memaksimalkan skuad.
Kendati menghabiskan budget transfer besar, rekrutan pemain AC Milan tak sesuai dengan taktik Allegri.
Cedera juga menambah masalah tim, lantaran para pemain pelapis tak benar-benar memanfaatkan kesempatan.
Hasilnya, beberapa pemain sempat kehilangan kepercayaan pada Allegri.
Terutama Rafael Leao yang terlibat friksi dengan sang allenatore karena tak dimainkan di posisi idealnya.
Insiden mencolok terjadi setelah kekalahan dari Lazio (sekitar Maret 2026), Rafael Leao menolak pelukan Allegri saat diganti.
Keduanya sempat terlibat konfrontasi verbal dengan rekan setim, termasuk Christian Pulisic).
Meski Allegri berusaha meredam, ketegangan ini berkontribusi pada penurunan performa AC Milan di fase kritis.
Sejak awal musim Allegri memahami mentalitas para pemain AC Milan medioker, menyusul kegagalan musim lalu yang finish di luar zona Eropa.
Faktor tersebut yang membuat Allegri tegas memasang target lolos ke Liga Champions sebagai prioritas musim ini.
Sayangnya, para petinggi Rossoneri terlalu naif menginginkan Scudetto karena percaya diri bisa melengserkan Inter Milan.
Memang, harapan Scudetto muncul dan sempat memantik para pemain AC Milan untuk merebut gelar juara Liga Italia Serie A.
Tetapi, ekspektasi tersebut justru berujung boomerang, yang membuat Rossoneri kehilangan momentum di laga krusial.
Belum genap seminggu setelah menang Derby della Madonnina di paruh kedua musim, Il Diavolo Rosso pulang tanpa poin dari markas Lazio.
Alih-alih melancarkan kudeta, AC Milan malah semakin kehabisan bensin jelang musim berakhir.
Mentalitas medioker itu terlihat dari jumlah kekalahan di kandang sendiri lebih banyak ketimbang laga away.
Apalagi kekalahan AC Milan di San Siro justru didapat melawan tim di bawah mereka, seperti Cremonese, Parma, Udinese, Atalanta, dan Cagliari.
"Ketika kami kalah dalam lima pertandingan kandang seperti yang terjadi, akhirnya kami berada di posisi ini," ungkap Allegri.
Baca juga: Inter Milan Segel Tiket ke Liga Champions, Pelatih AC Milan Buru-buru Ucapkan Selamat Scudetto
Ketidakcocokan visi antara pelatih Allegri dan Zlatan Ibrahimovic selaku penasihat klub, semakin menambah carut-marut kondisi AC Milan.
Usai kalah dari Cagliari di laga pamungkas, Allegri menolak bertanggungjawab. Sang pelatih justru menilai kesalahan terjadi di seluruh sektor, bukan semata-mata soal taktik.
Corriere dello Sport melaporkan, pecahnya hubungan antara Allegri dan Zlatan Ibrahimovic terjadi di sebuah restoran.
Bahkan keduanya sempat terlibat adu fisik hingga dipisahkan oleh CEO Giorgio Furlani dan Sporting Director AC Milan, Igli Tare.
Akibat konflik ini, AC Milan melakukan bersih-bersih dengan memecat Allegri dari kursi pelatih di akhir musim.
Giorgio Furlani, Igli Tare, dan Technical Director Geoffrey Moncada juga ikut angkat kaki.
(*)
(TribunKaltara.com / Cornel Dimas Satrio K)