Sosok dan Profil 4 Bupati Malang Pascareformasi, dari Akademisi hingga Pengusaha Tebu
Mujib Anwar May 27, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Malang dipimpin oleh sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda, mulai dari akademisi, politisi, hingga pengusaha.

Masing-masing bupati memiliki perjalanan karier dan gaya kepemimpinan tersendiri yang turut memberi warna dalam dinamika pemerintahan Kabupaten Malang dari masa ke masa.

Berikut daftar 4 Bupati Malang setelah era reformasi 1998 beserta sosok dan profil singkat serta perjalanan kariernya.

Ibnu Rubianto

Mochammad Ibnu Rubianto merupakan Bupati Malang yang menjabat pada awal era reformasi, tepatnya sejak 26 Oktober 2000 hingga wafat pada 24 Januari 2001.

Meski memimpin di masa reformasi, Ibnu tidak dipilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat, melainkan oleh anggota DPRD.

Hal tersebut dikarenakan Kabupaten Malang baru menggelar Pilkada langsung pertamanya pada tahun 2005.

Ibnu dikenal sebagai akademisi sekaligus politikus yang sempat memimpin Kabupaten Malang dalam masa transisi pemerintahan pascareformasi.

Pria kelahiran Malang, 12 November 1956 ini berasal dari keluarga pejuang dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Ayahnya, Letkol (Purn.) KH Mahfud Ridwan, merupakan pejuang kemerdekaan penerima Bintang Gerilya.

Sementara ibunya, Hj. Soejati, aktif di Korps Wanita Veteran Indonesia (KOWAVERI).

Dari garis keluarga ibunya, Ibnu juga merupakan cucu KH Ridlwan Abdullah, tokoh NU yang dikenal sebagai pencipta lambang Nahdlatul Ulama.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Malang sebelum melanjutkan studi Teknik Sipil Transportasi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Ia juga meraih gelar MBA bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dari Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesia (IPWI) Jakarta.

Sebelum terjun ke dunia politik, Ibnu berkarier sebagai dosen tetap di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang dan pernah menjabat Dekan Fakultas Teknik.

Namun masa kepemimpinannya sebagai Bupati Malang berlangsung singkat karena wafat pada Januari 2001.

Posisinya kemudian digantikan oleh wakilnya, Sujud Pribadi.

Baca juga: Daftar 4 Wali Kota Malang Hasil Pilihan Rakyat, Ini Sosok Profil dan Perjalanan Kariernya

Sujud Pribadi

Potret Sujud Pribadi (kanan), Bupati Malang dua periode yang dikenal sederhana dan dekat dengan masyarakat melalui gaya kepemimpinannya yang turun langsung ke desa-desa.
Potret Sujud Pribadi (kanan), Bupati Malang dua periode yang dikenal sederhana dan dekat dengan masyarakat melalui gaya kepemimpinannya yang turun langsung ke desa-desa. (suryamalang.tribunnews.com)

Sujud Pribadi menjabat sebagai Bupati Malang selama dua periode, yakni 2001–2005 dan 2005–2010.

Sebelumnya, ia menjabat Wakil Bupati Malang mendampingi Ibnu Rubianto pada periode 2000–2001.

Karier politik Sujud dimulai saat dipercaya menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang periode 1999–2000.

Setelah wafatnya Ibnu Rubianto, Sujud dilantik menjadi Bupati Malang untuk melanjutkan sisa masa jabatan periode 2001–2005.

Pada periode berikutnya, Sujud memimpin Kabupaten Malang bersama Rendra Kresna sebagai wakil bupati.

Keduanya dikenal memiliki pembagian peran yang seimbang, di mana Sujud lebih banyak turun langsung ke masyarakat, sedangkan Rendra memperkuat administrasi pemerintahan.

Sujud dikenal memiliki gaya kepemimpinan sederhana dan dekat dengan warga.

Ia kerap mengunjungi desa-desa menggunakan sepeda motor untuk melihat langsung kondisi masyarakat.

Dalam memimpin, Sujud memegang filosofi hidup Sepi ing pamrih, rame ing gawe, nrimo ing pandum, yang berarti bekerja dengan tulus tanpa pamrih dan ikhlas mengabdi.

Selain itu, ia juga dikenal menolak budaya Asal Bapak Senang (ABS) di lingkungan birokrasi.

Salah satu kebijakan yang cukup menonjol pada masa kepemimpinannya adalah menghapus tradisi pemberian parsel Lebaran bagi pegawai negeri sipil pada 2005 sebagai bentuk komitmen terhadap semangat antikorupsi.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai bupati, Sujud diketahui aktif berdagang dan tetap berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Baca juga: Dari Santri ke Kursi Bupati, Inilah Jejak Perjalanan Gus Barra Memimpin Kabupaten Mojokerto

Rendra Kresna

Rendra Kresna, pernah menjabat sebagi Bupati Malang selama dua periode, yakni 2010–2015 dan 2016–2021.
Rendra Kresna, pernah menjabat sebagi Bupati Malang selama dua periode, yakni 2010–2015 dan 2016–2021. (KOMPAS.com/Andi Hartik)

Rendra Kresna menjabat sebagai Bupati Malang selama dua periode, yakni 2010–2015 dan 2016–2021.

Sebelum menjadi bupati, ia terlebih dahulu menjabat sebagai Wakil Bupati Malang mendampingi Sujud Pribadi pada periode 2005–2010.

Pria kelahiran 22 Maret 1962 tersebut memulai karier politiknya melalui Partai Golkar.

Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang sejak 1997 hingga 2005 sebelum dipercaya menduduki jabatan wakil bupati.

Pada Pilkada 2015, Rendra kembali terpilih sebagai Bupati Malang bersama M. Sanusi sebagai wakil bupati.

Saat itu, pasangan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah partai politik.

Selain dikenal aktif di dunia politik, Rendra juga pernah menjabat Ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur setelah hengkang dari Partai Golkar pada 2016.

Namun perjalanan kepemimpinannya diwarnai kasus hukum yang kemudian menjadi sorotan publik dan memengaruhi perjalanan politiknya.

Meski demikian, Rendra juga sempat menerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha pada 2018.

Eks Bupati Malang tersebut akhirnya memperoleh bebas bersyarat pada 23 April 2024 setelah menjalani masa tahanan sejak 2018.

Baca juga: Sosok dan Profil Gus Haris, Dokter Visioner yang Kini Memimpin Kabupaten Probolinggo

M Sanusi

Bupati Malang M. Sanusi atau Abah Sanusi yang dikenal sebagai tokoh politik sekaligus pengusaha tebu asal Gondanglegi.
Bupati Malang M. Sanusi atau Abah Sanusi yang dikenal sebagai tokoh politik sekaligus pengusaha tebu asal Gondanglegi. (TribunJatim.com/Purwanto)

M Sanusi atau akrab disapa Abah Sanusi menjadi salah satu tokoh yang cukup lama memimpin Kabupaten Malang.

Ia menjabat sebagai Bupati Malang periode 2019–2021, 2021–2025, dan kembali terpilih untuk masa jabatan 2025–2030.

Dilansir dari suryamalang.tribunnews.com, Sanusi lahir di Malang pada 20 Mei 1960.

Sebelum terjun ke dunia politik, ia dikenal sebagai pengusaha tebu asal Gondanglegi.

Selain itu, Sanusi juga sempat berkarier sebagai guru di MAN Filial Gondanglegi pada 1983.

Masa kecil hingga pendidikan menengah Sanusi ditempuh di lingkungan pondok pesantren di Gondanglegi.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke IAIN Sunan Ampel dan meraih gelar doktorandus pada 1990.

Ia kemudian mengambil pendidikan Magister Manajemen di STIE Mitra Indonesia Yogyakarta.

Karier politik Sanusi dimulai melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ia pernah menjabat Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang.

Sebagai pengagum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sanusi juga aktif di berbagai organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan GP Ansor.

Namanya semakin dikenal ketika terpilih sebagai Wakil Bupati Malang mendampingi Rendra Kresna periode 2016–2021.

Pada Oktober 2018, Sanusi dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Malang menggantikan Rendra Kresna yang tersandung kasus hukum.

Setahun kemudian, ia resmi dilantik sebagai Bupati Malang definitif.

Pada Pilkada Kabupaten Malang 2020, Sanusi berpindah ke PDI Perjuangan dan maju berpasangan dengan Didik Gatot Subroto.

Pasangan tersebut berhasil memenangkan Pilkada dengan perolehan 530.449 suara atau 45,51 persen suara sah.

Sanusi kembali memenangkan Pilkada Malang 2024 bersama Lathifah Shohib.

Pasangan itu berhasil unggul di 32 dari 33 kecamatan dengan raihan 782.356 suara atau sekitar 66,22 persen suara sah.

Baca juga: Sosok dan Profil Sanusi, Mantan Sopir Kiai yang Sukses jadi Bupati Malang Dua Periode

Dinamika Kepemimpinan Kabupaten Malang

Perjalanan kepemimpinan Kabupaten Malang menunjukkan dinamika politik dan pemerintahan yang terus berkembang dari masa ke masa.

Setiap bupati memiliki kebijakan, tantangan, dan gaya kepemimpinan berbeda dalam membangun Kabupaten Malang.

Ada yang berasal dari kalangan akademisi, politisi partai, hingga pengusaha yang kemudian terjun ke pemerintahan.

Beragam program dan kebijakan yang dijalankan para bupati tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah terbesar di Jawa Timur hingga saat ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.