Pep Guardiola secara tegas menayangkan cuplikan video Bruno Fernandes yang tampak mengeluh kepada para pemain Manchester City-nya untuk memperlihatkan secara jelas perilaku di lapangan yang dianggap tidak dapat diterima. Saat sang pelatih bersiap meninggalkan klub setelah satu dekade bersejarah, tuntutan kerasnya terhadap persatuan tim menjelaskan budaya elit yang telah mengantarkan 20 trofi dan mencegah munculnya friksi beracun di dalam skuad.
Menetapkan standar di Etihad
Menurut laporan dari The Athletic, Guardiola memanfaatkan momen setelah kemenangan besar 3-0 dalam derby Manchester awal musim ini untuk menyampaikan pesan yang tegas. Dalam sesi evaluasi tim, pelatih asal Spanyol itu memutar cuplikan yang memperlihatkan Bruno sedang marah dan memberi isyarat kepada rekan setimnya setelah gol yang dicetak Phil Foden. Guardiola menegaskan bahwa sikap seperti itu tidak akan pernah diterima di timnya. Ia mengingatkan kembali pentingnya budaya harmonis yang selalu dijaga, di mana para pemain tidak saling menyalahkan ketika menghadapi kesulitan. Kebijakan disiplin Guardiola memastikan timnya tetap solid, menghindari konflik internal yang kerap terjadi di tubuh Manchester United.
Satu dekade gemilang yang segera berakhir
Standar tegas yang ditegakkan dalam sesi evaluasi derby tersebut menjadi cerminan sempurna dari budaya yang telah ditanamkan Guardiola sepanjang masa kepelatihannya yang bersejarah. Ia akan resmi menutup masa baktinya selama 10 tahun, dari 2016 hingga 2026, pada akhir musim ini. Era keemasannya menghasilkan 20 trofi, sepenuhnya merevolusi struktur taktis klub. Deretan prestasi luar biasa itu mencakup enam gelar Liga Primer Inggris, termasuk rekor bersejarah dengan empat gelar domestik berturut-turut. Selain itu, ia juga mempersembahkan trofi Liga Champions pertama bagi klub, tiga Piala FA, lima Piala Carabao, tiga Community Shield, satu Piala Super UEFA, dan satu Piala Dunia Antarklub FIFA.
Perdebatan antara pengamat dan pemain soal sikap
Sementara Manchester City berkembang berkat keharmonisan kolektif, kecenderungan Fernandes untuk menunjukkan frustrasi sering kali menuai kritik tajam. Setelah kekalahan telak beberapa tahun lalu, legenda klub Gary Neville meluapkan kekesalannya terhadap sang gelandang dengan mengatakan: "Saya akan mulai dengan Bruno Fernandes. Saya sudah muak melihatnya mengangkat tangan ke rekan setimnya, muak karena dia tidak mau berlari kembali. Dia mengeluh kepada semua orang." Meski banyak dikritik, Fernandes membela temperamennya dalam wawancara bersama Sky Sports. Ia menjelaskan: "Terkadang saya memang melewati batas. Saya tahu itu. Hal seperti itu bisa terjadi saat pertandingan dan sulit mengendalikan emosi. Namun saya tidak pernah bermaksud untuk tidak menghormati siapa pun."
Apa langkah selanjutnya bagi kedua klub Manchester?
Ke depan, Manchester City menghadapi tantangan besar untuk mencari pengganti pelatih tersukses mereka musim depan. Di sisi lain, Manchester United bersama pelatih permanen baru mereka, Michael Carrick, dituntut untuk menemukan cara mengubah semangat kompetitif tinggi Fernandes menjadi kekuatan positif, sekaligus berusaha membangun kembali performa setelah ia mencatatkan rekor 21 assist di Liga Primer dan kembali menantang rival sekota mereka.