Steven Gerrard Baru? Bagaimana Legenda Liverpool Menginspirasi Declan Rice Menjadi Gelandang Sempurna untuk Arsenal & Timnas Inggris
Agus Firmansyah May 27, 2026 11:06 AM

Declan Rice mengungkapkan bagaimana sosok legenda Liverpool, Steven Gerrard, berperan besar dalam membentuk transformasinya menjadi “mercusuar” di lini tengah Arsenal. Saat The Gunners bersiap menghadapi final Liga Champions bersejarah melawan Paris Saint-Germain di Budapest, gelandang timnas Inggris itu bertekad mengikuti jejak para legenda dengan memimpin timnya meraih kejayaan di Eropa.

Rancangan kesuksesan ala Gerrard

Mikel Arteta kerap mencari cara unik untuk menggambarkan peran penting Rice di lapangan tengah, bahkan pernah menjulukinya sebagai “mercusuar Arsenal.” Namun, Rice sendiri melihat evolusinya melalui sosok panutan dari era Premier League.

Dalam wawancara dengan uefa.com, pemain berusia 27 tahun itu mengakui bahwa ia banyak mempelajari cara Gerrard bermain, terutama dalam meniru kemampuan mantan kapten Liverpool tersebut untuk memengaruhi permainan di kedua sisi lapangan.

“Dia (Arteta) telah mengubah saya menjadi gelandang yang lebih komplet, dalam arti bisa melakukan sedikit dari segalanya,” ujar Rice tentang pengaruh sang pelatih. “Saya pernah mendengar Steven Gerrard mengatakan bahwa ketika dia bermain, dia menganggap dirinya sebagai gelandang yang bisa melakukan sedikit dari segalanya. Saya pikir saya juga begitu. Saya bisa membantu serangan, sedikit bertahan. Jika saya perlu bertahan, saya bisa. Jika saya perlu maju dan membantu serangan, saya juga bisa.”

Mercusuar Arsenal

Setelah meraih medali juara Premier League musim ini, Rice kini menargetkan pencapaian ganda bersejarah di Budapest. Sang gelandang dikenal mampu tampil gemilang di laga-laga besar, sebuah sifat yang ia yakini juga dimiliki oleh seluruh skuad Arsenal saat ini.

“Saya ingin tetap sibuk tetapi juga menunjukkan karakter dan kekuatan saya, dan saya rasa Arteta sangat membantu saya melakukan itu dalam beberapa tahun terakhir. Sejak pertama kali kami bertemu, dia menggambarkan saya sebagai mercusuar Arsenal,” jelas Rice.

Ia menambahkan, “Saya belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya, tetapi Arteta memang sering mengeluarkan ungkapan-ungkapan unik seperti itu, dan menurut saya itu sangat istimewa.”

Mengubah kekecewaan menjadi motivasi

Rice bukan orang asing terhadap suka duka di partai final besar. Ia pernah membawa West Ham menjuarai Liga Konferensi Eropa pada 2023, namun juga merasakan pahitnya kekalahan di dua final Kejuaraan Eropa bersama Inggris serta final Piala Liga. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Rice menjadikan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai pelajaran penting dalam menghadapi tantangan melawan PSG asuhan Luis Enrique.

“Saya sudah kalah di beberapa final: dua final EURO, satu final Piala Liga. Rasanya menyakitkan karena jika sudah sampai final, tentu kita ingin memenangkannya. Tapi semua kekalahan kecil yang kamu alami justru mempersiapkan kamu dengan baik,” ujar Rice. “Itu membuatmu semakin lapar untuk terus meraih kemenangan, dan semoga itu yang bisa kami lakukan ke depannya.”

Kesempatan untuk penebusan di Liga Champions

Kenangan pahit dari kekalahan di semifinal musim lalu melawan raksasa Paris masih melekat di Emirates. Arsenal merasa mereka tampil lebih baik dalam dua leg, namun gagal memanfaatkan peluang. Kini, saat kedua tim kembali bertemu dengan trofi paling bergengsi di Eropa sebagai taruhannya, Rice memperingatkan rekan-rekannya agar lebih tajam agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

“PSG adalah tim yang luar biasa. Kami sudah menghadapi mereka dua leg musim lalu. Pertandingannya bisa berjalan ke arah mana pun, jadi sekarang saya hanya bisa bilang, semoga tim terbaik yang menang,” kata Rice. “Apa yang kami pelajari dari kekalahan di semifinal musim lalu? Bahwa kamu harus memanfaatkan peluang yang ada, karena kami punya banyak kesempatan waktu itu. Saat itu belum jodoh kami, tapi momen seperti itulah yang mempersiapkan kami untuk tantangan berikutnya. Kami akan siap.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.