TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri tambang kini menghadapi tuntutan baru. Tidak cukup hanya mengejar produksi dan keuntungan, perusahaan juga dituntut mampu menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Perubahan pendekatan itu mulai terlihat dari langkah yang dijalankan PT Reswara Minergi Hartama, anak usaha Grup PT ABM Investama Tbk yang mendorong model pengelolaan tambang yang tidak hanya berfokus pada operasional bisnis, tetapi juga pemulihan lingkungan serta penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Direktur Utama ABMM, Achmad Ananda Djajanegara, mengatakan keberlanjutan kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan, termasuk melalui pendekatan ESG dan program sosial yang lebih terarah.
Baca juga: Potensi Besar Energi Panas Bumi RI Masih Tertahan Tarif dan Risiko Investasi
“Pertumbuhan usaha harus berjalan beriringan dengan penguatan masyarakat dan dampak nyata di sekitar wilayah operasional,” ujarnya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Salah satu fokus perusahaan terlihat pada reklamasi dan rehabilitasi lingkungan di area tambang. Melalui anak usahanya, PT Tunas Inti Abadi, perusahaan mencatat reklamasi lahan mencapai 901,26 hektare serta rehabilitasi daerah aliran sungai seluas 1.745,10 hektare di Kalimantan Selatan.
Lebih dari 563 ribu pohon telah ditanam sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem pascatambang.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai mengembangkan ekonomi berbasis komunitas melalui program Kopi Aranio di Kabupaten Banjar. Program tersebut menggabungkan revitalisasi lahan dengan peningkatan kapasitas petani kopi lokal.
Inisiatif itu dinilai tidak hanya menciptakan sumber pendapatan baru, tetapi juga memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat sekitar tambang.
Baca juga: Kejagung Tetapkan 4 Tersangka Baru Kasus Tata Kelola Korupsi Tambang di Kalimantan Barat
Direktur Reswara, Iwan Hermawan, mengatakan praktik keberlanjutan tidak bisa berhenti pada kegiatan seremonial atau bantuan jangka pendek.
“Yang ingin dibangun adalah kapasitas dan kemandirian masyarakat agar manfaatnya bisa bertahan dalam jangka panjang,” kata Iwan.
Selain sektor lingkungan dan ekonomi, perusahaan juga mendorong pemberdayaan perempuan melalui pengembangan UMKM batik Sasirangan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Model semacam ini mulai dipandang sebagai arah baru industri ekstraktif di Indonesia, seiring meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.