TRIBUNNEWS.COM - Umat muslim di seluruh penjuru Iran merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026).
Di Tehran, ibu kota Iran, pelaksanaan salat Idul Adha dipusatkan di Universitas Tehran dan dipimpin langsung oleh ulama senior Ayatollah Seyed Ahmad Khatami.
Jemaah yang hadir tidak hanya dari kalangan masyarakat umum, tetapi juga diikuti oleh sejumlah besar pejabat tinggi politik dan militer negara tersebut.
Baca juga: Hari ke-89 Perang Iran: Gencatan Senjata Retak, Israel Gempur Lebanon, 31 Tewas
Dalam khotbahnya, Ayatollah Seyed Ahmad Khatami menyampaikan pesan geopolitik yang tegas.
Ia menegaskan bahwa musuh-musuh bangsa Iran tidak akan pernah bisa mencapai tujuan mereka untuk mempermalukan atau meruntuhkan harga diri Iran.
Secara khusus, Khatami menyentil sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ia menyebut pemimpin yang berada di "Gedung Hitam"—merujuk pada Gedung Putih—sebagai sosok yang keliru jika mengira bisa mendikte Iran.
Menurutnya, tawaran dialog yang kerap dilayangkan AS belakangan ini bukanlah negosiasi yang tulus, melainkan kedok untuk memaksa Iran menyerah.
Khatami juga mengutip pesan yang disampaikan sehari sebelumnya oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, kepada para jemaah haji.
Pesan tersebut menekankan bahwa keteguhan dan kehadiran masyarakat di garis depan telah berhasil menggagalkan strategi musuh dalam menekan Iran.
Selain isu diplomasi, khotbah Idul Adha tersebut menyoroti perkembangan global, khususnya pembentukan armada kapal kemanusiaan "Sumud" yang berlayar dari berbagai belahan dunia untuk mendukung warga Gaza, Palestina.
Menurut Khatami, aksi armada Sumud menunjukkan dua potret nyata kepada dunia saat ini, yakni Gerakan kemanusiaan ini digerakkan oleh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan yang universal, bahkan oleh mereka yang bukan beragama Islam, demi membela warga Gaza yang tertindas.
Kehadiran armada ini kembali mempertegas watak kriminal rezim Israel di mata internasional.
Khatami menambahkan bahwa keburukan tindakan tersebut tidak hanya melekat pada Israel, tetapi juga pada Presiden AS yang terus memberikan dukungan penuh.
Di ranah domestik, Khatami mengingatkan bahwa perlawanan atau resistensi nasional tidak selalu berbentuk militer, melainkan bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui perilaku hemat energi.
Ia menyerukan kepada seluruh warga Iran untuk bijak dalam menggunakan air, listrik, dan fasilitas publik sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan negara.
Mengawali khotbahnya, Khatami tidak lupa menyelipkan nasihat etis dan moral keagamaan.
Berdasarkan berbagai riwayat tradisi Islam, ia mengingatkan jemaah untuk menjauhi sifat-sifat buruk dalam kehidupan sosial.
Ia menegaskan kembali bahwa siapa saja yang mengkhianati amanah, menipu sesama muslim, atau tidak bisa menjadi tetangga yang baik, maka mereka bukanlah bagian dari golongan umat yang sejati.
Perayaan Iduladha di Iran ini ditutup dengan penyembelihan hewan kurban oleh masyarakat secara gotong royong.
Daging kurban tersebut kemudian didistribusikan kepada keluarga, kerabat, serta diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu di berbagai wilayah.
Meskipun delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf baru saja kembali dari Qatar untuk merundingkan penghentian perang yang telah berlangsung hampir tiga bulan, atmosfer ketidakpercayaan mendalam masih membayangi pemerintahan di Tehran.
"Prinsip fundamental kami adalah ketidakpercayaan total terhadap Amerika," tegas anggota parlemen senior Iran, Abbas Moghtadaei, dikutip Aljazeera.
Sikap skeptis ini kian menguat menyusul ketegangan militer terbaru. Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Washington melakukan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata rapuh yang disepakati pada 8 April lalu, setelah AS melancarkan serangan udara di Provinsi Hormozgan.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menembak jatuh pesawat nirawak (drone) MQ-9 Reaper milik AS menggunakan sistem pertahanan udara domestik teranyar, Arash-e Kamangir.
Di saat yang sama, sebuah ledakan misterius dilaporkan menghantam kapal tanker di lepas pantai Oman, semakin memanaskan situasi di jalur perdagangan vital tersebut.
Eskalasi ini terjadi justru di tengah upaya kedua belah pihak merumuskan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU).
Kesepakatan ini diproyeksikan untuk membuka kembali jalur transit di Selat Hormuz yang membeku sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu, sekaligus mencairkan dana asing Iran yang dibekukan akibat sanksi.
Namun, dari faksi moderat hingga garis keras di Tehran, seluruh pejabat sepakat bahwa Iran tidak akan menerima kesepakatan yang berujung pada "penyerahan diri".
Presiden Masoud Pezeshkian memang sempat menegaskan kepada dunia bahwa Iran tidak mengincar senjata nuklir ataupun ketidakstabilan regional.
Kendati demikian, komandan kedirgantaraan IRGC yang berpengaruh, Majid Mousavi, mengingatkan kembali pesan pemimpin terdahulu bahwa bernegosiasi dengan musuh adalah kerugian murni.
Mousavi menyatakan akan patuh pada perintah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, untuk tetap melawan basis militer AS di kawasan.
Nicole Grajewski, pengamat dari Sciences Po, menilai elite politik Iran khawatir bahwa kesepakatan ini hanyalah taktik AS dan Israel untuk mencari jeda operasional, mengumpulkan intelijen, sebelum meluncurkan serangan skala besar berikutnya.
"Agar kesepakatan ini dapat diterima secara domestik di Tehran, pemerintah harus membingkainya bukan sebagai kapitulasi di bawah tekanan militer, melainkan sebagai stabilisasi taktis yang tetap menjaga kedaulatan serta garis merah (red lines) mereka," ujar Grajewski.
Garis merah yang dimaksud termasuk mempertahankan kapasitas pengayaan nuklir dan instrumen pencegahan regional.
Selain masalah kedaulatan, kekhawatiran terbesar Iran saat ini adalah masalah keamanan para pemimpin mereka.
Analis politik yang berafiliasi dengan IRGC, Nima Akbarkhani, secara terbuka menyatakan di televisi negara bahwa kesepakatan ini bisa menjadi bumerang jika AS memanfaatkan akses tersebut untuk melakukan operasi pembunuhan terhadap petinggi Iran.
Bahkan, pengamat lain menilai proposal kesepakatan dari AS berpotensi menjadi skema jebakan (honeypot) untuk memancing para pemimpin Iran keluar dari persembunyian.
Berdasarkan laporan media, lambatnya proses negosiasi saat ini salah satunya dipicu oleh posisi Ayatollah Mojtaba Khamenei yang terus diposisikan di lokasi aman tersembunyi demi menghindari ancaman keamanan.
Melihat dinamika internal tersebut, pengamat senior dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai draf kesepakatan yang ada saat ini belum mengarah pada perdamaian historis yang komprehensif.
"Ini terlihat lebih seperti mekanisme manajemen gencatan senjata jangka pendek yang dirancang untuk membeli waktu, menurunkan risiko perang instan, membuka sebagian Selat Hormuz, dan menunda keputusan sulit terkait nuklir ke putaran berikutnya," jelas Vatanka.
Akibatnya, kecurigaan mendalam antara Tehran dan Washington diprediksi akan tetap bertahan lama.