Bantah Isu Rasisme soal Calon Paskibraka Makassar Dicoret, Bangkespol: Nilainya Bukan yang Tertinggi
Facundo Chrysnha Pradipha May 27, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.com - Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Bustanul, membantah tudingan isu rasisme terkait dicoretnya calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) asal Kota Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana.

Ia mengatakan Cathlyn bukan peraih nilai tertinggi dalam seleksi calon Paskibraka nasional, melainkan nama lain.

Namun, Bustanul menyayangkan mengapa justru isu rasisme yang keras digaungkan terkait dicoretnya nama Cathlyn.

"Kalau pun Makassar mau ngotot menganggap (ada wakil dari Kota Makassar), harusnya kan yang diprioritaskan itu Putri, bukan Cathlyn, karena lebih tinggi nilainya," ujar Bustanul, dilansir Kompas.com.

"Tetapi, yang digoreng karena Tionghoanya," imbuh dia.

Selain isu rasisme, dicoretnya Cathlyn juga disebut-sebut lantaran siswi SMA Cerdas Bangsa ini tidak menguasai bahasa daerah.

Baca juga: Dengar Nilai Cathlyn Calon Paskibraka Cukup, tapi Dicoret, Wali Kota Makassar: Berharap Proses Fair

Terkait hal itu, Bustanul menilai merupakan hal yang wajar apabila panitia seleksi ingin tahu apakah peserta menguasa bahasa daerah.

Meski demikian, Bustanul menekankan penguasaan bahasa daerah bukan menjadi indikator kelulusan.

"Jadi tes kepribadian salah satunya adalah melihat kearifan lokal yang bersangkutan namanya juga mewakili daerah, masa salah ketika kita bertanya tahu bahasa daerah tidak."

"Tetapi, bahasa daerah tahu atau tidaknya itu tidak menjadi indikator menggugurkan," jelas Bustanul.

Sebelumnya, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar, Muhammad Fahmi, menyoroti seleksi Paskibraka nasional Provinsi Sulsel.

Ia menduga ada isu rasisme dalam proses seleksi Paskibraka nasional, mengingat Cathlyn beretnis Tionghoa.

Fahmi juga menilai mekanisme penilaian tidak terbuka.

Sebab, para pendamping dari peserta seleksi tidak diperbolehkan masuk saat penentuan tiga besar calon Paskibraka nasional.

"Tim penilai kan banyak unsur, dari informasi kami himpun. Teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian," ujar Fahmi saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (25/5/2026).

"Tapi penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan. Satu kali dulu, baru dikeluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan. Kita tidak permasalahkan siapapun lolos," sambung dia.

Fahmi juga mempertanyakan indikator penilaian, salah satunya adalah kemampuan menguasai bahasa daerah.

Ia mengatakan hal itulah yang berpengaruh pada kelulusan Cathlyn Yvaine Lesmana.

Padahal, kata dia, Cathlyn menguasa bahasa Inggris dan Mandarin.

Fahmi juga mengaku mendengar kabar tim penilai melakukan penilaian tak sesuai indikator nilai dari PPI Pusat.

"Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?" kata Fahmi.

"Tidak ada aturan baris berbaris menggunakan bahasa daerah, di pusat pun pakai bahasa Indonesia"

"Dari perankingan, adik kita mendekati sempurna nilainya. Hampir seratus, artinya secara kemampuan aman. Tapi pas mengusulkan tiga besar justru turun diganti yang tidak masuk 10 besar," tutur dia.

Meski batal berangkat ke tingkat pusat, Cathlyn dikabarkan tetap bertugas sebagai anggota Paskibraka tingkat Provinsi Sulsel.

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W, Tribun-Timur.com/Faqih Imtiyaaz, Kompas.com/Yefta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.