TRIBUNJATENG.COM - Kenaikan harga plastik menjadi salah satu alasan 1600 pekerja pabrik mainan di Sragen jadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mirisnya, seluruhnya tidak mendapat pesangon karena status pekerjaan merupakan karyawan kontrak.
Hal ini menunjukan bahwa kenaikam sebuah komoditas dalam hal ini plastik bisa berdampak luas.
Baca juga: Dispaperta Batang Temukan Cacing Hati Saat Iduladha, Warga Diminta Jangan Panik
Baca juga: Detik-detik Sapi Kurban Ngamuk di Kroya, Sudah Diikat dari Berbagai Sisi
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah membenarkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.600 pekerja di PT Combine Will Industrial Indonesia atau CWII di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Kepala Disnakertrans Jateng, Ahmad Aziz, mengatakan PHK terjadi karena perusahaan tidak memperpanjang kontrak para pekerja di tengah penurunan pesanan dan kenaikan harga bahan baku plastik.
“Saya sudah ke sana 18 Mei dengan BPJS, Disnaker Sragen untuk mengkonfirmasi itu (PHK).
Dari tenaga kerja kurang lebih hampir 10.000 itu memang ada kontrak yang tidak diperpanjang,” ujar Aziz saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (27/5/2026).
Menurut Aziz, kontrak kerja para buruh sebelumnya diperbarui setiap enam bulan.
Namun, kondisi industri yang melemah membuat perusahaan memangkas tenaga kerja.
“Iya betul (1.600 pekerja). Jadi itu (PHK) periodenya April dan periode Mei habis kontrak.
Nah, itu (PHK) disebabkan oleh apa? Ada penurunan order,” ungkapnya.
Aziz menyebut perusahaan yang memproduksi mainan berbahan plastik itu juga terdampak kenaikan harga bahan baku sejak perang AS-Iran.
“Yang kedua, bahan bakunya kan plastik itu ya. Nah, itu juga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan,” beber Aziz.
Ia menjelaskan, para pekerja terdampak tidak memperoleh pesangon karena kontrak kerja mereka memang telah berakhir.
Namun, para buruh tetap mendapatkan kompensasi sesuai ketentuan.
“Kalau kontrak habis itu namanya kompensasi BPJS Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP),” tuturnya.
Aziz mengaku telah berdiskusi dengan pihak perusahaan terkait nasib para buruh terdampak PHK.
Menurut dia, manajemen optimistis kondisi perusahaan akan membaik pada kuartal keempat 2026.
“Dari pihak manajemen itu insyaallah nanti di kuartal keempat itu kondisinya akan membaik.
Nah, ketika membaik itu nanti akan dipanggil sebagian yang belum dapat pekerjaan,” ujarnya.
Sementara itu, Disnakertrans Jateng mencatat terdapat 18 perusahaan di Sragen yang membuka lowongan kerja dengan total sekitar 5.900 posisi.
Per 21 Mei 2026, sebanyak 782 eks pekerja PT CWII disebut telah diterima bekerja di sejumlah perusahaan di Sragen, di antaranya Pan Brothers, Djarum, PT Glory Industrial, PT Shesin, hingga PT Aroma Sukowati.
“Maka di tiga hari yang lalu itu sudah ada progresnya, ada sekitar 800 yang eks pekerja CWII yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang ada di Sragen yang buka lowongan itu,” kata Aziz. (*)
Sumber: kompas.com