TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Hamparan pasir Pantai Sodong di Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, menjadi saksi saat Jumawan memunguti satu per satu telur penyu demi menyelamatkan satwa langka yang kini semakin jarang mendarat di pesisir selatan Jawa.
Pria sederhana yang sehari-hari bekerja sebagai perangkat Desa Karangbenda itu rajin memindahkan telur penyu ke dalam ember berisi pasir laut agar tetap aman hingga proses penetasan berlangsung.
Di mata warga pesisir, Jumawan bukan sekadar pecinta satwa, melainkan sosok yang konsisten menjaga kelestarian penyu sejak bertahun-tahun lalu meski harus menggunakan biaya pribadi untuk menjalankan konservasi.
Baca juga: DKPP Jepara Terjunkan Dua Tim Pemantau Kurban
Baca juga: 2.000 Pegawai Pabrik Plastik di Sragen Kehilangan Pekerjaan, Akibat Order Anjlok
“Kalau tidak ada yang peduli, lama-lama penyu di pantai selatan Cilacap bisa hilang,” kata Jumawan.
Perjalanan Jumawan menjadi pegiat konservasi bermula dari kegelisahannya melihat praktik jual beli telur penyu yang marak ditawarkan secara terang-terangan melalui media sosial beberapa tahun silam.
Keresahan itu kemudian mendorongnya mendirikan Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja pada 2015 yang disebut sebagai komunitas konservasi penyu pertama di Kabupaten Cilacap.
Sejak saat itu, Jumawan bersama relawan rutin melakukan patroli di sepanjang pesisir pantai selatan Cilacap yang dahulu dikenal sebagai jalur pendaratan berbagai jenis penyu untuk bertelur.
“Dulu telur penyu sering diambil untuk dikonsumsi, bahkan dijual bebas lewat media sosial,” ujar Jumawan.
Tekadnya menyelamatkan penyu semakin kuat saat menemukan unggahan penjualan ratusan telur penyu di internet hingga akhirnya ia mendatangi langsung rumah penjual pada malam hari.
“Waktu saya datang, dari 100 telur tinggal 50 butir, lalu saya beli semuanya supaya bisa diselamatkan,” kata Jumawan.
Telur-telur penyu itu kemudian dibawanya menggunakan ember berisi pasir laut sebelum dipindahkan ke lokasi penetasan semi alami yang dibuat secara sederhana di kawasan pesisir.
Dengan pengetahuan yang dipelajari secara otodidak, Jumawan menggali lubang sedalam sekitar 40 sentimeter agar telur-telur tersebut bisa menetas dengan aman tanpa gangguan manusia maupun predator.
“Kalau dibiarkan di pinggir pantai takut diambil lagi atau dikonsumsi karena masih banyak yang percaya telur penyu bisa menambah stamina,” ucapnya.
Upaya konservasi yang dirintis Jumawan sempat dilakukan dengan segala keterbatasan sebelum akhirnya mendapat perhatian dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cilacap.
Ia pun aktif melaporkan setiap temuan penyu mendarat maupun telur yang ditemukan warga agar proses penyelamatan dapat dilakukan lebih cepat.
“Saya sampaikan ke BKSDA bahwa setiap tahun masih ada penyu yang mendarat di pantai Cilacap sehingga telurnya harus dijaga,” tutur Jumawan.
Kini Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja telah berkembang menjadi tempat edukasi lingkungan yang ramai dikunjungi pelajar dan masyarakat untuk belajar tentang pelestarian satwa laut.
Bersama para relawan dan stakeholder, Jumawan juga rutin memberikan penyuluhan kepada anak-anak hingga nelayan agar semakin peduli terhadap keberadaan penyu di laut selatan Cilacap.
“Kami ingin anak-anak punya kesadaran sejak dini kalau penyu harus dijaga karena mereka bagian penting dari ekosistem laut,” kata Jumawan.
Perjuangan panjang itu perlahan membuahkan hasil setelah para nelayan mulai ikut membantu konservasi dengan melaporkan temuan telur penyu maupun induk penyu yang mendarat di pantai.
Dedikasi Jumawan menjaga kelestarian penyu bahkan membawanya bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat kunjungan kerja di Cilacap untuk melepasliarkan tukik bersama anak-anak pesisir Adipala.
Bagi Jumawan, pelepasan tukik ke laut bukan sekadar seremoni, melainkan simbol harapan agar generasi muda terus menjaga alam yang diwariskan untuk masa depan. (ray)