Momen Iduladha 2026, Wali Kota Malang Ajak Warga Perkuat Toleransi dan Persaudaraan
Ndaru Wijayanto May 27, 2026 10:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengajak masyarakat menjadikan momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah sebagai pengingat pentingnya nilai pengorbanan, keikhlasan, toleransi, dan persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat yang beragam.

 Hal itu disampaikan Wahyu saat berpidato di Masjid Jami Malang, Rabu (27/5/2026). Menurutnya, Iduladha tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga mengandung nilai sosial yang penting dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan daerah.

“Hari Raya Iduladha mengajarkan kepada kita makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS,” kata Wahyu Hidayat, Rabu (27/5/2026).

Ia mengatakan, nilai-nilai tersebut tidak hanya penting dalam hubungan spiritual kepada Tuhan, tetapi juga harus menjadi landasan dalam kehidupan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Terlebih di tengah berbagai tantangan zaman saat ini, semangat berkorban demi kepentingan bersama dinilai harus terus dihidupkan dalam setiap langkah pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Semangat berkorban demi kemaslahatan bersama harus terus kita hidupkan dalam setiap langkah pengabdian dan pembangunan,” ujarnya.

Selain itu, Wahyu juga menekankan pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Kota Malang.

Ia mengatakan Kota Malang selama ini dikenal sebagai kota yang memiliki masyarakat majemuk dengan latar belakang suku, agama, budaya, dan sosial yang berbeda-beda. 

“Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi kekuatan yang mempererat persaudaraan dan memperkaya kehidupan sosial kita,” katanya.

Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sosial yang harus dijaga bersama, bukan alasan untuk terpecah.

Wahyu menyebut Kota Malang selama ini mampu menjaga iklim toleransi dan kerukunan antarmasyarakat dengan baik.

Semangat saling menghormati, menjaga, dan membantu antarsesama disebut menjadi modal sosial penting dalam menjaga keharmonisan Kota Malang.

“Alhamdulillah, Kota Malang dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan,” ujarnya.

Menurut Wahyu, toleransi tidak cukup hanya dimaknai sebagai hidup berdampingan secara damai.

Lebih dari itu, toleransi harus diwujudkan dalam sikap saling menghargai, keterbukaan dalam berdialog, serta kemauan bekerja sama demi kepentingan bersama.

Dengan cara tersebut, potensi perpecahan di tengah masyarakat dapat dicegah sejak dini.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Kota Malang untuk terus menjadi pelopor kerukunan di lingkungan masing-masing.

Wahyu juga mengingatkan pentingnya menjaga budaya gotong-royong serta memperkuat komunikasi antarwarga di tengah kehidupan perkotaan yang semakin dinamis.

“Mari kita rawat budaya gotong-royong, mempererat komunikasi antarwarga, serta menanamkan nilai moderasi dan saling menghargai kepada generasi muda,” katanya.

Ia berharap nilai-nilai toleransi dan cinta tanah air terus diwariskan kepada generasi muda agar Kota Malang tetap menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Menurut Wahyu, semangat religius, persaudaraan, dan keharmonisan sosial harus terus diperkuat agar Kota Malang tetap tumbuh sebagai kota yang inklusif, damai, dan penuh kebersamaan.

Masjid Jami Kota Malang tahun ini memotong total enam ekor sapi dan 10 ekor kambing.

Daging hewan kurban tersebut nantinya dibagikan kepada jamaah masjid, warga sekitar, hingga sejumlah lembaga dan pemohon bantuan kurban.

Sekretaris Takmir Masjid Jami Malang Mahmudi Muchid mengatakan distribusi hewan kurban tahun ini tidak hanya diperuntukkan bagi internal jamaah masjid, tetapi juga masyarakat luas yang membutuhkan.

“Ada enam sapi dan 10 kambing. Dibagikan ke jamaah masjid, warga sekitar, dan pemohon,” kata Mahmud.

Menurutnya, penerima bantuan kurban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masjid, musala, hingga lembaga pendidikan seperti sekolah.

Selain hewan kurban dari masyarakat, Masjid Jami Malang tahun ini juga menerima dan memotong hewan kurban bantuan dari Gubernur Jawa Timur serta Wali Kota Malang.

“Kami juga memotong hewan kurban dari gubernur dan wali kota,” ujarnya.

Mahmud menjelaskan jumlah sapi kurban yang dipotong tahun ini relatif sama dibanding tahun sebelumnya.

Namun jumlah kambing mengalami perubahan. Jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu sempat sampai 25 kambing dan kami kewalahan,” katanya.

Menurut Mahmud, berkurangnya jumlah kambing yang disalurkan ke Masjid Jami kemungkinan disebabkan masyarakat kini lebih banyak melaksanakan penyembelihan kurban di lingkungan kampung atau wilayah masing-masing.

“Sekarang mungkin warga mengadakan kurban di daerah sendiri, tidak disalurkan ke masjid agung,” ujarnya.

Selain berbicara soal pelaksanaan kurban, Mahmud juga menguatkan pesan Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat tentang pentingnya menjaga toleransi dan kehidupan sosial masyarakat Kota Malang di tengah keberagaman.

Ia mengatakan pihak Masjid Jami selama ini terus berupaya membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar, termasuk warga yang berbeda agama.

“Kami terus meningkatkan toleransi, terutama kepada tetangga yang berbeda agama,” katanya.

Menurut Mahmud, hubungan sosial lintas agama di lingkungan Masjid Jami selama ini terjalin cukup baik. Salah satunya melalui kegiatan sosial dan interaksi antarmasyarakat.

“Kalau ada kegiatan sosial, biasanya kami saling mengundang,” ujarnya.

Ia menilai kehidupan sosial dan toleransi harus terus dijaga demi menciptakan Kota Malang yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh masyarakat.

Menurutnya, situasi kota yang aman juga akan berdampak terhadap stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat secara umum.

“Kami berharap Kota Malang tetap kondusif, aman, dan nyaman. Kalau aman, ekonomi juga nyaman,” katanya.

Di sisi lain, Mahmud juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama di era media sosial saat ini.

Ia menilai salah satu tantangan terbesar masyarakat sekarang adalah kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

“Kalau tidak pintar menyaring informasi, masyarakat bisa langsung membagikan padahal belum tentu benar,” ujarnya.

Karena itu, Mahmud mengajak masyarakat untuk membiasakan budaya tabayyun atau mengecek kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

“Kalau ada kabar, tabayun dulu. Benar atau tidak. Jangan asal dibagikan,” katanya.

Menurutnya, informasi yang salah justru bisa menyesatkan masyarakat dan memicu persoalan sosial apabila tidak disikapi secara bijak.

Apalagi jika informasi tersebut berkaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang rentan memunculkan konflik di tengah masyarakat.

Karena itu, Mahmud berharap masyarakat Kota Malang terus mengedepankan sikap bijak, toleran, dan saling menghormati agar kehidupan sosial tetap harmonis di tengah keberagaman

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.