TRIBUNJATIM.COM - Kemampuan teknologi militer Hizbullah terus berkembang pesat.
Hal itu membuat Israel menjadi ketakutan.
Dilansir dari Tribunnews, koresponden militer media Israel Maariv, Avi Ashkenazi, menyatakan bahwa drone peledak milik Hizbullah kini secara efektif telah berkembang menjadi semacam sistem rudal presisi.
Pernyataan itu muncul setelah laporan mengenai gelombang serangan drone yang berlangsung selama berjam-jam di wilayah utara Palestina yang diduduki.
Media Israel melaporkan sejumlah drone First Person View (FPV) meledak di permukiman Misgav Am, sementara sebuah bangunan di Shomera mengalami hantaman langsung.
Baca juga: Pengakuan Chiki Fawzi yang Ikut Berlayar 2 Bulan Demi Gaza, Dicegat Israel, Zionis Melanggar Hukum
Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di Metulla.
Di saat yang sama, media Israel menuding juru bicara militer Israel memberikan laporan yang dinilai tidak akurat terkait situasi di lapangan, termasuk mengenai korban jiwa, kebakaran, kerusakan rumah, dan proses evakuasi korban luka, mengutip Al Mayadeen, Rabu (27/5/2026).
Sementara itu mengutip Channel 12, Israel menyebut Hizbullah tidak hanya meningkatkan kemampuan pengawasan termal, tetapi juga memperluas penggunaan drone bunuh diri dalam operasi militernya.
Puluhan serangan drone dilaporkan terjadi dalam satu malam, dengan banyak target berada di permukiman perbatasan.
Menurut laporan tersebut, Hizbullah juga meningkatkan jangkauan operasi drone hingga jauh ke dalam wilayah pendudukan.
Sekaligus memperbesar intensitas serangan dari garis perbatasan Lebanon.
Dalam laporan terpisah, surat kabar Yedioth Ahronoth menyebut ancaman drone Hizbullah kini telah berkembang menjadi ancaman strategis.
Hizbullah disebut menggunakan pengawasan intelijen untuk melacak konsentrasi pasukan Israel sebelum meluncurkan gelombang drone secara bersamaan maupun bertahap ke area target.
Laporan itu juga mengungkap bahwa ancaman drone telah memengaruhi operasi militer Israel di lapangan.
Kendaraan teknik disebut ditarik dari beberapa area karena risiko serangan drone, sementara kontraktor yang merobohkan bangunan di Lebanon Selatan kini dibatasi hanya beroperasi pada malam hari, sehingga memperlambat laju operasi.
Media Israel juga menyoroti bahwa kepemimpinan politik Israel tidak memperkirakan konflik di Lebanon akan berkembang ke arah seperti saat ini.
Kondisi gencatan senjata yang membatasi kebebasan operasi militer Israel disebut turut menimbulkan tanda tanya besar di internal Komando Utara Israel terkait masa depan operasi di front Lebanon.
Sementara itu, Hizbullah terus melanjutkan operasi militernya terhadap pasukan Israel di Lebanon Selatan dan wilayah pendudukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak 18 April.