Teruntuk Pebola Indonesia, Presiden Como Bongkar Rahasia Rekrutmen Klub Serie A
Arif Tio Buqi Abdulah May 27, 2026 10:22 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso membongkar sistem rekrutmen pemain yang membuat klub milik Grup Djarum itu mampu menjelma menjadi salah satu kekuatan baru Liga Italia hanya dalam waktu singkat.

Di tengah persaingan ketat Serie A, Como memilih meninggalkan pola lama berbasis insting dan membangun sistem perekrutan pemain berbasis data, analisis perilaku, hingga proyeksi bisnis jangka panjang.

“Kita menggunakan sistem data sebagai landasan semua keputusan sepak bola,” ujar Mirwan dalam podcast Helmy Yahya Bicara, dikutip pada Rabu (27/5/2026).

Pendekatan tersebut terinspirasi konsep Moneyball, metode analisis statistik olahraga yang dipopulerkan Billy Beane di bisbol Amerika Serikat.

Mirwan mengaku sengaja mempelajari sistem itu karena merasa keputusan investasi klub tidak bisa hanya bergantung pada intuisi.

“Masa kita berinvestasi besar tapi semua keputusan hanya dijelaskan berdasarkan feeling dan insting. Enggak masuk akal,” katanya.

Untuk membangun sistem tersebut, Como sempat bekerja sama dengan Billy Beane, pemilik Brighton Tony Bloom, hingga mempelajari model analitik Liverpool.

Mirwan menyebut Como kemudian melakukan “reverse engineering” terhadap berbagai sistem tersebut sebelum akhirnya membangun model sendiri.

“Kita pelajari sistem mereka, kita godok ulang, kita cari kelemahannya apa, bagusnya apa,” ujarnya.

Kini, menurut Mirwan, sistem analitik milik Como bahkan mulai dipakai sejumlah klub Eropa lain, termasuk peserta Liga Champions.

“Ada beberapa klub Liga Champions sudah pakai sistem kita sekarang,” katanya.

Baca juga: Bos Como 1907 Jelaskan Sulitnya Membawa Pemain Indonesia ke Serie A

Perwakilan Mola TV, Mirwan Suwarso saat diwawancarai setelah acara konferensi pers serial dokumenter Como 1907 di kantor Mola TV, Sudirman, Jakarta, Selasa (20/4/2021).
Perwakilan Mola TV, Mirwan Suwarso saat diwawancarai setelah acara konferensi pers serial dokumenter Como 1907 di kantor Mola TV, Sudirman, Jakarta, Selasa (20/4/2021). (tribunnews.com/abdul majid)

1.000 Data Disaring Jadi 6 Nama

Mirwan menjelaskan proses perekrutan pemain di Como dilakukan berlapis dan sangat ketat.

Tahap awal dilakukan tim data yang memindai ratusan hingga ribuan pemain di berbagai liga dunia sesuai kebutuhan posisi yang dicari klub.

“Kalau kita mencari pemain sayap kanan atau kiri, data bisa melihat 500 sampai 1.000 pemain dengan sangat cepat,” ujar Mirwan.

Dari ribuan data tersebut, sistem Como kemudian menyaring sekitar 30 nama pemain yang paling sesuai dengan DNA permainan tim. Setelah itu, nama-nama tersebut masuk ke tahap pemantauan tim scouting.

Tim pencari bakat lalu mengecek apakah performa pemain benar-benar cocok dengan gaya permainan yang diinginkan pelatih Como, termasuk skema taktik milik pelatih kepala Cesc Fàbregas.

Jika lolos, pemain masuk tahap behavior analysis atau analisis perilaku untuk melihat karakter, psikologi, hingga kecocokan dengan kultur tim.

“Secara psikologis cocok enggak sih sama tim kita?” kata Mirwan.

Tahap berikutnya adalah evaluasi finansial. Manajemen menghitung apakah harga transfer dan gaji pemain sesuai dengan kemampuan anggaran klub.

Baru setelah seluruh tahapan selesai, dewan sepak bola Como menyerahkan sekitar tiga hingga enam nama akhir kepada tim pelatih untuk dipilih.

“Nih, lu mau sayap kanan atau kiri, enam pemain ini pilih yang mana,” ujar Mirwan.

Semua Pemain Punya “Business Plan”

Tak hanya merekrut pemain, Como juga membuat peta pengembangan jangka panjang untuk setiap transfer yang dilakukan.

Mirwan mengungkapkan setiap pemain memiliki business plan tersendiri, mulai dari target perkembangan, estimasi menit bermain, hingga proyeksi nilai pasar di masa depan.

Sebagai contoh, ketika Como merekrut bek Kroasia Ivan Smolčić, manajemen langsung menentukan target perkembangan sang pemain dalam dua hingga tiga musim.

“Berapa tahun sebelum dia jadi pemain inti, apa yang diperlukan supaya perkembangannya dipercepat, semua dibuat programnya,” kata Mirwan.

Pendekatan itu membuat Como mampu membangun skuad kompetitif tanpa harus bergantung pada pemain bintang mahal.

“Makin enggak dikenal pemainnya, makin senang, makin murah,” ujar Mirwan sambil tertawa.

Pendekatan berbasis data tersebut menjadi salah satu fondasi keberhasilan Como dalam beberapa musim terakhir.

Klub yang sempat bermain di Serie B itu kini mampu bersaing di papan atas Serie A dan bahkan memastikan tiket Liga Champions musim depan.

Mirwan mengatakan Como tidak dibangun dengan pendekatan instan, melainkan melalui sistem kolektif yang melibatkan dewan sepak bola berisi berbagai divisi, mulai dari perekrutan, pengembangan pemain, strategi sepak bola, performa, hingga keuangan.

“Tidak ada satu orang yang mengambil keputusan sendiri,” ujarnya.

Selain membangun klub, Como juga mengembangkan ekosistem sports tourism di kawasan Danau Como melalui sektor retail, komunitas, dan pariwisata.

Di balik keberhasilan tersebut, Mirwan menilai sepak bola modern kini semakin bergerak menuju era pengambilan keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.

“Sepak bola sekarang bukan cuma soal feeling,” katanya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.