Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah hiruk-pikuk Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah, Erina Cahya Anggraini sibuk menyusuri lorong demi lorong mencari barang bekas untuk membuat produk fesyen berkelas.
Langkahnya kemudian terhenti pada tumpukan karung goni bekas yang tampak lusuh dan tak lagi terpakai.
Di tangan banyak orang, benda itu mungkin hanya dianggap limbah. Namun bagi Erina, karung-karung usang tersebut justru menyimpan peluang.
Ia pun mengais dan membawa pulang karung goni itu, menjadi awal perjalanan panjangnya mengubah barang bekas menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi.
Erina mengakui perjalanan tidak mudah. Lantaran tidak diperuntukkan untuk bahan fesyen, karung goni perlu melalui tahapan panjang, dicuci, dijemur di bawah terik matahari, lalu kembali dicuci dan dijemur berulang kali untuk memastikan benar-benar bersih.
“Namun, ternyata proses pengolahannya memakan biaya tinggi dan waktu yang cukup lama. Perawatannya juga tidak mudah karena bahan ini sangat rentan berjamur,” katanya kepada Tribunnews.com, Sabtu (23/5/2026), mengenang perjuangannya pada 2019 lalu.
Tidak menyerah dengan keadaan, Erina terus belajar dan mendapatkan masukan untuk menggunakan kain goni khusus untuk produk fesyen.
“Saya baru tahu ternyata ada goni khusus untuk fesyen. Bahannya tidak berserabut sehingga tidak membuat gatal, perawatannya juga mudah dan tidak gampang kusut. Selain itu, bahan ini mudah dicuci serta awet tahan lama,” tambah perempuan berhijab ini.
Berbekal hobi membuat kerajinan tangan sejak di bangku sekolah, Erina kemudian menyulap kain goni menjadi berbagai produk fesyen estetik dari ujung kepala ke ujung kaki.
Mulai dari topi, outer wanita, berbagai macam model tas, hingga sandal dan sepatu. Dengan harga termurah dibanderol Rp5.000 untuk dompet kecil hingga termahal Rp400 ribu berupa sepatu kombinasi goni dan kulit sapi asli.
Semua produk dibuat di workshop yang diberi nama Erlene Handycraft di Dusun Gebyok, Desa Ngemplak, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
“Sebulan untuk sepatu, ia mampu memproduksi sekitar 150 pasang. Sementara dompet dan tas kecil bisa mencapai 2.000 pieces, sedangkan tas dengan desain lebih rumit diproduksi sekitar 100 pieces,” urai Erina.
Meski kini 100 persen menggunakan kain goni khusus, Erina tetap melayani permintaan pelanggan yang ingin produk fesyen berbahan karung goni bekas sebagai wujud semangat keberlanjutan melalui prinsip reduce, reuse, recycle.
Sementara untuk proses produksi, Erina memberdayakan lima orang ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya.
“Memang konsep yang diusung Erlene Handycraft adalah kami perempuan berdaya dan ingin memberdayakan kemampuan yang kami miliki,” katanya dengan mantap.
Seorang karyawan bernama Ratri (32) merasa bersyukur sudah sejak 2019 diberdayakan membuat produk fesyen estetik dari kain goni.
Ia juga diberi kebebasan untuk membawa anaknya bekerja sehingga tidak meninggalkan perannya sebagai ibu.
"Alhamdulillah, senang bisa punya duit cekelan (uang pegangan)," katanya.
Ratri berharap Erlene Handycraft sebagai sumber rezekinya bisa semakin berkembang dan produk-produknya lebih dikenal berbagai kalangan.
“Semoga lebih besar lagi tokonya," tandas perempuan yang sehari-hari bertugas memotong bahan kain goni tersebut.
Kembali ke Erina, produk-produk dipasarkan secara online melalui Instagram dan TikTok. Ia juga memanfaatkan marketing dengan sistem dari mulut ke mulut.
Kini, Erlene Handycraft memiliki omzet hingga puluhan juta per bulan dengan ratusan produk terjual ke berbagai daerah di Indonesia.
“Kalau bicara omzet berarti rata-rata ya. Karena kalau pas lagi sepi gitu ya, sepi ya. Kalau pas lagi ramai itu benar-bener ramai. Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur.
Erina mengaku sebelum memetik manisnya buah keberhasilan, ia sempat dibuat bingung karena produknya tidak laku.
Ketika mengikuti Jakarta International Handycraft Trade Fair (INACRAFT), pameran kerajinan tangan dan produk kriya terbesar di Asia Tenggara di Oktober 2025 lalu.
“Awalnya itu saya itu bingung kok produkku enggak ada yang ngelirik. Sempat panik tidak laku. Ternyata yang minat sama produk saya bukan orang lokal, tapi dari Jepang sama Korea yang beli,” katanya.
Oleh karenanya, Erina memiliki mimpi besar bisa melebarkan sayapnya ke pasar dunia. Untuk menuju ke sana, ia mempersiapkan diri dengan mengembangkan produk kain goni yang lebih disukai Gen Z.
“Semoga bisa ada jalan ke sana (go global) gitu,” harapnya.
Pada 2025, Erina dihubungi koordinator Rumah BUMN Solo, bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mengikuti BRIncubator.
Program ini adalah inkubasi intensif dan pendampingan terstruktur dari Rumah BUMN yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Erina bersama 24 UMKM lainnya dari Solo Raya mengikuti program agar bisnisnya naik kelas, pada Agustus 2025 lalu.
Sebetulnya ini bukan pertama kalinya ia mengikuti pelatihan. Namun, bagi Erina BRIncubator pelatihan yang istimewa.
“Yang paling sistematis ya BRIncubator. Karena tidak sekadar teori. Jadi setelah diberikan materi oleh praktisi di bidangnya, kita disuruh praktek,” katanya.
Erina mengakui selama ini dirinya sibuk mengurus dapur produksi dan memikirkan inovasi-inovasi ke depan. Sehingga, jarang ada waktu untuk bertemu calon buyer.
Beruntungnya di BRIncubator dirinya dilatih menyusun profil usaha dan kemampuan public speaking dalam pemasaran produknya.
“Saya jarangnya ketemu klien, terlalu fokus di produksi. Saat bertemu orang saya merasa kagok. Setelah ikut pelatihan, 'oh ternyata begini rasanya presentasi ke calon investor', misalnya. Jadi ilmunya bisa dipakai ke depan,” ungkapnya.
Erina menambahkan, selain itu, ia juga mendapatkan materi manajemen keuangan yang membuat usahanya lebih tertata dan taat ketika pelaporan perpajakan.
“Alhamdulillah setelah ikut BRIncubator usaha Erlene Handycraft lebih tertata,” tandasnya.
Rumah BUMN, yang merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI), memiliki tujuan utama mengembangkan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM agar naik kelas.
Namun, perannya tidak sebatas itu. Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini menjelaskan ada 4 fungsi lainnya.
Peran kedua, Rumah BUMN Solo sebagai satuan tugas (satgas) bencana, menyediakan relawan siap diterjunkan ketika terjadi bencana dan sebagai lembaga penyalur bantuan.
“Kemudian peran ketiga menjadi pusat literasi keuangan memperkenalkan produk-produk perbankan unggulan milik BRI ke masyarakat. Termasuk perihal Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pelaku UMKM,” katanya saat ditemui Tribunnews.com di kantornya.
Sementara itu, peran keempat, Rumah BUMN Solo juga berfungsi sebagai coworking space untuk berbagai pertemuan.
Baik mitra UMKM maupun masyarakat umum dapat memanfaatkan fasilitas untuk berbagai keperluan seperti rapat atau tempat gathering.
Peran kelima, Rumah BUMN Solo menjadi pusat kegiatan milenial, mencakup pusat edukasi, kolaborasi, hingga tempat magang untuk para mahasiswa.
“Tujuan utamanya kami bisa mengedukasi teman-teman milenial ini tentang entrepreneur,” tandas Condro. (*)