Misa Arwah Maria Bernadeth Latifah Oetama, Istri Jakob Oetama Digelar Khidmat
Wahyu Gilang Putranto May 28, 2026 02:37 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keluarga menggelar misa riquime atau misa arwah bagi Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama, istri almarhum Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia di rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (27/5/2026) malam.

Misa arwah dihadiri oleh keluarga, sahabat, kerabat dekat hingga para pelayat.

Pantauan Tribunnews di rumah duka, misa arwah Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama dimulai sekira pukul 18.30 WIB.

Misa dipimpin oleh Romo Dedomau Djatmiko da Gomez, SJ.

Suasana khidmat terasa saat misa dimulai. Lantunan lagu dan doa terdengar dipanjatkan untuk Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama.

Dalam homilinya, Romo Dedo yang memimpin jalannya misa menyampaikan refleksi mendalam mengenai keutamaan hidup almarhumah yang berpulang pada usia 92 tahun.

Romo Dedo mengungkapkan, Ibu Maria Bernadeth adalah sosok yang dianugerahi keseimbangan hidup yang luar biasa antara kedisiplinan yang tinggi dan kemurahan hati.

"Ibu ini memiliki disiplin yang sangat tinggi dan kemurahan hati. Balance (seimbang) itu menurut saya. Dan dia menjaga betul-betul kedua keutamaan yang dia miliki itu sampai akhirnya bisa bertahan hingga 92 tahun," ujar Romo Dedo.

Bagi Romo Dedo, perjalanan hidup almarhumah merupakan simbol dari perjuangan manusia yang sesungguhnya. 

Ia mengibaratkan Ibu Maria Bernadeth sebagai seorang prajurit tangguh yang membangun keluarganya dengan martabat penuh.

"Manusia dilahirkan untuk berjuang sampai dengan titik darah yang terakhir, dengan semua konsekuensinya. Ibu Maria Bernadeth kita adalah prajurit kita yang telah mengangkat tangannya dengan kepala tegak membangun keluarganya. Dan waktu kematian menyambutnya, dia tersenyum karena masih ada keluarga," ungkapnya.

Baca juga: Istri Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama, Maria Bernadeth Latifah Oetama, Wafat

Usai misa arwah, putra sulung almarhumah, Irwan Oetama, memberikan sambutan yang menyentuh hati mewakili keluarga besar. 

Kepergian sang ibu meninggalkan duka sekaligus rasa syukur yang mendalam bagi kelima anak, tujuh cucu, dan lima cicit almarhumah.

Irwan mengungkapkan, sepeninggal sang ayah, Jakob Oetama pada tahun 2020 silam, kini anak-anak merasa benar-benar telah menjadi yatim piatu. 

Namun, warisan nilai-nilai hidup dari kedua orang tua mereka tetap hidup.

Irwan pun menceritakan bahwa rahasia umur panjang sang ibu bukanlah pengobatan medis yang mahal atau modern, melainkan kedisiplinan sederhana dan tubuh yang terus aktif bergerak.

"Bagaimana orang tua kami ini bisa mencapai usia lanjut? Kalau saya bisa sharing, dari kedua orang tua kami ini, dulu kami tidak mengerti. Ibu ini adalah pendidik kami di rumah," kenang Irwan.

Sejak kecil, kelima anak mereka dididik mandiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. 

Mereka terbiasa bergotong-royong mengurus rumah, mencuci pakaian, menyetrika, hingga membantu memasak di dapur. Kedisiplinan ini dipraktikkan langsung oleh almarhumah, bukan sekadar teori.

"Ibu kami, kami memanggilnya Ibu Latifah. Pagi-pagi jam 04.00 atau 04.30 itu sudah bangun. Mendengar azan subuh beliau sudah bangun untuk masak air dan menyiapkan sarapan sederhana untuk kami sekeluarga," tambah Irwan.

Sementara itu, rumah duka terus didatangi oleh para pelayat. 

Jejeran karangan ucapan duka terpampang di Jalan Sriwijaya Raya. Sementara, teras rumah duka dipenuhi bunga berwarna putih serta ucapan duka atas wafatnya Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.