Heboh Peneliti Palsukan Hasil Riset Demi Jalan-jalan Gratis di Denmark, Mendiktisaintek Ungkap Fakta
Eri Ariyanto May 28, 2026 05:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Isu dugaan pemalsuan hasil riset kembali menghebohkan dunia akademik Indonesia setelah mencuat kabar adanya peneliti yang diduga menyalahgunakan data penelitian untuk kepentingan pribadi.

Kasus ini menjadi sorotan publik karena disebut-sebut berkaitan dengan perjalanan ke luar negeri yang diduga tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan ilmiah.

Denmark disebut menjadi salah satu negara tujuan dalam program riset yang kini tengah dipertanyakan integritas pelaksanaannya.

Kabar ini dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu beragam reaksi dari kalangan akademisi hingga masyarakat umum.

Banyak pihak menilai bahwa jika benar terjadi, kasus ini dapat mencoreng nama baik dunia pendidikan dan penelitian Indonesia di mata internasional.

Kementerian Pendidikan Tinggi pun akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar luas tersebut.

Pihak kementerian menegaskan bahwa individu yang disebut dalam kasus ini bukan merupakan dosen maupun peneliti aktif di institusi resmi.

Penjelasan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk meluruskan informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah publik.

Meski demikian, pihak terkait tetap akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang.

Baca juga: Nasib Selebgram Woodyrman Usai Aniaya Warga Brunei hingga Tewas di Blok M: Ditetapkan Jadi Tersangka

Seperti diketahui, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang memalsukan riset dalam konferensi internasional yang digelar di Denmark bukanlah peneliti.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia," kata Brian kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).

Brian mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dan pendalaman terkait kasus tersebut, termasuk status peserta, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia.

"Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," ujar dia.

Brian menjelaskan, Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya.

Untuk penelitian yang dilakukan oleh dosen dan peneliti di Indonesia, Brian sebut prosesnya berada dalam koridor pemantauan berkala yang ditujukan untuk menjaga mutu hasil penelitian.

"Sejak tahap pengajuan proposal, penelitian melalui proses review bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim reviewer Kemdiktisaintek. Pada tahap pelaksanaan, laporan kemajuan dan laporan akhir juga dievaluasi dan dimonitoring," ucap Brian.

MENDIKTISAINTEK - Mendiktisaintek Brian Yuliarto memberikan pembekalan kepada 200 penerima beasiswa LPDP angkatan 273 di Kompleks Sekolah Komando Kesatuan TNI Angkatan Udara (Sekkau), Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2026). (Dok./Kompas.com)

Ia menambahkan, kegiatan penelitian juga harus mematuhi ketentuan etika akademik yang berlaku.

Komite etik bertugas memastikan penelitian dijalankan sesuai prinsip etika, termasuk kesesuaian metodologi, penggunaan data, perlindungan subyek penelitian, serta kepatuhan terhadap standar ilmiah.

"Untuk penelitian yang melibatkan subyek manusia dan hewan, peneliti juga terikat pada ketentuan ethical clearance yang berlaku secara nasional maupun global. Bahkan prosedur dan tata kelola pengujian harus terbuka dan dapat diakses oleh para pemangku kepentingan terkait," kata Brian.

Menurut dia, dengan keseluruhan mekanisme tersebut, validitas data, mutu riset, dan integritas publikasi ilmiah diharapkan dapat tetap terjaga.

"Namun, apabila proses-proses tersebut dilewati atau tidak dijalankan dengan benar, tentu hal itu dapat berdampak pada mutu riset dan membuat data penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," ungkap Brian.

Pemalsuan riset

Sebelumnya nama Prihantini dan Rifaldy Fajar dituding terlibat pemalsuan riset AI demi mendapatkan travel grant ke luar negeri.

Wakil Rektor bidang Akademik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Nur Hidayanto membenarkan bahwa kedua nama tersebut merupakan alumni UNY.

"Dua nama itu memang ada di database kami, tapi kami enggak tahu namanya itu sama atau tidak, kan kami enggak tahu," ujar Nur dilansir dari Kompas.com, Selasa (26/05/2026).

"Di database kami, ada nama Rifaldy Fajar dan Prihantini. Tapi, yang kami perlu konfirmasi dan klarifikasi, apakah yang muncul di medsos itu Rifaldy Fajar dan Prihantini (yang sama dengan) di (database) kami.

Itu yang belum bisa kami pastikan," ungkap Nur.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.