TRIBUNNEWSMAKER.COM - Daging kurban menjadi salah satu bahan makanan yang paling banyak dibagikan kepada masyarakat saat momen Idul Adha tiba.
Namun, masih banyak orang yang belum memahami cara penyimpanan daging yang benar sehingga kualitas dan nutrisinya cepat menurun.
Kesalahan dalam menyimpan daging kurban bisa membuat daging menjadi cepat bau, berubah warna, bahkan berisiko terkontaminasi bakteri berbahaya.
Padahal, jika ditangani dengan tepat sejak awal, daging kurban dapat tetap segar dan aman dikonsumsi dalam waktu yang lebih lama.
Mulai dari proses memisahkan daging, penggunaan wadah penyimpanan, hingga pengaturan suhu kulkas menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.
Selain menjaga kesegaran, teknik penyimpanan yang benar juga membantu mempertahankan kandungan protein dan nutrisi di dalam daging.
Tak sedikit masyarakat yang langsung mencuci daging sebelum disimpan, padahal kebiasaan tersebut justru bisa mempercepat pertumbuhan bakteri.
Karena itu, penting mengetahui langkah-langkah penyimpanan yang tepat agar daging kurban tetap higienis, awet, dan tidak kehilangan kualitasnya.
Berikut cara yang benar menyimpan daging kurban agar tetap segar dan nutrisi di dalamnya tetap terjaga.
Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah menyebut daging segar sebenarnya tidak perlu dicuci sebelum disimpan di lemari pendingin.
Medik Veteriner Madya Distanak Jateng, Anang Yusuf, mengatakan masyarakat perlu memperhatikan cara penyimpanan daging kurban agar kualitas dan nutrisi tetap terjaga.
“Kami sarankan masyarakat membagi daging menjadi potongan-potongan kecil sesuai sekali masak. Jadi tidak perlu keluar masuk freezer terus,” ujar Anang, Rabu (27/5/2026).
Menurut dia, masyarakat kerap menyimpan daging dalam potongan besar sebelum dimasukkan ke freezer. Cara tersebut dinilai mempercepat penurunan kualitas daging karena proses pencairan ulang atau thawing dilakukan berulang kali.
“Begitu daging keluar dari freezer lalu dilakukan thawing, itu berpotensi menurunkan kadar nutrisi dari daging tersebut,” katanya.
Anang menegaskan, daging dalam kondisi normal dan bersih tidak perlu dicuci sebelum disimpan di lemari es.
“Kalau daging dalam kondisi normal dan bersih tidak perlu dicuci. Kecuali jatuh ke tanah atau terkena kotoran,” tuturnya.
Ia juga meminta panitia kurban memisahkan kemasan antara daging, jeroan merah, dan jeroan hijau untuk menjaga higienitas distribusi.
“Kami sudah meminta panitia untuk memisahkan jenis dagingnya dalam pengemasannya,” tegasnya.
Sebelumnya, Pokja Kesehatan Masyarakat Veteriner Distanak Jateng, Diana Dwi Ariantie, mengatakan idealnya penyembelihan hewan kurban dilakukan di rumah potong hewan ruminansia (RPH-R).
Namun, penyembelihan di luar RPH seperti di masjid atau balai desa tetap diperbolehkan selama memenuhi kaidah kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.
Diana menjelaskan, jeroan merah seperti hati, paru, limpa, dan ginjal perlu dipisahkan dari jeroan hijau seperti usus dan lambung karena berisiko membawa bakteri.
Selain itu, pengemasan daging kurban dianjurkan menggunakan wadah food grade seperti plastik bening atau besek dan tidak mencampur daging sapi serta kambing dalam satu kemasan.
Menurut dia, distribusi daging kepada penerima juga harus dilakukan secepat mungkin, maksimal empat hingga lima jam setelah penyembelihan.
“Bakteri berkembang sangat cepat. Kalau terlalu lama, kualitas daging bisa menurun dan cepat busuk,” bebernya.
Diana juga mengimbau masyarakat tidak langsung mencuci daging sebelum disimpan di lemari es. Daging cukup dilap hingga kering lalu dibagi sesuai kebutuhan memasak sebelum dibekukan.
“Kalau mau dimasak besok, daging beku dipindahkan dulu ke bagian bawah kulkas semalaman, agar proses pencairannya lebih aman,” katanya.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)