TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Warga Solo antusias berebut gunungan saat Grebeg Besar di pelataran Masjid Agung Solo, Jawa Tengah, Rabu (27/5/2026).
Tradisi tahunan ini digelar oleh Raja Keraton Surakarta, Pakubuwono (PB) XIV Purboyo, untuk memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Grebeg besar dimulai dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung.
Baca juga: Resep Sate Buntel Kambing Khas Solo Anti Alot, Ide Olahan Daging Kurban Idul Adha 2026
Prosesi utama menampilkan sepasang gunungan:
Menurut Penghulu Tafsir Anom Keraton Solo, Muhammad Muhtarom, gunungan jaler melambangkan laki-laki sebagai pencari nafkah, sedangkan gunungan estri melambangkan perempuan yang mengelola hasil suami untuk keluarga.
Tahun ini, Grebeg Besar menjadi perhatian karena adanya perbedaan agenda di internal Keraton Solo.
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV, GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, menegaskan bahwa seluruh prosesi adat keraton seharusnya dilaksanakan berdasarkan dawuh dalem atau perintah raja, dan mempertanyakan Grebeg yang digelar di luar agenda raja.
Di sisi lain, pihak Tedjowulan menegaskan bahwa pelaksanaan Grebeg Besar tetap akan berjalan damai, aman, dan sesuai prinsip budaya, serta meminta agar tidak ada ego kelompok yang mendominasi tradisi ini.
Baca juga: Jadwal KRL Solo–Jogja Hari Ini Kamis 28 Mei 2026 : Ada Jam Keberangkatan Tambahan
Di luar polemik internal, Grebeg Besar tetap menjadi tradisi budaya yang sarat makna.
Kirab gunungan dari keraton menuju Masjid Agung diiringi gamelan dan busana adat oleh abdi dalem serta prajurit keraton, menjadi simbol syukur dan keberkahan.
Warga yang hadir diperbolehkan memperebutkan isi gunungan, karena diyakini membawa berkah.
Prosesi ini tidak hanya menjadi ritual religi, tetapi juga wisata budaya tahunan yang memperkenalkan filosofi Jawa, kuliner tradisional, dan nilai kebersamaan antara keraton dan masyarakat.
Tahun 2026, Grebeg Besar Solo dijadwalkan berlangsung pada 27 dan 28 Mei, mengikuti agenda masing-masing kubu Keraton Solo.
Tradisi ini tetap menjadi magnet wisata dan simbol kuat hubungan historis keraton dengan masyarakat Solo.
(*)