TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perilaku masyarakat Indonesia dalam berinvestasi di aset digital seperti kripto dinilai sudah berubah menjadi lebih baik.
CEO Indodax William Sutanto mengatakan, pendekatan masyarakat terhadap aset digital mulai berubah dibanding beberapa tahun lalu yang lebih banyak didorong tren dan fear of missing out (FOMO).
"Dulu banyak orang masuk ke kripto karena FOMO atau sekadar ikut tren. Sekarang pendekatannya mulai berubah. Investor makin sadar pentingnya riset dan strategi yang lebih disiplin dalam menghadapi market,” ujar William dikutip dari Kontan, Kamis (28/5/2026).
Baca juga: ABI Gelar Forum Literasi Kripto untuk Aparat Penegak Hukum, Bahas Tantangan Aset Digital
Menurutnya, perubahan tersebut menunjukkan industri kripto perlahan memasuki fase yang lebih matang. Investor kini mulai mempelajari struktur pasar, memahami siklus Bitcoin, hingga menerapkan strategi investasi yang lebih terukur di tengah volatilitas pasar.
William juga menilai komunitas kripto kini berkembang lebih kritis dan terbuka terhadap pembahasan fundamental teknologi blockchain, bukan hanya berfokus pada pergerakan harga aset digital.
“Komunitas kripto juga berkembang jauh lebih kritis dan terbuka terhadap diskusi. Bukan hanya soal harga, tetapi juga soal bagaimana teknologi blockchain berkembang dan bagaimana industri ini bisa terus relevan dalam jangka panjang,” katanya.
Di luar pergerakan harga, teknologi blockchain juga mulai dimanfaatkan untuk berbagai inovasi digital, mulai dari tokenisasi aset hingga pengembangan infrastruktur berbasis blockchain.
Menurut William, komunitas menjadi fondasi penting dalam pertumbuhan industri kripto sejak awal.
Berbeda dengan industri keuangan tradisional yang berkembang secara institusional, ekosistem aset digital banyak bertumbuh melalui komunitas yang aktif membangun diskusi, edukasi, dan distribusi informasi secara organik.
“Pada akhirnya, industri yang mampu bertahan bukan hanya yang ramai secara tren, tetapi yang bisa membangun kepercayaan, edukasi, dan ekosistem kripto yang berkelanjutan,” ujarnya.
21,37 Juta Investor Kripto
Dalam perayaan Bitcoin Pizza Day 2026, Indodax menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pertumbuhan industri aset digital yang lebih sehat melalui edukasi, pengembangan dan kedekatan dengan komunitas, serta peningkatan literasi mengenai teknologi blockchain dan aset kripto di Indonesia.
Melalui tema “Voice of The Chain”, perayaan tahun ini tidak hanya menjadi ruang diskusi perkembangan industri kripto, tetapi juga ajang memperkuat komunitas dan literasi blockchain.
Diketahui, Bitcoin Pizza Day dulu dikenal sebagai simbol eksperimen unik di awal kemunculan Bitcoin kini mulai dimaknai berbeda oleh industri kripto.
Jika satu dekade lalu aset digital identik dengan budaya spekulasi dan tren internet, hari ini kripto mulai dipandang sebagai bagian dari perkembangan teknologi finansial yang semakin dekat dengan kehidupan digital masyarakat.
Momentum ini merujuk pada transaksi pembelian dua loyang pizza menggunakan 10.000 Bitcoin oleh programmer Laszlo Hanyecz pada 22 Mei 2010.
Transaksi senilai sekitar US$41 tersebut menjadi kali pertama Bitcoin digunakan dalam aktivitas ekonomi nyata dan dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan aset digital.
Sejak saat itu, tanggal 22 Mei diperingati setiap tahun sebagai Bitcoin Pizza Day.
Bitcoin sendiri pertama kali diperkenalkan pada Januari 2009 sebagai sistem keuangan digital yang terdesentralisasi dan hadir di tengah krisis finansial global.
Tercatat, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah pengguna aset kripto di Indonesia mencapai 21,37 juta per Maret 2026 atau tumbuh 1,43 persen secara bulanan.
Nilai transaksi spot kripto tercatat Rp22,24 triliun, sementara transaksi derivatif meningkat 14,26 persen menjadi Rp5,80 triliun.