Sepotong Daging, Segunung Cemas
Oleh: Salman Ahmad
TRIBUN-TIMUR.COM - Sering kali yang muncul setelah Idul Adha bukan hanya aroma coto, konro, sate dan gulai, tetapi juga percakapan tentang kolesterol, asam urat, tekanan darah, dan ancaman penyakit lainnya. Nampaknya daging dihadirkan untuk manusia, tidak lagi dinilai sebagai nikmat, melainkan sebagai ancaman.
Orang-orang mengambil sepiring kecil daging qurban, namun diwajahnya tergurat tanda penuh kecemasan: “Jangan banyak-banyak, nanti kolesterol naik.” Padahal, bukankah hewan-hewan itu diperintahkan untuk disembelih agar dimakan, dibagikan, dinikmati dan disyukuri?
Ada yang menarik dalam cara modern memandang makanan. Kita hidup di zaman ketika manusia mengetahui kandungan gizi pada makanan lebih banyak daripada generasi sebelumnya, tetapi kenapa kita justru semakin takut terhadap apa yang dimakannya sendiri.
Makanan tidak lagi dilihat sebagai sumber kehidupan, melainkan sebagai daftar risiko.
Daging diukur dengan kolesterolnya. Nasi dicurigai karena gulanya. Santan dituduh sebagai penyebab penyakit jantung. Bahkan gula aren, madu, dan kopi pun kini memiliki daftar panjang ancaman bagi kesehatan.
Padahal, tubuh manusia dibangun untuk menerima, mengolah, dan mengambil manfaat dari makanan. Dalam daging terdapat protein lengkap yang membantu membangun otot dan memperbaiki jaringan tubuh.
Daging merah juga mengandung zat besi heme yang sangat penting bagi pembentukan sel darah merah dan pencegahan anemia. Vitamin B12 yang banyak terdapat pada daging bahkan berperan penting dalam menjaga fungsi saraf dan kerja otak.
Tanpa itu semua, tubuh manusia akan rapuh dan kehilangan daya tahannya.
Banyak penelitian gizi modern menunjukkan bahwa persoalan kesehatan sering kali bukan terletak pada keberadaan daging itu sendiri, melainkan pada pola konsumsi yang berlebihan, kurang gerak, stres, serta gaya hidup yang tidak seimbang. Tubuh manusia tidak rusak hanya karena makan daging qurban beberapa hari.
Yang lebih sering merusak adalah kebiasaan hidup bertahun-tahun: tidur tidak teratur, makanan ultra-proses, kurang olahraga, dan konsumsi gula berlebih.
Karena itu, mungkin yang perlu diubah bukan makanannya, tetapi cara pandang kita terhadap nikmat. Kita terlalu sering mengubah karunia menjadi ketakutan.
Kita lupa bahwa dalam tradisi keagamaan, makan bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan bagian dari rasa syukur. Hewan qurban bukan simbol penyakit, melainkan simbol pengorbanan, keberkahan, dan kepedulian sosial. Daging dibagikan agar orang-orang merasakan kecukupan, terutama mereka yang jarang menikmati lauk bergizi.
Tentu, kehati-hatian tetap penting. Islam sendiri mengajarkan keseimbangan dan melarang berlebih-lebihan. Tetapi perlu dibedakan antara sikap bijak dan sikap paranoid.
Makan secukupnya adalah hikmah. Terlalu takut, terhadap setiap makanan justru dapat membuat manusia kehilangan kegembiraan hidup, dan minus rasa syukur atas nikmat yang tersedia.
Mungkin sesungguhnya masalah terbesar manusia modern bukan kurangnya makanan sehat, tetapi hilangnya hubungan yang wajar dengan makanan itu sendiri. Kita makan sambil takut, hidup sambil cemas, dan menikmati karunia dengan rasa bersalah.
Padahal Tuhan tidak menciptakan rezeki untuk ditakuti. Ia dihadirkan untuk disyukuri, dinikmati dengan bijak, lalu diubah menjadi tenaga untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Mari nikmati daging di hari-hari tasyrik, dengan penuh kebahagiaan, kegembiraan dan juga rasa Syukur. Tentu saja jangan berlebihan.
Bacalah; “Bismillahi al laziy la yadhurru, ma’a ismihi syay-un fil ardhi wa laa fis sama’I wa huas-sami’ul ‘alim”. Lalu ucap bismillah dengan penuh kesyukuran. Semoga semua itu memberian pengaruh kuat bagi tubuh, demi melaksanakan ketaatan kepada-Nya.(*)