TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah semakin terpuruk dan terus mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah.
Pada awal perdagangan Kamis (28/5/2026) per pukul 09.48 WIB, rupiah melemah 69 poin ke level 17.870 per dolar Amerika Serikat (AS).
Level itu berarti sudah melewati angka keramat versi netizen, yakni Rp 17.845 per dolar AS. Angka ini merujuk pada Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.
Rupiah melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya. Pada Rabu (27/5/2025), rupiah di pasar spot melemah 0,03 persen ke Rp 17.801 per dollar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan, rupiah masih akan melemah pada perdagangan hari ini lantaran nilai tukar dollar AS menguat.
Dollar AS menguat setelah pemerintah AS melakukan penyerangan ke Iran.
Hal ini memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah.
Dari dalam negeri, sejumlah sentimen negatif masih membayangi baik dari pasar saham yang masih melemah maupun kepercayaan pasar yang masih belum pulih.
Sentimen domestik ini cenderung menekan rupiah. "Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang menguat. Pelemahan rupiah di kisaran Rp 17.750-17.900," ujarnya, Kamis.
Dia memperkirakan mata uang Garuda akan mendekati ke level Rp 18.000 per dollar AS pada akhir bulan ini.
Baca juga: DAMPAK Nilai Rupiah Makin Lemah Kini Nyaris Rp 18.000, Sinyal Badai PHK Depan Mata
Senada, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjandra memperkirakan rupiah masih akan melemah ke depannya, meski Bank Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk memperkuat mata uang Garuda.
Pasalnya, nilai tukar dollar AS tengah menguat dengan indeks dollar AS berada di level 99 atau di kisaran tertinggi Mei 2026.
Menurutnya, tingginya nilai tukar dollar AS disebabkan oleh masih berlangsungnya perang antara Iran dan AS sehingga akhir damai dari kedua negara tersebut tak kunjung diputuskan.
"Ini masalahnya tingkat imbal hasil obligasi AS masih belum mau turun juga, dipicu oleh perdamaian AS Iran yang masih belum diputuskan," ucapnya, Kamis.
Sementara dari dalam negeri sejumlah sentimen turut menekan rupiah, mulai dari perekonomian nasional tengah tertekan akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.
Kemudian ditambah dengan modal asing keluar dari bursa saham Indonesia, kebutuhan dollar AS yang banyak untuk repatriasi dividen, dan pembayaran utang.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku stres dengan rupiah yang semakin lemah.
"Iya saya stres," kata Purbaya saat ditemui di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta pada Rabu (27/5/2026).
Namun, dia menyebut bahwa anjloknya nilai tukar rupiah tidak mengharuskan pemerintah menghitung ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Nggak, kita sudah hitung asumsi APBN," ungkap Purbaya.
Purbaya menambahkan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar gejolak rupiah tetap terkendali. Salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi.
Menanggapi rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika, Purbaya bilang hal itu tidak masuk akal karena fundamental ekonomi Indonesia bagus.
Untuk menahan agar rupiah tidak semakin ambruk, pemerintah mengeluarkan aturan tegas per satu Juni mendatang.
Melalui PP Nomor 2 dan 21 Tahun 2026, eksportir sektor sumber daya alam dan nonmigas wajib memarkirkan 100 persen devisa hasil ekspor atau DHE di perbankan dalam negeri. Dolar tersebut wajib dikunci selama 12 bulan.
Karena itu, jika dolar di dalam negeri melimpah, maka harga dolar akan turun dan rupiah bisa lebih kuat.
Tak hanya dari sisi fiskal, dari sisi moneter, Bank Indonesia juga ikut menyalakan alarm dengan menaikkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,25 persen.
Tujuannya agar para investor asing mau tetap menyimpan uangnya di Indonesia, sekaligus membentengi rupiah dari dampak konflik di Timur Tengah. BI memprediksi rupiah akan kembali menguat pada Juli dan Agustus.
Menanggapi kebijakan pemerintah untuk memperkuat rupiah, ekonom menilai hal itu harus dimulai dari membereskan persoalan dasar, yakni jumlah orang miskin yang semakin bertambah. (*/tribunmedan.com)