Malaysia memiliki banyak destinasi wisata unik yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya Batu Caves. Yuk, ikuti perjalanan seru kami menjelajahi wisata religi yang terkenal di Malaysia ini.
Batu Caves terletak di distrik Gombak, Selangor, Malaysia. Dari hotel kami di kawasan Jalan Alor, Bukit Bintang, Kuala Lumpur, perjalanan menuju Batu Caves memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan transportasi online pada pagi hari. Saat itu jalanan cukup macet karena banyak orang berangkat ke kantor dan sekolah.
Sepanjang perjalanan, kami melihat banyak kuil Hindu dengan patung-patung dewa yang sangat menarik perhatian.
Sesampainya di Batu Caves, kami langsung disambut pemandangan tebing batu kapur yang menjulang tinggi dan patung Dewa Murugan berwarna emas yang sangat ikonik.
Selain itu, terdapat dua kuil Hindu dengan aroma khas dupa yang begitu terasa. Kawasan ini juga dipenuhi burung dan monyet liar yang membuat suasana semakin unik.
Saat itu Batu Caves ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai negara. Menariknya lagi, tidak ada biaya masuk alias gratis untuk menikmati wisata ini. Kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen dengan berfoto di depan patung emas yang populer tersebut, termasuk bersama burung-burung yang sedang diberi makan.
Kami kemudian mengunjungi kuil pertama yang disambut aroma dupa dan diya, yaitu lampu minyak tradisional umat Hindu. Di sana terdapat patung Dewi Mahakali yang sangat besar dan mencolok. Selain itu, ada juga patung Dewa Ganesha dan dewa-dewa lainnya. Karena kami juga menyukai film-film India, beberapa informasi mengenai dewa-dewa tersebut sudah cukup familiar bagi kami.
Selanjutnya kami menuju kuil kedua. Suasana di sini lebih ramai karena banyak umat Hindu yang sedang beribadah. Di kuil ini terdapat lebih banyak patung dewa dan dewi, seperti Dewa Siwa, Dewa Ganesha, Dewa Brahma, Dewa Indra, dan lainnya. Kuil ini juga memiliki dua lantai.
Saat berada di sana, kami melihat sebuah ritual adat Hindu, di mana keluarga menggendong bayi sambil mengelilingi kuil dan memanjat tangga bersama-sama sambil berdoa. Setelah mencari informasi, ternyata tradisi tersebut disebut Nishkramana Samskara, yaitu ritual untuk memperkenalkan anak kepada dunia luar sekaligus memohon berkah dan keselamatan.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menaiki 272 anak tangga warna-warni yang menjadi ikon Batu Caves. Di sepanjang tangga, kami ditemani monyet-monyet liar yang ada yang sedang makan buah, ada juga yang hanya duduk santai. Kami beberapa kali berhenti untuk berfoto sambil menikmati pemandangan tebing tinggi dan burung-burung yang beterbangan.
Di pertengahan perjalanan, rasa lelah mulai terasa. Namun kami saling menyemangati agar bisa sampai ke dalam gua. Dari tangga tersebut kami juga bisa melihat bangunan-bangunan kecil yang indah serta patung-patung dewa di sisi tangga.
Sesampainya di dalam gua, kami benar-benar takjub. Banyak kelelawar beterbangan di langit-langit gua, ditemani suara lonceng dari area kuil yang menambah suasana sakral. Kami melihat umat Hindu berdoa dan beribadah dengan sangat khusyuk.
Di dalam gua terdapat banyak patung dewa dan area ibadah yang masih aktif digunakan. Selain itu, ada pula toko suvenir yang menjual gambar serta patung-patung dewa seperti Dewa Ganesha, Brahma, dan lainnya. Kami pun mengelilingi area gua sambil menikmati berbagai cerita sejarah umat Hindu yang ada di sana. Tempat ini benar-benar menakjubkan.
Ternyata, tidak hanya ada patung dan suvenir, tetapi juga banyak kuil aktif untuk beribadah. Sebenarnya masih ada tangga lagi menuju bagian paling atas, namun karena pengunjung sangat ramai, kami memutuskan hanya sampai di area gua saja.
Setelah puas berfoto dan berkeliling, kami mulai turun kembali. Menurut saya, saat menuruni tangga justru harus ekstra hati-hati karena jumlah tangga yang banyak dan kondisi yang ramai pengunjung.
Sesampainya di bawah, kami melihat banyak pedagang yang menjual oleh-oleh seperti bulu merak, syal, pashmina, patung dewa, hingga foto-foto dewa umat Hindu. Kami tertarik membeli pashmina yang saat itu sedang viral dengan harga MYR 50 atau sekitar Rp223 ribu.
Selain itu, kami juga membeli bulu merak karena sering melihatnya digunakan oleh Dewa Krishna dalam film-film India. Hal itu membuat kami sangat tertarik untuk memilikinya.
Tak jauh dari sana, kami menemukan kedai makanan khas India dengan penjual yang sangat ramah. Kami diberi kesempatan mencicipi berbagai makanan khas India seperti ladoo, samoosa, dan pani puri. Rasanya sangat enak, terutama ladoo yang langsung mencuri perhatian kami karena sering muncul dalam film India dan identik dengan Dewa Ganesha.
Akhirnya kami membeli beberapa makanan untuk dinikmati kembali di hotel. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan sambil memesan kendaraan online. Di area luar Batu Caves ternyata masih banyak kuil lain yang menarik untuk dilihat. Kami juga sempat melihat patung Dewa Hanoman yang tingginya tidak kalah megah dibanding patung Dewa Murugan.
Sampai di sinilah cerita perjalanan liburan kami sekeluarga saat mengunjungi wisata religi Batu Caves di Malaysia. Pengalaman ini menjadi salah satu momen yang sangat berkesan karena kami bisa menikmati keindahan alam, budaya, hingga tradisi keagamaan dalam satu destinasi wisata.
---





