25 Babi di Buleleng Mati Akibat ASF dalam Seminggu, Tanpa Gejala, Mati Mendadak
Ida Ayu Suryantini Putri May 28, 2026 05:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Kasus kematian babi akibat African Swine Fever (ASF) ditemukan juga di Kabupaten Buleleng, tepatnya di wilayah Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Berdasakan catatan dinas, total ada 25 babi yang mati dalam sepekan terakhir. 

Babi tersebut usianya sekitar 6 bulan, dengan bobot yang cukup besar.

Kondisi ini tentunya menyebabkan kerugian bagi para peternak. Apalagi virus ini kebanyakan menyerang peternak rumahan. 

Baca juga: Hasil Uji Sampel Babi di Gianyar Keluar: 2 Positif ASF, Distan Minta Peternakan Perketat Biosekuriti

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan babi yang terserang ASF umumnya mati mendadak tanpa gejala yang mudah dikenali. Bahkan, kondisi ternak sebelumnya masih terlihat sehat.

"Kalau ngomongin ciri-ciri, hari ini kondisinya bagus sekali, sebentar kemudian langsung pleg (mati)," katanya, Kamis (28/5/2026).

Kasus tersebut telah dipastikan sebagai ASF. Penyakit ini disebut sangat sulit dikendalikan karena hingga saat ini belum tersedia obat maupun antivirus yang efektif.

"Sampai hari ini belum ada obat untuk ASF, bahkan antivirusnya pun tidak ada," ucapnya.

Baca juga: Puluhan Ekor Babi Mati Mendadak Jelang Panen, Virus ASF Diduga Muncul Lagi di Canggu 

Melandrat menjelaskan penyebaran ASF sangat dipengaruhi faktor sanitasi dan lalu lintas manusia di sekitar kandang.

Peternak diminta mengurangi aktivitas saling mengunjungi kandang karena virus dapat menyebar melalui kontak tidak langsung.

"Kalau ada satu peternak yang babinya mati mendadak lalu ditengok tetangganya, maka virus ini akan menyebar terus," jelasnya.

Selain itu, penggunaan pakan juga diminta menjadi perhatian. DPKPP mengimbau peternak memanfaatkan pakan lokal. Sebab virus ini juga menyebar melalui pakan. 

Baca juga: ASF Muncul Lagi, 60 Ekor Babi Milik Warga di Canggu Mati Mendadak Jelang Panen

"Kami mengimbau peternak segera mengubur atau membakar bangkai babi yang mati akibat ASF agar virus tidak menyebar ke kandang lain," ujarnya. 

Menurut Melandrat, peternak kecil/rumahan sangat rentan terserang virus ASF. Ini karena penerapan biosekuriti yang masih rendah.

Sebaliknya, peternak skala besar relatif lebih aman karena menerapkan pengawasan ketat terhadap keluar masuk orang ke area kandang. 

"Kalau peternak yang besar itu kawalannya ketat sekali. Selain selektif, orang yang masuk kandang harus menggunakan pakaiannya khusus. Kalau peternak rumahan ini kan saling tengok," katanya.

Untuk menekan penyebaran kasus, DPKPP Buleleng kini menggencarkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) melalui dokter hewan dan petugas Puskeswan di tingkat kecamatan. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.