TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Kasus kematian babi akibat African Swine Fever (ASF) ditemukan juga di Kabupaten Buleleng, tepatnya di wilayah Kecamatan Tejakula. Berdasakan catatan dinas, total ada 25 babi yang mati dalam sepekan terakhir.
Babi tersebut usianya sekitar 6 bulan, dengan bobot yang cukup besar. Kondisi ini tentunya menyebabkan kerugian bagi para peternak. Apalagi virus ini kebanyakan menyerang peternak rumahan.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan babi yang terserang ASF umumnya mati mendadak tanpa gejala yang mudah dikenali. Bahkan, kondisi ternak sebelumnya masih terlihat sehat.
Baca juga: Warga Soroti Pengadaan Mobil Dinas Dispar Klungkung, Disebut untuk Operasional di Nusa Penida
"Kalau mengomongin ciri-ciri, hari ini kondisinya bagus sekali, sebentar kemudian langsung pleg (mati)," katanya, Kamis (28/5/2026).
Kasus tersebut telah dipastikan sebagai ASF. Penyakit ini disebut sangat sulit dikendalikan karena hingga saat ini belum tersedia obat maupun antivirus yang efektif. "Sampai hari ini belum ada obat untuk ASF, bahkan antivirusnya pun tidak ada," ucapnya.
Baca juga: Disdikpora Tetapkan Jalur Domisili Masuk SMP di Jembrana Minimal 40 Persen
Melandrat menjelaskan penyebaran ASF sangat dipengaruhi faktor sanitasi dan lalu lintas manusia di sekitar kandang. Peternak diminta mengurangi aktivitas saling mengunjungi kandang karena virus dapat menyebar melalui kontak tidak langsung.
"Kalau ada satu peternak yang babinya mati mendadak lalu ditengok tetangganya, maka virus ini akan menyebar terus," jelasnya.
Selain itu, penggunaan pakan juga diminta menjadi perhatian. DPKPP mengimbau peternak memanfaatkan pakan lokal. Sebab virus ini juga menyebar melalui pakan.
"Kami mengimbau peternak segera mengubur atau membakar bangkai babi yang mati akibat ASF agar virus tidak menyebar ke kandang lain," ujarnya.
Menurut Melandrat, peternak kecil/rumahan sangat rentan terserang virus ASF. Ini karena penerapan biosekuriti yang masih rendah. Sebaliknya, peternak skala besar relatif lebih aman karena menerapkan pengawasan ketat terhadap keluar masuk orang ke area kandang.
"Kalau peternak yang besar itu kawalannya ketat sekali. Selain selektif, orang yang masuk kandang harus menggunakan pakaiannya khusus. Kalau peternak rumahan ini kan saling tengok," katanya.
Untuk menekan penyebaran kasus, DPKPP Buleleng kini menggencarkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) melalui dokter hewan dan petugas Puskeswan di tingkat kecamatan. (mer)